Sang Pengiring Pengantin

Sang Pengiring Pengantin
Tujuh Puluh Tiga


__ADS_3

Sepulang dari rumah Tania, seny Ningsih tak pernah pudar dari bibirnya, dan tentu saja itu juga tertular pada Juna.


"Nggak pegal apa Dek, tuh bibir dari tadi melengkung terus?" Sindir Juna bercanda.


Ningsih menoleh dan menggeleng. "Enggak! Aku itu bahagia banget, tau enggak sih kak. Bahagiaaaaa banget!!"


Emang sebelum ini nggak bahagia?" Tanya Juna sedikit bercanda. Ningsih menggeleng. "Bahagia juga! Cuma kan sebelumnya kayak masih ada yang ngeganjal gitu. Tapi rasanya sekarang udah bebas banget tau nggak Kak! Rasanya plong, jadi bahagianya enggak setengah-setengah lagi" Juna mengangguk setuju. Ia ikut senang, setidaknya tak ada lagi yang ia rahasiakan tentang masa lalunya dengan Tania. Tapi masih ada satu hal yang masih mengganjal di hati Juna. Yaitu masalah keguguran Ningsih. Ia bingung bagaimana cara mengatakannya nanti pada wanita itu.


Juna menepis rasa tak nyaman di hatinya itu. Saat ini Ningsih terlihat sangat bahagia, jadi seharusnya ia memperlihatkan hal yang sama juga bukan?


"Ya udah, mumpung lagi bahagia gini, gimana kalau kita ngerayainnya dengan makan di luar aja?" Usul Juna.


Ningsih mengangguk antusias. "Oke! Tapi Sisi yang pilih tempatnya, gimana?" Tawar Ningsih.


Juna mengangkat bahunya, menamdakan tak masalah. "Emang mau makan di mana?" Tanya Juna.


"Di kafe dekat kampus aku! Sekalian aku mau ngenalin Kakak sama seseorang" ujar Ningsih semangat.


"Siapa?"


"Entar juga Kakak bakalan tahu sendiri. Sekarang lebih baik kita mandi dan siap-siap" Ningsih menarik lengan Juna menaiki anak tangga menuju kamar mereka.

__ADS_1


Juna memperhatikan Ningsih yang sedari tadi mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru kafe, seperti mencari keberadaan seseorang. Juna sudah berapa kali bertanya, namun tak dihiraukan oleh istri tercintanya itu.


"Dek, nyari siapa sih sebenarnya?" Tanya Juna entah yang sudah keberapa kalinya.


"Udah Sisi bilang, orang yang mau Sisi kenalin ke Kakak! Jadi Kakak diam aja, oke? Nggak usah banyak tanya!" Juna menghela nafasnya pelan dan memilih mengalah.


"Kita pesan makanan aja yah? Perut Kakak udah lapar" ujar Juna. Mereka memang belum memesan apapun, Ningsih beralasan mereka akan memesan setelah orang yang dicarinya ketemu.


"Ya udah, mungkin dia emang lagi nggak ada di sini" Ningsih berujar sendu. Semangatnya yang tadi entah sudah lenyap ke mana.


Juna mengangkat tangannya memanggil pelayan. Sebelum Juna menyebutkan pesanan, Ningsih sudah mengeluarkan kalimat tanya pada si pelayan.


"Mbak, Bos kalian ke mana?" Tanya Ningsih pada Pekalan itu.


Ningsih belum sempat menjawab, namun Pelayan tersebut kembali menyela "Pak Bos lagi di atas Mbak. Apa perlu saya panggilkan?" Ujarnya sopan. Ia melirik Juna yang sedari tadi memperhatikan mereka dengan heran. Dalam hati si Pelayan, ia bertanya-tanya ada hubungan apa sebenarnya gadis ini dengan bos mereka. Kalau mereka pacaran,  Terus cowok di sampingnya ini, siapa?


Ningsih mengangguk. "Iya. Panggilin yah!"


"Oke! Terus pesanannya?"


Juna dan Ningsih menyebutkan beberapa pesanan mereka, setelahnya Pelayan itu berpamitan pergi, tak lupa ia mengucapkan kalimat untuk menunggu sebentar.

__ADS_1


"Kamu kenal sama pemilik kafe ini?" Tanya Juna. Ia sedari tadi diam dengan rasa penasaran yang sudah memuncak.


"Iya. Dan dia yang akan Sisi kenalin ke Kakak!" Jawab Ningsih.


"Cewek apa cowok?" Juna memicingkan matanya ke arah sang istri. Ningsih mendengus pelan, kemudian tertawa.


"Cowok, emang kenapa?" Ningsih sengaja memanas-manasi, ia penasaran dengan respon Juna.


"Kalau gitu kita pulang! Cari tempat makan yang lain aja" Juna sudag berniat berdiri,namun tertahan karena Ningsih yang tiba-tiba memegang tangannya dan memandangnya dengan penuh senyuman.


"Dia kenalan lama Sisi. Lagian, Sisi tahu Kakak pasti kenal dia meskipun hanya namanya saja!" Juna hanya diam, tak mereapon ucapan Ningsih.


"Kak, percaya sama Ningsih. Seberapa ganteng, atau seberapa baikpun lelaki di luaran sana, bagi Sisi Kakak tetap yang paling komplit"


"Kakak itu suami yang nyaris sempurna bagi Ningsih. Kakak tampan, mapan, baik, pengertian, setia, dan masih banyak kebaikan di diri Kakak yang nggak bisa Sisi ungkapin semuanya. Jadi, mana mungkin Sisi akan berani melirik atau tergoda dengan cowok lain. Hanya orang bodoh yang memilih meninggalkan permata hanya untuk seonggok batu jalanan"


Juna tersenyum penuh haru. Tak ia sangka istrinya bisa mengeluarkan kata-kata semanis itu. Ia balik menggenggam tangan sang istri, yang entah sejaj kapan bermulut manis ini.


"Makasih! Makasih udah nerima Kakak. Makasih udah membalas cinta Kakak! I love You!"


"Love You too"

__ADS_1


Lik, vote dan komentarnya jangan lupa😊


__ADS_2