
Juna melangkah dengan senyum di wajahnya ke ruang meeting. Tadi saat Widya dan Agung pulang, ia juga memilih pulang ke Rumahnya dan menyuruh sekertarisnya untuk menggantikannya saat meeting.
Juna sebenarnya ingin menjemput Ningsih, namun ia sadar pasti Ningsih masih marah masalah semalam. Namun ia benar-benar terkejut saat tau Ningsih diantar Noval, sepupunya. Cemburu? jangan ditanya. memangnya ada laki-laki yang nggak cemburu melihat istrinya diantar oleh cowok lain, bahkan merona saat digombali? jawabannya nggak ada. Terlebih lagi, Juna yakin Ningsih belum jujur pada Noval tentang hubungan mereka.
Namun seperti yang Juna katakan pada Ningsih tadi, ia sama sekali nggak bisa marah dengan gadis itu. Jadinya, ia berusaha menghapus bayangan pipi merona Ningsih pada Noval tadi, berganti dengan merona karena ulahnya. Dan sepertinya berhasil.
Juna tetap tersenyum saat sampai di ruang Meeting membuat orang-orang yang berada di dalam memandangnya aneh, terlebih melihat Pipi memar Juna. Setahu mereka Juna bukanlah pria yang suka berkelahi, yah...karena memang tidak ada yang tahu kalau Juna jago bela diri.
"Siang semuanya! Maaf saya sedikit terlambat" ujarnya menyapa semua karyawannya yang ada di dalam ruangan. Karena itu memang hanya Meeting rutin yang selalu ia lakukan di perusahaannya tiap bulan. Hanya sekedar untuk mengecek semua tugas Karyawannya apakah mereka sudah melakukan tugasnya dengan baik atau tidak, juga menanyakan mereka apa ada keluhan atau hal lainnya seputar pekerjaan mereka.
"Kenapa?" tanya Juna bingung menyadari tatapan aneh dari Karyawannya. Juna memang akrab dengan karyawan kantornya, baginya tidak menciptakan suasana canggung bisa membuat Karyawannya rilex dalam bekerja.
"Ah, tidak apa-apa Pak. Kami hanya heran saja, bapak tadi berpamitan dengan wajah lusuh,tapi pas balik tau-tau senyum Bapak udah lebar aja!" ujar Tino, sekretarisnya dengan berani.
"Ah, itu. Suatu saat kamu akan merasakannya Tino jika kamu sudah berumah tangga" jawabnya jujur namun sedikit menyiratkan sindiran untuk Tino. Tino memang belum berumah tangga, padahal umurnya sudah tiga puluh satu tahun.
Tino hanya memaksakan senyumnya, karena ia tahu Juna sedang menyindirnya. Mereka memang saling mengenal sejak lama. Tepatnya Tino itu adalah tetangga Juna, dan bukan sekali dua kali Juna mendengar curhatan ibunya Tino tentang anaknya yang belum punya keinginan menikah itu.
__ADS_1
"Ya sudah, kita mulai meetingnya sekarang!" lalu mereka mulai mempresentasikan kinerja mereka masing-masing di bulan ini.
Juna melirik jam tangan yang melingkar di tangan kirinya saat keluar dari ruangan tersebut. Sudah hampir setengah enam, ternyata perkiraannya pada Ningsih tadi meleset karena ada sedikit kendala dengan kinerja salah satu karyawannya, untung saja masih bisa dimakluminya karena masih bisa diperbaiki.
Dengan langkah tergesa-gesa, Juna menuju Mobilnya dan mulai melajukannya membelah jalan raya yang sangat ramai di sore seperti ini.
"Assalaamu'alaikum" ucapnya saat memasuki rumah. "Wa'alaikumsalaam" terdengar jawaban dari dalam, Juna yakin istrinya itu sekarang sedang berada di dapur, memasak untuk makan malam nanti.
Juna lebih memilih menaiki anak tangga menuju kamarnya untuk mengganti pakaian. Sebenarnya ia ingin menghampiri Ningsih, namun ia yakin gadis itu akan mengusirnya dari dapur dan menyuruhnya mandi dan berganti pakaian.
Rahang Juna seketika mengetat saat melihat nama yang tertera di layar ponsel tersebut. Juna memilih membiarkan ponsel tersebut tanpa mengangkat panggilannya. Namun beberapa detik setelah deringan ponsel tersebut diam, sebuah pesan masuk membuat tingkat kekepoan Juna mendadak keluar.
"untung nggak dikunci" gumamnya saat berhasil membuka pesan tersebut.
Kak Nov
Kenapa nggak ngangkat panggilan Kakak?
__ADS_1
Juna mendengus melihat pesan tersebut. Ia bermaksud meletakkan ponsel tersebut kembali ke nakas, namun terhenti karena satu lagi pesan yang masuk masih dari orang yang sama.
Kak Nov
Sayang? kok nggak balas?
Kakak ada salah ya? Telepon nggak diangkat, pesan juga nggak dibalas?
Juna sekarang benar-benar kesal. bisa-bisanya Noval memanggil istrinya dengan sebutan 'sayang'. Akhirnya ia membalas pesan tersebut, ia yakin kali ini pasti Noval akan seperti orang kebakaran jenggot.
Nggak usah ganggu Ningsih.
Ningsih sedang kencan sama pacarnya sekarang, hpnya dititipin ke Abang.
~Juna
Juna tertawa dalam hati membayangkan bagaimana reaksi Noval. Lalu tingkah jahilnya semakin menjadi dengan menon-aktifkan ponsel milik Ningsih. Setelahnya, ia men-charg ponsel tersebut agar kalau Ningsih bingung kenapa ponselnya mati Juna bisa beralasan kalau ponsel tersebut dayanya habis dan Juna berbaik hati mencharg-nya. Juna cerdik nggak sih? atau.....licik?
__ADS_1