
Like, vote dan komentarnya jangan lupa!
Maaf jika menemukan Typo🙏🙏
"Aku bingung mau bilang apa ke kamu! Aku cukup terkejut mendengar kamu bilang kalau kamu ngganggap aku malaikat di hidup kamu! Tapi...." Ningsih menggantungkan ucapannya. Saat ini, ia tengah bersama Ardi. Setelah penjelasan Ardi dan acara tangis-tangisan, Ningsih meminta waktu pada semua orang agar memberinya dan Ardi waktu untuk berbicara. Karena, walau bagaimanapun Ardi melakukan semuanya hanya demi Ningsih. Meskipun Ningsih tak tahu sama sekali, tapi Ningsih merasa sedikit tak enak.
"Semua yang kamu lakuin, menurut aku itu udah keterlaluan banget. Kamu bukan cuma ngerusak masa depan satu orang aja, tapi empat sekaligus. Bahkan kamu huga ngancurin banyak harapan!"
Ardi menunduk diam. Dia sadar akan hal itu, tapi demi melindungi dan membuat Ningsih bahagia, Ardi rela bersikap jahat.
"Aku minta maaf!" hanya itu kata yang mampu dikeluarkan Ardi.
Ningsih menghela nafas pelan, kemudian mengangguk! "aku maafin kamu, tapi kamu janji nggak bakalan lagi ngelakuin hal kayak gini! Takdir sudah ditentukan, jadi kamu nggak perlu susah-susah untuk berusaha merubahnya! Aku senang kamu melindungi aku, tapi aku nggak mau kamu ngelakuin hal jahat kayak gitu"
Ardi memgangguk, dan mengulum senyum. "iya! aku janji!" ujarnya senang. Setidaknya, Ningsih tidak marah dan berakhir membencinya walau ia tahu sikapnya sangat keterlaluan.
.....................................................
"kamu ngomongin apa aja tadi sama Ardi?" tanya Juna penasaran. Mereka saat ini tengah menikmati waktu menonton berdua di rumah. Keduanya pamit pulang pada keluarga mereka setelah Ningsih dan Ardi kembali dari kantin.
Ningsih menyandarkan kepalanya di dada Juna. "kenapa? Kakak cemburu?" tanya Ningsih menggoda Juna.
Juna mendengus. "kamu tahu sendiri jawabannya!" jawabnya kesal, membuat tawa Ningsih pecah.
"ummm....lucu banget sih, suami Sisi ini kalau lagi cemburu!" Ningsih menjawil hidung Juna sambil tertawa.
"Sisi cuma ngasih tahu Ardi aja. Walau dia ngelakuin hal kayak gitu demi melindungi seseorang, tetap aja yang dilakuinnya adalah kejahatan. Sisi sebisa mungkin ngasih dia pengertian, agar dia nggak salah paham dan tersinggung. Cuma itu sih!" Ningsih menjelaskan dengam singkat apa saja yang ia bicarakan dengan Ardi tadi.
"Oh iya Kak! Kabar Nenek Ija gimana yah sekarang? Apa dia masih jualan di SD CEMPAKA?" Ningsih tiba-tiba teringat dengan Nenek Ija. Sudah lama ia tak datang menemui Nenek itu. Terakhir kalau nggak salah saat ia kelas Satu SMP. Bukannya tak ingin mengunjunginya, hanya saja Ningsih selalu diantar jemput Tania dan Juna. Ningsih merasa tak enak jika meminta mereka mengantarkannya ke sana dulu. Lagipula, waktu pulang anak SD dan anak SMP jelas berbeda. Kalau Ningsih ke sana sepulang sekolah, yang ada Nenek ija sudah pulang.
"Kamu pengen ketemu sama Nenek Ija?" tanya Juna. Ningsih mengangguk semangat.
"Ya udah, besok kita ke sana. Besok kamu ada Mata Kuliah nggak?"
Ningsih terdiam sebentar "ada sih, cuma tadi di chat Ketua kelasnya ngabarin kalau besok Dosennya nggak masuk. Jadi Sisi besok free" jelasnya.
"oke, berarti kita ke sana besok!" putis Juna.
__ADS_1
"Emang Kakak nggak kerja?" tanya Ningsih bingung.
"Enggak! Besok Kakak serahin semuanya ke Sekertaris Kakak dulu, lagipula nggal ada Meeting apapun kok besok!" Ningsih bersorak senang. Ia benar-benar tak sabar untuk bertemu Nenek Ija.
.....................................................
Seperti janji Juna semalam, saat ini mereka sedang berada di dalan Mobil menuju SD CEMPAKA. Ningsih tak bisa diam sedari tadi, ia benar-benar rindu dengan Nenek Ija. Apalagi adik-adiknya, pasti sekarang sudah pada besar. Mengingat Wulan--cucu angkat nenek Ija--umurnya cuma dua tahun di bawah Ningsih. Ningsih yakin Wulan sudah tumbuh menjadi gadis yang cantik dan baik hati.
Mobil yang mereka tumpangi akhirnya sampai di depan Gerbang SD CEMPAKA. Banyak perubahan terlihat di sana. Pohon yang dulu ada di depan gerbang itu, yang sering menjadi tempat berteduh Nenek Ija saat berjualan sudah tak ada. Bangku yang berada di bawah pohon ituoun sudah lenyap entah ke mana. Jadi, Nenek Ija berjualan di mana? pikir Ningsih.
