
Ardi memandang wajahnya di dalam kaca, sesaat kemudian cowok itu mengumpat frustasi karena kebodohannya. Ia terlampau bodoh, sampai-sampai ia menemui orang tuanya dan mengatakan akan melamar Diana minggu depan. Bagaimana mau melamar, jangankan rumahnya, nomor ponsel gadis itu saja ia tak punya.
Dan apa-apaan itu, satu minggu dari sekarang? yang benar saja. Iya kalau Tuhan menakdirkannya kembali bertemu dengan Diana, kalau enggak bagaimana? Apa yang harus ia katakan pada kedua orang tuanya itu?
"Gimana caranya coba, agar aku bisa ketemu lagi sama Diana? Biar aku juga minta kontak dia? Bodoh banget sih kamu Ar, udah tahu sejak awal ngerasa suka, kenapa kontaknya nggak langsung diminta?
Ardi sekali lagi menatap wajah bodohnya itu melalui cermin, "Biar keliatan bodohnya, tapi tetap nggak ngurangin ganteng aku sih" Ujarnya percaya diri. Inilah Ardi, cowok yang suka bertingkah aneh dan sulit ditebak. Kadang terlihat kejam dan kasar, kadang lembut, dan kadang sinting--seperti saat ini. Iya, sinting. Mana ada orang marah-marah, sesaat kemudian langsung muji dirinya sendiri. Ada sih, tapi mungkin hanya Ardi doang.
Oke, lupakan tentang kesintingannya. Yang harus ia pikirkan sekarang itu adalah, bagaimana caranya agar ia menemukan Diana. Gadis yang membuat nama Ningsih terhapus seketika dari hatinya. Padahal nama itu sudah melekat lama, namun pesona Diana ternyata mampu menghapusnya hanya dalam sekali perjumpaan.
Ah, Ardi ingat. Papanya kan punya orang kepercayaan yang selalu memata-matainya. Ardi yakin, pasti mereka sudah mencari tahu tentang Diana. Ardi harus menanyakan pada mereka.
Ardi keluar dari Apartemennya. Matanya menatap tajam ke berbagai arah, ia berharap menangkap keberadaan mata-mata papanya itu.
"Itu dia!" dengan langkah cepat, ia mendekat ke arah dua pria yang tengah menyembunyikan tubuh mereka di samping sebuah mobil.
__ADS_1
"Keluar kalian, saya nggak bakal ngapa-ngapain kalian" ujarnya. Akhirnya dua pria utusan papanya itu keluar dari persembunyiannya, dan menampakkan diri di depan Ardi.
"Aa...Ada apa Tuan Muda?" tanya salah satu dari mereka.
"ada sesuatu yang ingin saya tanyakan. Tapi, lebih baik kita mengobrol di apartemen saya!"
Dua orang tersebut saling memandang ragu. Takutnya Ardi malah memutilasi mereka karena sudah lancang memata-matainya.
"Saya nggak akan apa-apain kalian, jadi tenang saja. Lagipula, setelah aku pikir-pikir ternyata keberadaan kalian ada gunanya juga sedikit untuk saya"
Akhirnya dengan berat hati dua orang tersebut mengikuti langkahnya.
"I...iyyya T..tuan Muda" jawab keduanya dengan gugup.
"Berarti, kalian sudah menyelidiki juga dong tentang Diana?" tanya Ardi. Dua mata-mata itu menelan ludah mereka kasar.
__ADS_1
"Ii...itu...iya Tuan Muda. Maaf jika kami lancang akan hal itu"
Ardi terkekeh pelan karena mendengar nada takut di nada bicara pria di hadapannya itu."Kalian berdua ini kenapa sih? Saya sudah bilang kalau saya nggak bakal ngapa-ngapain kalian. Lagipula, kaliankan berdua, masa takut sama aku yang sendiri. Gimana sih?" Dua orang itu menunduk malu karena perkataan Ardi.
"Maaf Tuan Muda!"
"Sudah, nggak apa-apa. Yang terpenting adalah, saat ini saya butuh bantuan kalian" ujarnya serius.
"Apa itu Tuan Muda?"
"Saya minta data tentang Diana, perempuan yang akan aku lamar nanti"
"Untuk apa Tuan Muda?" tanya salah satu dari mereka.
"Sudah, nggak usah banyak tanya. Oh yah, jangan bilang apapun juga ke Papa tentang masalah ini. Kalian tahukan, apa akibatnya kalau kalian melanggar?" ancamnya.
__ADS_1
" Baik, Tuan Muda"
Ardi tersenyum 'tunggu aku, Diana' gumamnya dalam hati.