Sang Pengiring Pengantin

Sang Pengiring Pengantin
Tiga Puluh Empat


__ADS_3

tip-nya please!


"Eh, Juna gila! kamu pikir aku tukang parkir apa, sampai kamu ninggalin aku berjam-jam jagain motor kamu di sini" semprot Widya saat Juna sampai di depan gerbang tempat motornya di parkir.


Dengan segera, gadis itu menghampiri Juna yang berjalan mendekat ke arahnya. Dengan sekuat tenaga, Widya menjambak rambut Juna, hingga membuat cowok itu berteriak kesakitan.


"Adu, duh Wid. Aduh! lepasin, sakit banget Wid" Juna menahan tangan Widya yang berada di rambutnya. Berharap agar cekalannya mamou membuat tangan Widya sedikit kendor dari jambakannya.


"Ni, nih, nih! rasain. Tega amat jadi cowok, ninggalin aku berjam-jam depan gerbang sini" omelnya, bahkan ia semakin mengencangkan genggamannya di rambut Juna.


"Iya, iya, sorry deh Wid. Aduh, lepas dulu! sakit banget ini!" ringis Juna.


Juna akhirnya bisa bernafas legah karena Widya sudah melepaskan tangannya. Ia mendengus "bar-bar amat sih Wid jadi cewek. lagian aku ninggalin kamu bahkan nggak sampai dua jam kali, pake bilang berjam-jam segala!" gerutunya.


"Sekali lagi kamu bicara Jun, tangan aku akan lembali melayang ke kepala kamu!" ancam Widya. Ia memandang Juna sinis, bukannya minta maaf Juna malah membela diri dan seolah-olah berkata kalau Widya itu berlebihan.


"iya, iya! Oke, aku minta maaf. Udah, yah! Sekarang kita langsung pulang, entar keburu sore sampai rumah. Kan nantinya masih singgah di rumah Agung" ujar Juna sambil menghidupkan mesin motornya.


"Yang bikin kita lambat siapa?" sindir Widya, membuat Juna hanya mampu menghela nafasnya sabar.


Sesampainya di rumah Agung, Juna dan Widya langsung mengetuk pintu rumah sahabat mereka itu. Bi Lia--Asisten Rumah Tangga di rumah Agung--membukakan pintu, dan langsung mempersilahkan mereka masuk.


Juna dan Widya langsung mengikuti arahan Bi Lia, yang mengatakan untuk langsung naik ke lantai dua menuju kamar Agung. Sesampainya di depan pintu yang sedikit terbuka, mereka dapat mendengar suara candaan yang berasal dari dalam sana.


"Permisi!" sapa Juna saat memasuki kamar Agung, dan mendorong pintu tersebut menjadi terbuka lebar.

__ADS_1


"Eh, Juna? mari masuk, Nak!" rupanya orang tua cowok itu sudah datang, karena Juna menemukan Ibu Agung sudah berada di sana, tepatnya di kamar milik Agung.


"Iya tante" ucapnya sopan, ia melangkah memasuki kamar sahabatnya itu, dengan Widya yang tetap setia mengekor di belakangnya. Juna kemudian menyalimi tangan Ibunya Agung.


Ibu Agung yang melihat seorang gadis di belakang Juna, mengerutkan alis bingung. "Eh, ada temannya Agung sama Juna juga? sini masuk sayang! nggak usah malu-malu gitu".


"ya jelas malu-malulah tante! orang ketemu calon mertua" celetuk Juna. Widya melotot, kalau saja di sini tak ada Ibunya Agung mungkin ia akan benar-benar membuat rambut Juna rontok semuanya saat ini juga. Sedangkan Agung, cowok itu hanya menyengir mendengar celetukan jahil Juna.


"Hahahaha... memangnya kamu mau sama anak tante satu ini?" tanya Ibu Agung. Widya hanya menanggapi dengan senyum paksa.


"ya sudah, kalian ngobrol-ngobrol dulu. tante tinggal sebentar ke bawah dulu, mau bikin minum untuk kalian" pamitnya, yang mendapat anggukan dari ketiganya.


