Sang Pengiring Pengantin

Sang Pengiring Pengantin
Tujuh Puluh Tujuh


__ADS_3

Maaf, baru muncul. ada yang nunggu yah? soalnya seminggu ini aku nggak pegang handphone. Aku lagi sakit, magh-ku kambuh. Perut sakit terus, sama mual-mual juga. Jadi, upnya jadi lama.


Vote, like dan komennya jangan lupa oke?! biar aku semangat ngetiknya😊


....................................................


'Kak, aku pulang kampus ke rumah Kak Tania. Kakak nanti jemput aku di sana aja'


Ningsih mengirimkan pesan itu pada Juna, lalu bergegas keluar kelas menuju gerbang untuk mencari taksi. Wita tadi berpamitan pada Ningsih untuk izin pulang duluan, karena neneknya yang di kampung sakit. Ningsih bosan menghabiskan waktunya sendirian setelah ini, jadi lebih baik ia mengunjungi Tania saja.


Tania sudah kembali ke rumahnya dua minggu yang lalu. Usia kandungan wanita itu juga sudah memasuki bulan ke sembilan, jadi tinggal menunggu waktu lahiran saja.


Setelah Taksi pesanannya datang, Ningsih langsung menyebutkan alamat tujuan, kemudian Taksi itu melaju membelah jalanan.


Ningsih mengetuk pintu yang terbuat dari bahan kayu jati itu beberapa kali. Ia tersenyum melihat rumah ini. Banyak kenangannya di sini. Kenangannya waktu kecil saat bermain bersama Tania, juga kenangannya saat......pesta pernikahannya. Iya, ini rumah tempat ia dan Juna menikah dulu. "Assalaamu'alaikum Tante!" Sapanya saat daun pintu terbuka.


"Eh, Sisi? Wa'alaikumsalaam. Sama siapa ke sininya sayang?" Tanya Adelia-- Mama Tania.


"Sendiri tante!" Ujar Ningsih sambil mencium tangan adik dari sang Mama itu.


"Juna mana?"


"Masih di kantor tante. Ini kan belum jam makan siang!" Jawabnya.


"Ya udah, masuk sayang!"


Ningsih mengikuti langkah wanita paruh bayah itu. "Kak Tania di mana, Tan?" Tanya Ningsih.


"Di kamarnya. Kamu naik aja ke atas!" Ningsih mengangguk, kemudian menaiki anak tangga menuju kamar Tania. Kamar yang dulu menjadi kamar pengantinnya dan Juna.

__ADS_1


Ia mengetuk pelan pintu kamar Tania yang sedikit terbuka. Tania yang sedang duduk di atas ranjangnya menoleh, dan tersenyum senang melihat kedatangan sepupunya itu.


"Sisi? Kamu ke sini sama siapa?" Tanya Tania sambil menuruni ranjang.


"Sendiri Kak!" Jawabnya. Keduanya kemudian duduk di sofa yang berada tepat di depan ranjang Tania.


"Kakak lagi ngapain?" Tanya Ningsih.


"Nggak ngapa-ngapain sih! Bosan aja sendirian di rumah" ujar Tania sambil memperlihatkan wajah betenya.


"Ehmmm, gimana kalau kita jalan-jalan aja!" Usul Ningsih. "Maksud aku ke tempat-tempat yang dekat sini aja, kasian juga dedek bayinya kalau kejauhan" sambungnya sambil melirik perut Tania yang sudah membesar.


Tania mengangguk senang. Akhirnya ia bisa menghilangkan kebosanannya dan menghabiskan waktu bersama Ningsih lagi.


"Aku izin dulu ke tante, Kakak siap-siap aja! Sisi tunggu di bawah" ujarnya, kemudian keluar dari kamar milik Tania. Ia bergerak menuruni anak tangga, mencari keberadaan Adelia.


