Sang Pengiring Pengantin

Sang Pengiring Pengantin
Lima Puluh Delapan


__ADS_3

Wita menggerutu sepanjang jalan menuju Klub malam tempat Noval mabuk-mabukan. Sopirnya hanya mampu menggelengkan kepala melihat Wita yang seperti orang setres mengoceh sendiri. Kalau saja bukan Ningsih yang memintanya untuk menolong Noval, ia tak akan sudi datang ke tempat terkutuk itu.


"temani saya turun, Pak!" perintah Wita pada sang supir saat mereka sudah berada di halaman Klub XX. Sang Supir hanya mengikuti tanpa banyak bertanya, takut kena semprotan macan betina kayaknya. Padahal dalam hatinya ia benar-benar penasaran kenapa Nona mudanya itu mau datang ke tempat seperti ini.


Wita mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru. Ia merasa jijik melihat beberapa pemandangan yang tak seharusnya disaksikan mata sucinya. Matanya menyipit saat melihat keberadaan Noval yang masih menidurkan kepalanya di meja bartender, dengan seorang pria yang berada di depannya sedang meracik beberapa minuman sambil sesekali melirik ke arah Noval. Ah! Pasti pria itu yang menelfon Ningsih tadi.


"Di sana pak!" tunjuk Wita ke arah Noval. Lalu keduanya melangkah mendekat.


"Sisi, kamu....tega sama Kakak. Kakak sayang sama kamu, Kakak menyesal. Kakak mau kamu kembali, tapi kamu bahagia sama si Juna brengsek! Aaarggh, Sisi...." Wita berdecak sebal mendengar racauan Noval saat mereka sudah sampai di tempat pria itu.


"Sisi....Kakak sayang kamu..." ujar Noval dengan nada lemah. Wita bukannya menutup mata tentang Noval yang menyesal dan mungkin frustasi, hanya saja kelakuannya yang mabuk-mabukan itu benar-benar membuat Wita ingin membunuhnya. Lagipula, semua tak akan terjadi kalau Noval berusaha memperjuangkan cintanya sejak dulu.


Leon, si bartender tadi memandang Wita lekat. 'ini kali yah, mbak yang tadi' batinnya.


"Mbak.yang ngangkat telepon tadi?" tanya Leon memastikan.


Wita menggeleng. "enggak! Itu teman saya!" jawab Wita datar.


"ooh, kirain Mbak! Teman Mbak ini sejak tadi mabuk, dia terlalu banyak minum. Terus meracau dan selalu manggil-manggil nama Sisi. Mbak dengar sendirikan tadi?!" jelas Leon.


Wita mengangguk. "ya sudah, saya akan bawa teman saya ini sekarang. Terima kasih dan Maaf kalau dia udah ngerepotin mas" ujar Wita.


Leon mengangguk sopan "Iya mbak. Sama-sama" balasnya. Wita menanyakan berapa harga yang harus dibayar Noval, namun Leon mengatakan kalau Noval sudah membayarnya duluan. Bahkan sisanya masih ada, malah disuruh ambil Leon.


"Bantuin Pak!" ujar Wita pada Supirnya. Si bapak dengan sigap membantu Wita membawa Noval keluar dari sana. Wita mendengus, Noval masih saja meracau dan bau alkohol membuat indra penciuman Wita terganggu. Posisinya dengan Noval memang dekat, mengingat ia menggandeng tangan Noval yang terletak di bahunya.

__ADS_1


Wita menghempaskan tubuh Noval dengan tak berperasaan di kursi belakang kemudi mobilnya. Sang Sopir yang ikutan limbung hanya mampu menggeleng melihat kekasaran anak majikannya itu.


"Periksa sakunya Pak. Cari apa ada kunci di situ, terus ambil" ujar Wita. Sopir tersebut menurut, mencari-cari keberadaan kunci yang dimaksud sang Nona muda. Wita tidak mungkin saat ini bertanya pada Noval, karena cowok itu sudah tak sadarkan diri. Racauannya bahkan sudah terhenti sejak tadi.


"nggak ada, Non!" katanya setelah menggeledah semua saku Noval. "eh, ini kayaknya Non" serunya saat menemukan sebuah benda digenggaman Noval. Wita memperhatikan kunci yang sudah berada di tangan sopirnya itu. Ckkk! Itu kunci Mobil, bukan kunci Kos.


"Bukan yang itu Pak! Aduh, ni anak manusia ngerepotin amat sih" katanya kesal sambil menghentak-hentakkan kakinya ke tanah.


"gimana mau bawa dia ke kosnya, kalau kunci kosnya nggak ada" gumamnya. "taruh di bawah jembatan aja kali yah, biar tobat ni anak" Ia menggelengkan kepalanya yang mulai berpikiran melantur. Munkin efek kesal dan juga karena sudah tengah malam, jadinya pikirannya kacau.


"ya udah deh, nggak punya pilihan lain" gumamnya sambil menutup pintu Mobil belakang, lalu beralih duduk di depan.


"ini mau di bawa ke mana Non?" tanya sopir.