Agung mendengus melihat plastik yang ditenteng Juna. "Ya ampun Jun, kamu sama Widya mampir ke mana dulu? sampenya lama banget sih! Udah tahu temannya kelaparan"


Juna meringis mendengar omelan Agung. "maaf deh Gung, habis tadi ketemu Sisi! jadi yah, lama jadinya!" jawabnya jujur.


Juna mengangguk, sebagai jawaban. "hoki dong kamu. Berarti kamu harus berterima kasih ke aku, karena udah nyuruh kamu mampir ke sana" ujarnya sombong. Juna mendengus mendengarnya.


"Sisi? siapa? mantan Juna yah? atau pacar?" Keduanya tersentak karena menyadari di ruangan sini juga ada orang lain selain mereka.


"eh, astaga! sampai nggak sadar ada calon istri" ucap Agung, saat mendengar pertanyaan beruntun dari Widya.


Widya berdecak kesal. "dalam keadaan sakit aja masih genit Gung!" cibirnya membuat Juna dan Agung tertawa.


"udah jawab pertanyaan aku, Sisi yang buat si Juna sampai tega lupain aku yang nunggu di depan gerbang itu sebenarnya siapa?"

__ADS_1


Agung menatap Juna bingung. "benaran Jun, kamu lupain Widya gara-gara asik sama Sisi? wah, parah kamu Jun! di depan gerbang lagi. kamu pikir calon istri aku satpam?"


"iya. mau gimana lagi, orang aku benaran lupa waktu pas ketemu Sisi tadi, saking senangnya" ujar Juna membela diri.


"Sisi itu cinta matinya si Juna. Baru kelas satu SMP dia" Widya menatap Juna ngeri saat mendengar jawaban Agung akan pertanyaannya tadi.


"gila kamu Jun!" umpatnya. "kamu pedofil yah?" tuduhnya, membuat Agung terbahak.


"ya enggaklah!" elaknya Juna tak terima. Enak aja dia dikatain pedofil.


"terus?" tanya Widya penasaran.


"ya, namanya juga cinta. Aku benaran jatuh cinta tau sama dia, cinta kan nggak mandang umur. lagian dia cuma beda empat tahunan sama kita" ujarnya.


"Benar apa yang dikatakan Juna. Cinta itu nggak kenal usia. Tante sama Ayahnya Agung saja beda sepuluh tahun umurnya" ketiga anak remaja tersebut menoleh ke arah pintu. Di mana Ibu Agung sudah melangkah mendekat ke arah mereka dengan membawa nampan yang berisi dua minuman, dan mangkuk kosong. Karena Agung tadi sudah mengatakan padanya kalau Juna akan membawakannya makanan, jadi ia mengambil mangkuk kosong sebagai tempat memindahkan makanan tersebut dari plastik.


Juna dan Widya terkejut mendengar fakta itu. Sedangkan Agung mendengus. Pasti Mamanya itu akan menceritakan kisah cintanya dan suaminya--yang menurut Agung terdengar sanagat alay-- ke teman-teman Agung.


"Benaran tante?" tanya Juna tak percaya.


"iya. Ayahnya Agung waktu itu sudah dua puluh delapan tahun, dia datang ke rumah buat lamar tante yang baru berusia delapan belas tahun dan kebetulan baru saja lulus SMA" ujarnya memulai.


Widya dan Agung mendengarkan dengan setia cerita milik ibu Agung tersebut. "Awalnya tante nolak, orang tante hanya tahu kalau Ayahnya Agung itu rekan bisnis Papanya tante kan. Tapi akhirnya tante luluh juga karena Ayahnya Agung benar-benar serius dan mau memperjuangkan tante sampai tante percaya kalau dia mencintai tante" Kedua orang tersebut akhirnya larut dalam cerita kisah cinta Ayah dan Ibunya Agung. Sedangkan Agung sendiri, ia lebih memilih menikmati makanannya yang dibawakan Juna tadi, ketimbang mendengarkan Ibunya bercerita tentang kisah cintanya yang sudah sangat sering ia dengarkan.


Kangen Sisi? doain aja semoga Sisi cepat nongol nantinya.

__ADS_1


like, vote dan komentar yang banyak yah, biar aku semangat up-nya.


__ADS_2