Sang Pengiring Pengantin

Sang Pengiring Pengantin
Tiga Puluh Lima


__ADS_3

Juna memasuki kelas dengan wajah yang terlihat sumringah, jelas berbeda dengan wajahnya sebelum-sebelumnya. Agung yang sudah masuk hari ini dan sudah duduk manis di kursinya memandang Juna jengah. Ia tahu pasti efek senang ketemu Sisi kemarin masih berpengaruh sampai sekarang. Sehingga tak heran jika Juna memasang senyum lebar layaknya orang gila.


"Jun!" panggilan Agung membuat cowok yang baru meletakkan tasnya di laci meja itu menoleh.


"apa?" tanya Juna, ia kemudian langsung duduk di bangkunya yang berada tepat di sebelah Agung.


"masih waras?" tanya Agung seketika membuat senyum Juna yang terpasang dengan manis tadi langsung luntur.


"Ckk. Menurut kamu?" dengusnya.


Agung menggeleng pelan melihat tingkah Juna. Tadi senyum-senyum udah mirip orang nggak waras, sekarang judes kayak cewek lagi datang bulanan, emang jatuh cinta gitu banget yah? perasaan Agung nggak deh! yah perasaan Agung saja sih dia enggak, entahlah kalau menurut Juna.


"si Widya belum datang?" tanya Juna. Agung menggeleng "belum" jawabnya.


"kenapa?" ia menyipitkan matanya pada Juna. "kenapa apa? nggak jelas banget sih Gung" Juna menjitak kepala Agung yang sedang menatapnya penuh curiga.


"kenapa nanya-nanya Widya? tumben amat, kan aku jadi curiga. Jangan-jangan kamu mau nikung aku yah?" Juna tertawa mendengar tuduhan Agung. Mana mau dia sama Widya, emangnya Agung buta apa sampai nggak bisa liat kalau dia tergila-gila pada Sisi. Baru saja ia berniat menjawab, suara seseorang membuatnya menelan jawaban yang akan ia berikan.


"Nikung siapa? kalian lagi ngomongin sapa? kepo dong" tanya Widya beruntun. Ia baru saja datang, dan tak sengaja mendengar omongan dua sahabatnya, meski hanya ujungnya saja sih!


Agung mendesah pelan. Untung gadis itu nggak tahu kalau dia yang dijadikan bahan omongan. Dan lebih pentingnya lagi, Widya nggak dengar apa yang ia tuduhkan tadi. Kalau gadis itu mendengar ia bisa malu. Tapi, kalau memang Widya dengar juga, emang gadis itu peduli? orang dia hanya nganggap Agung selama ini hanya bercanda dan tak benar-benar serius memiliki perasaan padanya. Tanpa sadar Agung tersenyum miris karena ketidak pekaan gadis pujaannya itu.


"ah, itu! anu...ehmm, Kucingnya Agung ditikung kucing tetangga. Padahal Kucingnya Agung udah lama PDKT sama kucing si Lia. Eh, malah ditikung kucing tetangga" jawab Juna tak jelas. Widya tertawa kencang. "Juna, kamu masih tidur yah? emang kucing ngerti masalah tikung menikung?"


Agung melotot ke arah Juna. Dasar bodoh, ngapain ngasih jawaban nggak jelas kaya gitu? mana bawa-bawa nama Lia lagi, yang entah Juna dapat dari mana tuh nama. yang ada bukannya percaya Widya pasti akan menganggap mereka berdua aneh.

__ADS_1


"Lagian yah, kalian berdua itu kurang kerjaan banget sih, sampai ngomongin tentang kisah cinta kucing padahal masih pagi gini" ia menggeleng tak percaya dengan tingkah absurd dua sahabatnya itu. Agung mendengus. Tuh kan, benar apa yang ia takutkan. buktinya Widya mengatakan dia dan Juna kurang kerjaan.


"Ckkk, percaya aja sama omongan Juna. Udahlah Wid, lagian sejak kapan aku ngurusin tentang kucing, si Juna aja yang ngomong nggak jelas. Maklum Wid, orang lagi kasmaran kan suka ngomong aneh-aneh" Agung berusaha menghentikan tawa Widya. Kalau enggak, bisa sampai pulang sekolah gadis itu menertawakan jawaban Juna.


Juna memandang Agung sinis. Memangnya Agung juga nggak lagi kasmaran kayak dia yah? Bukannya mereka sama? Buktinya tuh, wajah Agung sudah memerah karena malu ditertawai pujaan hati.


Bel iatirahat berbunyi, membuat Juna, Agung dan Widya langsung melangkah menuju Kantin. Baru saja akan duduk, Juna tiba-tiba mengecek semua sakunya seolah-olah mencari sesuatu.


"nyari apaan Jun?" tanya Widya.


