Sang Pengiring Pengantin

Sang Pengiring Pengantin
Empat Belas


__ADS_3

Ningsih saat ini sedang berada di dapur, memasak makan malam untuknya dan Juna nanti. ya....walaupun beberapa hari ini Ningsih marah, ia tetap melaksanakan tugasnya sebagai istri. Tetap menyiapkan makanan untuk Juna, menyiapkan pakaian Juna, Nyuci dan beres-beres rumah tetap dilakukannya.


"ASSALAAMU'ALAIKUM" suara salam terdengar, pasti Juna sudah datang.


"Wa'alaikumsalaam" jawab Ningsih. Ia melirik Juna yang ternyata memilih mendekatinya di dapur daripada menuju kamarnya untuk mengganti pakaian.


"Dek, masih marah?" tanya Juna lembut. ia memilih duduk di kursi makan, memperhatikan istrinya yang kini tengah memasak.


Ningsih mendengus, kenapa Juna menampakkan wajah kayak gitu sih? Ningsih kan jadi merasa bersalah.


"Dek!?" Juna sekali lagi memanggil Ningsih, namun lagi-lagi tak mendapat respon dari gadis itu.


"huffft!! Ya udah, kalau kamu masih marah, nggak apa-apa deh! itu tandanya kamu cemburu kalau Kakak jalan sama Cewek lain" Ningsih dalam hati mencibir 'pede'.


"Kakak ke atas dulu yah? jangan kangen!" ujar Juna lalu berniat menuju Kamar untuk mengganti pakaiannya.


"Tunggu!" Juna menoleh pada Ningsih yang kini sudah mematikan kompor.

__ADS_1


"Aku mau maafin Kakak, asal Kakak jawab pertanyaan aku nanti" mata Juna seketika berbinar. Ia menatap tak percaya pada Ningsih, benarkah istrinya itu memaafkannya?


"Adek benaran mau maafin Kakak?" Ningsih mengangguk.


"nggak akan ngediamin Kakak lagi?" Ningsih lagi-lagi mengangguk.


"nggak akan......?"


"sekali lagi Kakak tanya aku batalin baikan sama Kakak" potong Ningsih cepat membuat Juna menyengir.


Ningsih diam membeku. Otaknya berusaha mencerna apa yang Juna lakukan padanya. saat tersadar, wajahnya terasa panas dan jantungnya berdetak kencang. Ia menggelengkan kepalanya kuat-kuat. Ningsih bodoh, dia mencuri ciuman kamu, kenapa nggak sadar sih? ia tersentak, dengan wajah memerah ia berteriak "KAK JUNA KENAPA NYIUM AKU?".


Juna terbahak di dalam kamarnya saat mendengar teriakan Ningsih tadi. Ia menggelengkan kepalanya pelan sambil tersenyum, "Dek, Dek! Kenapa gemasin banget sih!" gumamnya.


Ningsih mengatur makanan di atas meja makan. Di rumah ini memang tidak ada Pembantu, karena Ningsih memang tidak berniat memperkerjakan orang lain selagi ia masih sanggup.


Ningsih melirik Juna sebentar saat pria itu menarik Kursi untuk ia duduki. Juna menatap Ningsih dengan wajah cengengesannya, membuat Ningsih mendengus. Entahlah, Juna terlihat seperti sedang mengejeknya sekarang. Ningsih tersenyum dalam hati, ia yakin sebentar lagi senyum Juna akan pudar jika dia menanyakan seseorang yang merupakan Cinta mati Juna itu. Walau Ningsih sedikit merasa aneh dengan hatinya yang seolah was-was akan jawaban Juna. Ia juga mulai memikirkan apa yang akan ia lakukan jika Juna menjawab masih mencintai wanita itu sampai sekarang, lalu siapkah hatinya?

__ADS_1


"Dek, kenapa melamun? oohhh Kakak tau, lamunin yang tadi itu yah? mau lagi? atau mau yang lebih dari itu?" cerocos Juna dengan tampang seolah ia buat mesum.


Ningsih menatapnya tajam, "Dasar om-om mesum!" cibirnya. Juna tertawa, baginya perkataan Ningsih yang tak disaring itu merupakan hiburan tersendiri baginya.


"Aku belum setua itu yah Dek, lagian mesum sama Istri sendiri ini!" sangkalnya membuat Ningsih memutar bola matanya malas.


"Nggak usah banyak tingkah, kalau nggak mau maafnya aku batalin!" Ancam gadis itu membuat Juna gelagapan.


"iya, iya! senjatanya ngancam mulu perasaan" Akhirnya Juna menyerah sebelum Ningsih benar-benar melakukan ancamannya.


"Makan, isi tenaga yang banyak. karena habis ini Kakak akan menjawab sema pertanyaan aku yang aku yakin sangat sulit Kakak jawab!" Juna menatap Ningsih tak mengerti.


"maksudnya?"


"Makan aja dulu bisa nggak sih? nanya mulu dari tadi" Marahnya, membuat Juna menampilkan cengirannya.


"Sorry Yang!" ujarnya sambil mengangkat jari telunjuk dan tengahnya membentuk huruf V.

__ADS_1


__ADS_2