Wita menghela nafasnya kasar "ke rumah aja Pak! Oh yah, satu lagi. Jangan ceritain apapun ke Mama dan Papa saya. Bilangin juga sama Bi Narti, kalau sampe rumah" sopirnya hanya mengangguk menjalankan perintah. untung saja Mama dan Papanya lagi ke luar kota, karena ada perjalanan bisnis. Kalau ada di rumahnya, bisa-bisa Wita nekat benar-benar menaruh Noval di bawah jembatan.


"Ya Allah, ni orang berat banget sih!" keluh Wita. Keduanya kemudian membawa Noval ke kamar tamu. Lagi-lagi Wita menghempaskan tubuh Noval dengan kasar. Noval terlihat bergerak, mungkin cowok itu terbangun dari tidur atau mungkin pingsannya tadi akibat hempasan Wita.


"HHUUUEKK! HHUEEK!" Wita berteriak melihat Noval memuntahkan isi perutnya di samping ranjang. " AAAAH, DIA MUNTAH! IH JIJIK BANGET SIH!"


"URUS DIA PAK! ISSSH, JIJIK BANGET SIH! UDAH TAU NGGAK BISA MINUM, MALAH MINUM BANYAK. NGEREPOTIN ORANG BANGET TAU ENGGAK!" teriaknya pada Noval. Noval terlihat memandang Wita dengan tubuh lemasnya, lalu kembali terjatu ditempat tidur. Entah pingsan atau tidur, Wita tak tahu.


Wita memijit kepalanya pelan, Astaga! Wita rasanya ingin menangis saja saat ini saking kesalnya.


"udah Pak, tolong urusin. Saya nyariin baju milik Papa dulu, bajunya udah kotor tuh kena muntah!" ujarnya lalu keluar dari kamar itu dan memasuki kamar lain untuk mencari kaus milik papanya.

__ADS_1


Wita kembali ke kamar tamu tadi, dan sudah menemukan Bi Narti yang sedang membersihkan lantai tempat Noval muntah tadi.


"Nih Pak, gantiin yah! Saya mau tidur dulu. Ingat! jangan ada yang ngomong ini ke Mama sama Papa" peringatnya sekali lagi.


"Iya Non" ujar dua paruh baya itu bersamaan.


"pintunya juga kunciin dari luar. Dia itu pria mabuk, jangan sampai ia keluar dari kamar dan berbuat kekacauan" perintahnya. Ia tersenyum miring, rasain. Pasti besok pagi saat bangun Noval bakal kebingungan.


.....................................................


Noval mengerjap saat cahaya matahari mengenai matanya. Ia berusaha bangun, kepalanya masih sakit. Mungkin karena efek minuman semalam masih ada.


Tunggu! Semalam kan ia berada di Klub, kenapa sekarang sudah berada di kamar. Jangan bilang........ Noval menoleh dengan horor, takut jika di sampingnya terbaring seorang perempuan. Ia bernafas legah karena yang ia takutkan tidak ada.


"Tapi.....ini di mana?" gumam Noval. Ia mengitari kamar tersebut dengan matanya. Kamar kosnya tak mungkin sebesar ini. Kalau rumahnya pun juga tak mungkin. Ia masih ingat betul warna chat semua kamar yang ada di rumahnya. Bosan karena tak mendapat petunjuk apapun ia ada di mana, Noval bangkit menuju pintu. Ia memutar gagang pintu namun tak bisa terbuka. "Astaga! dikunci dari luar?" ujarnya melotot tak percaya. Akhirnya Noval hanya bisa pasrah dan memilih kembali berbaring di atas tempat tidur.


Selang satu jam, suara langkah terdengar mendekat dari luar kamar. Di susul suara kunci dan pintu yang terbuka lebar menampakkan sosok gadis yang Noval kenal. Noval bangun dari posisi berbaringnya, kenapa bisa ia berada di sini? itulah yang berada di pikirannya.


"sudah bangun rupanya" ujar Wita datar. Noval menelan ludahnya gugup, kenapa gadis ini terlihat menakutkan sekarang?


"Aku mau ke kampus. Nih, obat pereda sakit kepala. Kalau lapar turun ke dapur aja, di sana ada Bi Narti, dia juga udah nyiapin makan untuk kamu. Kalau sakitnya sudah reda, cepatan angkat kaki dari rumah aku" Noval membelalak. Wita terlihat seperti perempuan yang tak punya hati, pikirnya.


"baju kamu juga tanyain sama Bi Narti. Dia udah nyuci baju kamu yang terkena muntahan menjijikkan itu. Ckkk. Kamu bukan siapa-siapa di sini tapi mampu merepotkan orang di rumahku" sekali lagi kata-kata tak enak di dengar itu keluar dari mulut Wita. Sedangkan Noval hanya diam mendengarkan. Lagipula ia masih bingung kenapa bisa berada di rumah perempuan tak berhati ini.


"Oh yah, satu lagi. Dengan cara mabuk-mabukan nggak bakal bisa balikin keadaan. Mau kamu mati karena mabuk sekalipun, Ningsih nggak akan balik ke kamu. Yang ada Ningsih malah ketakutan dengan kamu" ujarnya sebelum pergi meninggalkan Noval yang termenung.

__ADS_1


Mana yang setuju Noval sama Wita?


__ADS_2