"Eh, Sisi! Sini sayang! Temani Tante nonton" ujarnya sambil menepuk-nepuk sofa tempatnya duduk, mengisyaratkan Ningsih untuk duduk di sampingnya.


"Aku mau minta izin Tante, bawa Kak Tania jalan-jalan. Kasian, Bumilnya ngaku bosan diam terus di rumah!" Ucap Ningsih.


Adelia terlihat berfikir sebentar "mau ke mana emang?" Tanyanya.


"Ya....dekat-dekat sini aja sih, Tan! Ke Taman mungkin, atau ke tokoh Buku, ke mana aja, tempat yang terdekat sini. Penting Kak Tania nggak ngerasa bosan lagi!"


Adelia tersenyum, melihat rasa sayang Ningsih pada Tania. Jujur saja, ia tak pernah menyangka Tania dulu tanpa sadar ingin merebut apa yang seharusnya dimiliki Ningsih. Ia membelai rambut keponakannya itu, Adelia benar-benar bangga karena Ningsih dengan lapang dada menerima takdirnya juga memaafkan Tania dengan mudah. Bahkan meminta anaknya itu untuk kembali lagi ke rumah ini. Adelia berharap, setelah ini tak ada lagi tangisan kesedihan keponakannya itu. Ia berharap Ningsih selalu bahagia, karena Adelia tahu, Ningsih sebelum ini menjalani takdir yang berat.


"Tante, Tante kok melamun?" Tanya Ningsih bingung.


Adelia tersentak, namun sesaat kemudian, ia membawa Ningsih ke dalam pelukannya.

__ADS_1


"Tante kenapa?" Tanya Ningsih lagi.


"Nggak apa-apa! Tante cuma kangen pengen meluk kamu seperti dulu" ujarnya terisak, membuat Ningsih semakin kebingungan.


............................................................


"Kita ke mana Kak?" Tanya Ningsih meminta pendapat Tania.


"Emm...gimana kalau ke Restoran dekat sini. Kayaknya nggak jauh dari sini ada Restoran yang baru buka, kita nyoba makanan di sana yuk!" Ningsih mengangguk setuju. Ia memesan Taksi untuknya dan Tania, karena sangat tak mungkin mereka jalan kaki.


Keduanya menuruni Taksi tersebut, lalu melangkah dengan antusias masuk ke dalam Restoran tersebut.


Ningsih menuruti permintaan Tania untuk duduk di kursi dekat jendela. Pemandangan jalan raya terlihat langsung dari kaca jendela yang transparant itu.


"Mau pesan apa Mbak?" Seorang pelayan menghampiri mereka, dan bertanya dengan ramah.


keduanya menyebutkan pesanan mereka masing-masing. Si Pelayan tersebut mendengar dengan seksama sambil mencatat.


"Udah lama yah, kita nggak ngabisin waktu bareng gini" ujar Tania setelah pelayan itu berlalu.


"Kakak kangen tahu, masa-masa kayak gini" sambungnya.


"Sisi juga" Ningsih tersenyum, mengelus tangan Tania bermaksud menenangkan. Ia tahu, Tania pasti teringat dengan masa-masa mereka dulu, karena wajah ceria tadi tiba-tiba terlihat menyendu.


"Maafin keegoisan kakak" ucap Tania. Ningsih kembali menggeleng, dan tersenyum mengisyaratkan bahwa semuanya baik-baik saja. "Udah! Lupain aja!"


"Oh, hy Tania! Lama nggak ketemu!" Sapa sebuah suara, membuat pasangan sepupu itu mendongak menatap si penyapa tadi. Tania seketika menegang, berbeda dengan Ningsih yang menatap orang itu bingung.


Oh yah, mau bilang. Seiring merebaknya virus corona atau convid19, mari kita berdoa sejenak. semoga kita selalu dalam lindungannya. Semoga kita dijauhkan dari penyakit seperti itu. Aamiin ya Rabbal 'Alamiin.

__ADS_1


__ADS_2