Juna memperhatikan Ningsih yang memandang ke sekitar. Ia mengerti, mungkin gadis itu sedang mencari keberadaan Nenek Ija. Juna memarkirkan Mobilnya di pinggir jalan, kemudian mengajak Ningsih keluar.
"Ayo!" Ajaknya sambil menarik tangan Ningsih.
Ningsih menurut, ia heran mengapa Juna menuju gerbang dan meminta Satpam yang berjaga untuk membukakan pintu.
"Permisi Pak! bisa tolong bukakakn pintunya?" tanya Juna.
Satpam tersebut mengangguk. "Ada yang bisa saya bantu, Mas?" Satpam itu bertanya sambil membuka pintu gerbang.
Ningsih terkejut, bagaimana bisa Juna mengetahui nama Kepala Sekolahnya dulu.
"Waah! Pak Nazir sudah pensiun dua tahun lalu Mas. Kepala Sekolahnya yang sekarang Bu Wiwin namanya" jelas si Satpam.
"Bu Wiwin? Kalau begitu, apa saya bisa bertemu dia?" tanya Juna lagi.
Satpam tersebut mengangguk, "Bisa. Ya sudah, mari saya antarkan!"
Ningsih dan Juna melangkah mengikuti Satpam itu. Kemudian mereka menuju sebuah ruangan, yang di depan pintunya tertulis 'RUANG KEPALA SEKOLAH'. Si Satpam mengetuk pintu tersebut, kemudian terdengar suara mempersilahkan masuk.
"Permisi Bu! Saya mau mengantarkan tamu, mau ketemu Ibu katanya!" terang si Satpam.
"Oh, baiklah. Terimakasih, kamu bisa kembali bekerja" jawab Kepala Sekolah ramah.
"Makasih, Pak!" ujar Juna sebelum Satpam itu meminta izin pergi.
"Mari, silahkan masuk!" Ajak Bu Wiwin.
__ADS_1
"Kalau boleh tahu, ada perlu apa yah?" Tanya Bu Wiwin lagi.
Ningsih mendekati Bu Wiwin, kemudian mencium punggung tangan wanita itu. Juna pun mengikuti. Bu Wiwin terlihat heran, masalahnya ia sama sekali tak mengenal mereka.
Ningsih tersenyum. Pasti Bu Wiwin melupakan wajahnya. Bu Wiwin itu dulu pernah jadi Wali Kelas Ningsih, dan ternyata ia diangkat menjadi Kepala Sekolah sekarang.
"Saya Ningsih Bu! Fajria Ningsih, Ibu ingat? Ibu pernah jadi Wali Kelas saya dulu!" terang Ningsih.
Mata Bu Wiwin membulat, ia kemudian menepuk-nepuk pundak Ningsih pelan. "Waah, rupanya kamu Ningsih! Iya, sekarang Ibu ingat! aduh! Ibu udah nggak ingat tadi wajah kamu. Maklum, umur Ibu juga udah bertambah tua!" camda Bu Wiwin.
Ningsih dan Juna tertawa kecil. "Iya Bu. Lagian udah lama juga kita nggak ketemu!" tambah Ningsih. Keduanya kemudian duduk berhadapan dengan Bu Wiwin.
"Oh yah, ada keperluan apa kamu ke mari?"
Ningsih menyenggol lengan Juna. Ia sebenarnya bingung mengapa Juna mengajaknya ke sini. Perasaan mereka ingin bertemu Nenek Ija.
Juna yang merasakan senggolan Ningsih akhirnya bersuara. "Kami ingin minta izin mau ke kantin. kami berdua ingin ketemu seorang penjual di kantin sekolah ini!" jelas Juna.
Bu Wiwin seolah baru tersadar kalau Ningsih bersama seseorang. "ooh, begitu. Oh iya, ini siapa Ningsih?" tanya Bu Wiwin.
"Namanya Juna Bu. Dia Suami Ningsih!"
"Kamu udah nikah?! Waah, nikah muda yah!" ujar Bu Wiwin menggoda. Ningsih tertawa pelan sambil mengangguk.
"Tapi....Ibu kayak pernah dengar nama Juna deh! Di mana yah? Nama panjang kamu siapa?" tanya Bu Wiwin.
"Juna Putra Wibowo, Bu!" Juna menyebutkan nama lengkapnya pada Bu Wiwin.
"Ooh, iya! Saya ingat. Kamu yang diceritakan Pak Nazir, Kepala Sekolah sebelum saya. Kamu kan, yang meminta seorang nenek-nenek penjual jajan di depan untuk diberikan tempat berjualan di kantin?"
Ningsih terkejut menatap Juna. Sedangkan Juna hanya mengangguk dan tersenyum kecil. "Iya Bu. Dan saya serta Istri saya mau menemui Nenek itu, tapi sebelumnya kami minta izin dulu pada Ibu. Walau bagaimanapun kan, Kantin itu letaknya di dalam gedung Sekolah, juga saya dan Istri saya hanya orang luar!" jelas Juna panjang lebar.
Bu Wiwin menatap Juna dan Ningsih berbinar. "Ya ampun! Udah murid saya yang satu ini baik dan sopan banget dulu, dapat suaminya juga sama. Baik, sopan, ganteng pula!" pujinya pada dua orang tersebut.
"Ya sudah, silahkan kalau kalian mau ke sana! Saya izinin kok!" Keduanya kemudian berpamitan undur diri.
Gimana yah, momen Ningsih dan Juna ketemu Nenek Ija, Nenek yang berjasa akan pertemuan Ningsih dan Juna? Like, vote dan komennya jangan lupa☺
__ADS_1