"dompet aku kayaknya ketinggalan di tas deh. Gila aja, aku tadi lupa masukin saku" jawabnya.


belum sempat Widya dan Agung membuka mulut merespon, ia langsung berpamitan mengambil dompetnya di tas. Kedua sahabatnya itu menggeleng, padahal kan mereka tadi mau nawarin nraktir Juna dulu, atau nggak bayar pakai uang mereka dulu kalau Juna nggak mau ditraktir. entar kan bisa ia ganti kalau sudah di kelas.


Juna mempercepat langkahnya menuju kelas. Namun, saat di depan kelas yang tepat berada di samping kelasnya ia berhenti mendadak. Pintu kelas itu sedikit tertutup, dan ia mendengar suara dua orang sedang adu mulut di dalam sana. Sebenarnya Juna tak bermaksud kepo, mungkin saja kan kalau itu orang pacaran yang sedang bertengkar? Tapi...bagaimana kalau bukan? Bagaimana kalau perempuan di dalam sana itu sedang dalam keadaan bahaya. Akhirnya, Juna mendorong pelan pintu kayu tersebut hingga terbuka lebar dan mengejutkan dua orang yang ada di dalam sana.


"Juna!" pekik Tania pelan. Juna memperhatikan wajah ketakutan Tania, dan tampang gahar cowok di depan gadis itu.


Juna menangkap tatapan permintaan tolong yang Tania berikan padanya, sehingga ia memilih mendekat pada dua orang yang sedang bersitegang itu.


"Maaf, tapi suara pertengkaran kalian kedengaran sampai di luar! Jadi aku terpaksa masuk deh! Dan benar dugaanku, di sini ada seorang gadis yang ketakutan juga ada seorang cowok yang sedang emosi" ujarnya santai.


Wajah cowok di hadapannya itu semakin memerah karena marah. Ia tadi sempat mendengar Tania menggumamkan nama Juna. Berarti mereka saling mengenal, batinnya.


"Oh, jadi gitu? Waktu kita SMP ada Bobi yang ngelindungin kamu, dan sekarang dia? si cowok sok kegatengan ini?" ia bertanya penuh penekanan pada Tania, membuat gadis itu semakin gemetar ketakutan.

__ADS_1


Juna mendekat ke arah Tania, membuat Tania reflek bersembunyi di belakangnya seolah meminta perlindungan. Sekarang Juna dapat menyimpulkan kalau keduanya bukanlah sepasang kekasih, tapi sebenarnya cinta cowok bad boy itu mungkin tak mendapat sambutan dari Tania sejak SMP.


"bicara sama perempuan itu harusnya lemah lembut, Bro!" katanya dengan santai.


"Mau kasar atau lembut itu urusan aku. Aku yang berbicara, kenapa kamu yang repot. Mending sekarang pergi deh, jangan campurin urusan aku sama nih cewek!"


"kalau aku mau ikut campur gimana?" tanya Juna terdengar menantang. Tania sudah menarik ujung kemejanya dari belakang, ia benar-benar tak ingin Juna kenapa-napa hanya karena membelanya. Terlebih dengan cowok bad boy macam Ardi.


"Jun, udah!" bisik Tania pelan, namun tak dipedulikan Juna.


"Memangnya hak kamu apa untuk ikut campur? jangankan pacar, teman aja pasti bukan kan?" Ardi memandang Juna seolah merendahkan. Juna tersenyum tenang.


"siapa bilang?!" ujarnya, membuat Tania menatap punggungnya tak mengerti.


"Maksudmu apa? jangan ngaku-ngaku deh! Orang si Tania cinta mati sama Bobi" Ardi tertawa kencang mendengar perkataan Juna. Mana bisa ia percaya, Tania kan waktu itu menolaknya karena gadis itu mencintai Bobi, sahabatnya sendiri.


"Oh yah? Tapi emang gitu kenyataannya gimana dong?" balas Juna.


Ardi memandang Tania tajam "benar Tania?" tanyanya marah.


Tania menoleh ke arah Juna yang sedang menatapnya dengan senyum, sebagai kode kalau saat ini ia berusaha menyelamatkan gadis itu.


"Iii...iyy..iya" jawabnya ragu. Ardi yang merasa marah langsung saja pergi dengan menendang apapun yang di hadapannya. membuat beberapa meja dan kursi yang berderet rapi menjadi berantakan karena ulahnya. Lagian mana mau dia melawan Juna sendirian, orang semua Siswa Gemintang tahu kalau Juna itu jago bela diri. Bisa-bisa wajahnya peot esok hari, terlebih hatinya masih hancur karena penolakan Tania pasti tenaganya makin berkurang.


"urusan kita belum selesai. Tunggu aja!" ujarnya sebelum pergi.

__ADS_1


Like, vote dan komen yang banyak yah!!


aku tunggu loh, komentar2 nya😊


__ADS_2