
Agung dan Widya sudah masuk ke kelas karena bel masuk sebentar lagi berbunyi, namun keduanya sama sekali tak menemukan keberadaan Juna. Padahal, cowok itu tadi tidak kembali ke Kantin, membuat keduanya heran sekaligus hawatir.
Agung langsung memberondongi Juna dengan berbagai macam pertanyaan saat cowok itu mendudukkan diri di sampingnya.
"dari mana aja sih Jun? ditungguin malah nggak balik-balik! pas kita sampai di Kelas kamu juga nggak ada, kemana sih?" tanya Agung bertubi-tibu.
Juna meringis pelan,merasa bersalah. Pasti kedua sahabatnya itu tadi menunggunya di Kantin, sayangnya ia menghabiskan istirahatnya hanya mengobrol dengan Tania yang sekarang berstatus sebagai pacarnya, garis miring pacar pura-puranya.
"Sorry Gung, Wid! Tadi pas balik ke Kelas ada sesuatu yang buat aku milih nggak kembali ke Kantin" jawabnya.
"apa?" tanya Agung penasaran.
"nanti aja deh jelasinnya" Agung hanya mengangguk, meskipun ia merasa penasaran setengah mati. Selang tak berapa lama, Guru mata pelajaran sudah datang, membuat Agung berusaha fokus karena ia sedikit terganggu dengan penasaran masalah apa yang di maksud Juna.
"Bareng, Wid?" Juna mendengar Agung bertanya pada Widya, yang mendapat anggukan dari perempuan itu.
"Kita duluan yah, Jun!" pamit keduanya.
"oke" katanya sambil mengacungkan jempol kanannya. Juna beranjak dari kelas setelah memastikan tak ada barangnya yang ketinggalan, meninggalkan beberapa temannya yang masih di dalam karena mengerjakan tugas piket mereka.
__ADS_1
"JUNA!!" suara teriakan itu membuat Juna menghentikan langkahnya menuju parkiran. Ia menoleh dan mendapati Tania sedang mempercepat langkah menyusulnya, ternyata gadis itu yang memanggil Juna.
"Jun, aduh! ada yang mau aku omongin" katanya setengah terengah karena ia sedikit berlari mengejar Juna tadi.
Juna mengerutkan alisnya bingung, "apa?"
"Gimana mulai hari minggu nanti kamu jemput aku ke rumah? setelah itu kita mampir ke rumah Sisi dan ngajakin dia jalan-jalan. Aku yakin dia bakal senang" Juna berpikir sebentar, lalu mengangguk. "oke!" katanya.
"kamu hari ini jemput Sisi lagi?" tanya Juna. Karena seperti yang ia tahu dari Tania tadi pagi, gadis itu hampir setiap hari menjemput Sisi.
"iya" jawab Tania.
"ya udah, kita barengan aja! kamu bawa motornya di depan, nanti aku nyusul di belakang. Aku juga pengen ketemu Sisi" ujar Juna bersemangat. Tania tertawa kecil melihat keantusiasan Juna, akhirnya ia mengangguk memperbolehkan Juna ikut bersamanya.
Melihat Tania datang, gadis itu menghampiri motor sepupunya itu dan terkejut melihat pengendara motor satunya yang berhenti tepat di samping Tania.
"Loh, Kakak bareng Kak Juna?" Tanya Sisi. Keduanya mengangguk sebagai jawaban. Tanpa mengucapkan apapun lagi, gadis itu naik ke boncengan Tania.
Tak terasa, hari Minggu telah datang. Seperti janji Tania dan Juna sebelumnya, mereka akan pergi bersama mengajak Sisi jalan-jalan ke manapun gadis itu inginkan. Juna beberapa kali berkaca, hanya untuk memastikan apakah tampilannya sudah bagus atau belum. Ia benar-benar ingin tampil dengan wajah tampan hari ini, karena hari ini ia akan pergi dengan gadis yang dicintainya. Ya....meskipun Sisi nggak sadar akan hal itu sih! Terkadang Juna miris sendiri akan kisah cintanya.
__ADS_1
Juna langsung melajukan kendaraannya menuju rumah Sisi, karena semalam Tania mengabarinya kalau ia menginap di sana. Tania dan Juna memang sudah saling bertukar nomor sekedar untuk saling mengabari jika mereka jalan-jalan nanti, atu sekedar membahas tentang Sisi. Dan hari ini, Juna sengaja membawa Mobilnya. Lagipula, kemungkinan mereka tak akan pergi terlalu jauh. Juna berdoa, semoga tak ada Razia kendaraan, agar dirinya tak kena tilang nanti.
"Assalaamu'alaikum" salamnya saat sampai. Tania memang sudah mengirimkan alamat rumah Sisi padanya, sehingga ia tek perlu repot-repot bertanya pada orang lain lagi karena alamat yang diberikan Tania benar-benar jelas.
"Wa'alaikumsalaam" jawab seorang wanita yang mungkin seumuran Ibu Juna atau mungkin dibawahnya.
Wanita tersebut menatap Juna bingung "Maaf tante, mengganggu! Saya ada perlu sama Tania" kata Juna. Wanita itu tersenyum "oooh, mari masuk Nak!" ajaknya.
"silahkan duduk! Tante panggilin Tania dulu yah!" ujarnya mempersilahkan Juna duduk di Sofa ruang keluarga. Juna mengangguk sopan.
Selang tak berapa lama, wanita itu kembali dengan diikuti dua orang gadis yang berbeda usia, siapa lagi kalau bukan Tania dan Sisi.
"Kalian mau jalan-jalan yah?" tanya wanita itu. Juna yakin kalau dia adalah Ibunya Sisi.
"Iya, tante. Saya mau ngajak Tania sama Sisi jalan-jalan" jawab Juna. wanita itu mengangguk.
"Oh, yah! kamu pacarnya Tania?" tanya Mama Sisi, membuat Juna menelan salivanya gugup. dengan ragu akhirnya ia menjawab "I..iyya Tante" katanya dengan senyum dipaksakan. Ia melirik ke arah Tania yang tersenyum, lalu beralih pada Sisi yang nampak terkejut lalu setelahnya memasang ekspresi datar.
Dan semenjak saat itu, Juna merasa Sisi lebih banyak diam dan mulai bersikap judes padanya. Bahkan saat jalan-jalan, gadis itu akan tertawa bersama Tania namun sinis jika pada Juna. Sehingga untuk membuat gadis itu sering berbicara dengannya, terpaksa Juna harus bertingkah mengganggunya. Bahkan mereka sering mendebatkan hal-hal kecil dengan tak ada seorangpun yang mau mengalah di antara mereka.
__ADS_1
Namun Juna bersyukur, karena Sisi tetap mau di ajak pergi bersamanya dan Tania.
like, vote, dan komen yang banyak, oke!!