Sang Pengiring Pengantin

Sang Pengiring Pengantin
Dua Puluh Empat


__ADS_3

Juna dan Ningsih sudah sampai beberapa menit lalu. Juna sedang membaringkan diri di Sofa ruang tengah, berusaha mempersiapkan diri untuk menjawab semua pertanyaan Ningsih. Ya, semua! Termasuk tentang gadis kecil cinta pertamanya itu. Juna siap akan segala resikonya.


Juna mendudukkan dirinya saat Ningsih datang dan duduk di sofa tepat berhadapan dengannya. Gadis itu tadi baru saja menyimpan semua belanjaan ke dalam Kulkas.


"Gimana? Udah siap jawab semua pertanyaan aku?" Ningsih memulai setelah beberapa menit mereka hanya diam.


Juna mengangguk pelan. Ia menarik nafasnya dalam-dalam, lalu menghembuskannya perlahan. Ia benar-benar merilekskan diri terlebih dahulu, sebelum segala pertanyaan Ningsih ditumpahkan padanya.


"Oke, Emmmm....Aku mulai dari mana dulu yah?" Ningsih sengaja mempermainkan suaminya itu, karena ia melihat betapa tegangnya Juna menanti pertanyaannya.


"Dek, cepatan nanyanya. Sebelum keberanian Kakak hilang" desak Juna. Ningsih tertawa pelan.


"oke, oke! kali ini aku serius. Aku nggak mau banyak nanya dulu, aku cuma mau Kakak ceritain tentang kisah cinta Kakak, mulai dari awal. Semuanya!" Ningsih berujar dengan menekan beberapa kata, agar Juna tahu kalau ia benar-benar mau pria itu terbuka padanya.


"Oke, tapi....Kamu jangan motong perkataan Kakak. Nanti selesai bercerita, baru kamu boleh bertanya, marah, ataupun mukul Kakak juga nggak apa-apa".


Ningsih menghela nafasnya pelan. Akhirnya gadis itu hanya mengangguk saja.


8,5 TAHUN LALU

__ADS_1


Seorang anak laki-laki berseragam SMP itu menjalankan motornya dengan malas. Dia, Arjuna Putra Wibowo. Ia bolos sekolah, dan tidak tahu ingin ke mana. Sesaat kemudian, matanya menangkap seorang pedagang Kue yang menjajakan makanannya di depan gerbang sebuah Sekolah Dasar.


Pedagang tersebut terlihat sangat lelah, namun tubuhnya yang sudah renta tersebut tetap bersemangat menawarkan makanan pada orang-orang yang melewati jalan tersebut.


Ia bermaksud mendekati nenek penjual Kue itu, namun membatalkannya saat melihat seorang gadis kecil berlari dengan cerianya ke arah si nenek.


Juna memperhatikan dari jauh, ia tersenyum saat melihat gadis kecil tadi langsung memeluk si nenek saat sampai membuat nenek itu terkejut.


"Aduh, Non Sisi?! Ngagetin nenek aja ih" ujar si nenek lalu membungkukkan sedikit badannya, menyamakan dengan tinggi gadis kecil yang ia panggil Non Sisi itu.


"Hehehehe. Maaf Nek!" Sisi kecil menyengir ke arah si nenek, membuat wanita tua itu reflek tersenyum dan membelai lembut rambut milik Sisi.


Ia masih setia berdiri di sana, mendengarkan gadis yang dipanggil Sisi tadi dan si Nenek penjual kue bercengkrama dengan akrab. Sesekali ia tertawa pelan mendengar kalimat yang keluar dari mulut mungil gadis itu.


"Sebaiknya Sisi masuk yah, sekarang! Belnya pasti sebentar lagi bunyi" kata Nenek pada gadis kecil itu. "Nenek juga udah mau pulang, dagangan nenek kan tinggal sedikit" sambungnya.


"Oke Nek. Tapi Sisi mau masuk nanti saat Nenek sudah pulang" Nenek itu mengernyitkan dahinya bingung. "kok gitu?" ia bertanya.


"biar Sisi bisa mastiin Nenek udah pulang aja. Kaya Kak Tania sama Kak Bobi. Kalau Kak Tania di antar Kak Bobi, Kak Tania nunggu Kak Bobi pulang dulu baru masuk rumah. Katanya biar mastiin, Kak Tania selamat sampai rumah, dan Kak Bobi pulang dengan kondisi baik-baik aja dari rumah" si nenek tertawa mendengar penjelasan polos Sisi.

__ADS_1


"Bobi itu pacarnya Non Tania yah?"


"Kata Kak Tania mereka teman, terus kata Kak Bobi mereka calon jodoh" Nenek itu menggelengkan kepalanya tanda tak habis pikir dengan anak jaman sekarang. Bisa-bisanya mereka bercerita masalah jodoh pada anak sekecil Sisi.


"ya udah, Nenek sekarang balik. Kamu juga masuk, oke?" Sisi mengangguk. "oke!" katanya sambil mengangkat jempolnya.


"Dadah Nenek!"


"Dadah!" balas si Nenek lalu pergi meninggalkan Sisi yang sudah melangkah memasuki gerbang.


Juna yang memperhatikan keakraban dua orang tersebut tersenyum. Anak tadi benar-benar polos, namun kebaikannya sudah memancar walau umurnya masih kecil.


lamunan Juna tentang gadis itu terputus karena deringan ponselnya. "Iya, aku bolos. malas di kelas" ucapnya saat sudah mengangkat panggilan tersebut.


"Oke, iya! aku balik sekarang" Juna lalu memutuskan sambungan telepon dan menghidupkan kembali mesin motornya yang sedari tadi ia hanya ia duduki begitu saja.


Ia melirik ke arah gerbang Sekolah Dasar tersebut. Senyumnya lagi-lagi mengembang. "Kayaknya aku perlu nyari tempat nongkrong dekat sini. Biar bisa ngeliat bocah manis tadi" gumamnya tanpa sadar.


jangan lupa like, koment dan Votenya yah!!😊

__ADS_1


__ADS_2