
like, vote dan komennya jangan lupa😊
"Wi, ke rumah aku dong! malas aku sendirian di sini" ujar Ningsih di telepon. Ini hari minggu, jadi dia hanya berdiam diri di rumah sendirian. Juna lagi ada urusan di luar, entah ke mana.
'emang Kak Juna ke mana?' tanya Wita.
"keluar, nggak tahu ke mana!" jawab Ningsih.
'Terus kalau aku ke situ kita ngapain? masa diam-diaman aja! Gimana kalau kita jalan-jalan aja?' Ningsih terlihat berfikir sebentar, lalu menggeleng.
"No! entar kalau Kak Juna balik aku nggak di sini gimana?" tolaknya.
'ya minta izinlah Si, apa gunanya ponsel kamu coba?!' gemas Wita dari seberang sana.
"sebenarnya aku lagi mager Wit! makanya aku ajak kamu ke sini. Kita nonton drakor aja deh. Kebetulan kemarin aku beli beberapa cemilan, lumayan kan bisa nemanin kita nonton"
Wita menghela nafasnya pelan tanda mengalah 'ya udah, aku ke sana' putusnya kemudian yang membuat Ningsih kegirangan.
"okey, thanks Seyeng! aku tunggu yah, Assalaamu'alaikum"
'wa'alaikumsalaam!'
Ningsih melompat kegirangan karena berhasil membujuk Wita menemaninya di sini. Sebenarnya tadi Juna juga mengajaknya pergi, tapi ia tolak dengan alasan mager. Dan berakhir dengan dia mengganggu kesenangan Wita. Lagipula Ningsih yakin hari Minggu seperti ini Wita tak akan ke mana-mana. Orang Wita jomblo.
Ningsih mulai menyiapkan Laptopnya, yang ia sambungkan ke TV di ruang tengah agar acara nonton mereka semakin mengasikkan, dengan duduk di Sofa sambil menyemil makanan.
Selang tiga puluh menit, pintu rumahnya di ketuk membuat Ningsih melangkah dengan gembira ke arah pintu. Pasti Wita sudah datang, dan benar ternyata tebakannya. Wita sudah berdiri di ambang pintu dengan plastik yang ia tenteng.
"itu apaan Wi?" tanya Ningsih penasaran, sambil mengekori Wita ke arah Sofa.
__ADS_1
"snack, sama beberapa minuman kaleng! siapa tahu aja yang kamu sediain nggak cukup!" ujarnya membuat Ningsih terlonjak senang.
"Si, kok kamu keliatan aneh yah, akhir-akhir ini?" tanya Wita tiba-tiba. Ningsih yang sedang mencari drama apa yang akan mereka tonton pun menghentikan kegiatannya dan menoleh pada Wita sepenuhnya.
"aneh gimana?" tanya Ningsih bingung.
"ya aneh aja! Tingkah kamu itu kayak.....apa yah? eh, nih contohnya. Kamu sering mager, terus akhir-akhir ini kamu kayak manja banget gitu, bahkan sama aku kamu manja. Terus kalau yang kamu minta dipenuhi, keliatannya gembira banget. Bahkan sampai melompat-lompat kayak anak kecil" jelas Wita.
Ningsih mengerutkan alisnya. iyakah? ia bertanya pada dirinya sendiri.
"jangan-jangan kamu hamil, Si?" perkataan Wita membuat Ningsih tersentak. "nggak, ah Wit! mana mungkin? orang aku ngerasa biasa-biasa aja! nggak mual-mual juga!" elaknya.
"ya bisa jadi Si. Kan pernikahan kamu sama Kak Juna udah tujuh bulan, jadi bisa jadi kamu hamil. Kecuali kalau kamu sama Kak Juna belum....." Wita tak melanjutkan ucapannya, ia yakin Ningsih pasti sudah mengerti.
"Tapi kalau masalah mual.....aku juga kurang tahu sih. Siapa tahu aja ngidam kamu nggak pake mual-mual seperti Bumil lainnya" ujar Wita.
Ningsih terbahak. "Hahahahaha, mana ada Ibu hamil nggak mual-mual Wit" ucapnya sambil tertawa.
"Ya udah! Sana cepatan putarin filmnya. Udah nggak sabar cuci mata" suruhnya pada Ningsih, yang langsung di iyakan gadis itu.
Tak terasa, jam sudah menunjukkan pukul tiga sore. Mereka juga sudah mengakhiri menonton drama tadi, keduanya saat ini tengah membereskan bungkus-bungkus Snack yang mereka makan.
Suara ketukan pintu membuat dua sahabat itu menghentikan aktifitasnya. "Bukain yah wi, pasti Kak Juna" ujar Ningsih. Wita hanya menurut, daripada mereka berdebat. Palingan alasan Ningsih tak mau membuka pintu karena mager.
"Loh, ada Wita!" ujar Juna tersenyum melihat Wita yang membukakan pintu.
Wita membalas senyum Juna sambil mengangguk sopan. Kemudian matanya teralihkan pada seseorang yang berada di belakang suami sahabatnya itu. Ia mendengus, kemudian berlalu ke dalam rumah meninggalkan dua orang tersebut yang memandangnya heran.
Ningsih menoleh melihat Wita yang sedang menghampirinya. "Kak Juna?" tanya Ningsih.
__ADS_1
"hmm"
Ningsih menatap Wita bingung karena wajah itu terlihat kesal.
"kenapa sih?" tanya Ningsih penasaran, Wita tak menjawab. Namun melihat siapa yang memasuki rumah bersama Juna, Ningsih akhirnya paham dan tersenyum geli.
"aku ke dapur dulu Si! haus!" pamit Wita.
"Wita kenapa Dek?" bisik Juna sambil mencium kepala Ningsih.
"Dia masih kesal liat Kak Noval" jawab Ningsih berbisik juga, lalu keduanya terkekeh. Semuanya tak luput dari pandangan Noval, pria itu hanya mampu tersenyum miris sambil mengalihkan tatapannya ke arah lain.
"aku haus Si! bisakan aku ambil minum di dapur?" tanya Noval. Sebenarya ia hanya ingin menghindar dari pemandangan yang menyakiti hatinya.
"Oh, iya! Silahkan Kak!"
Sepeninggal Noval, Ningsih diam membuat Juna bingung.
"kenapa Dek?" tanya Juna lembut.
"Menurut Kakak, apa Kak Noval sudah melupakan perasaannya?" tanyanya pelan.
Juna menghela nafasnya sebelum menjawab. "Kakak nggak tahu" jawabnya.
"Aku takut Kak! Aku takut Kak Noval masih merasakan sakit jika melihat interaksi kita, aku takut perasaannya masih besar ke aku. aku akan sangat merasa bersalah jika itu benar" air matanya bahkan sudah menetes.
Juna menarik Ningsih ke pelukannya. "nggak apa-apa! Kaka yakin Noval pasti bakal segera nemuin seseorang yang bisa membuatnya jatuh cinta. Masalah perasaannya, itu pilihannya sendiri, untuk tetap memelihara atau melepasnya. Kita hanya perlu mendoakan dia saja. Jadi, jangan merasa bersalah lagi yah!" ujar Juna menenangkan.
**Maaf kalau kurang greget! oh yah, ini sudah tujuh bulan pernikahan Ningsih dan Juna yah! tetap nantikan terus episodenya, karena sebentar lagi semua rahasia akan segera terbongkar! sebentar lagi!
__ADS_1
vote, like dan komennya juga jangan lupa**.