
Juna berkali-kali mengutuk waktu. Ia sudah kelas tiga dan ia juga tak boleh sering membolos pelajaran. Kemarin, Juna kena ceramah habis-habisan oleh orang tuanya gara-gara dapat laporan sering membolos di jam pelajaran dari guru-guu di Sekolahnya.
Dan mulai saat ini, Juna sudah tak bisa lagi membolos untuk sekedar memperhatikan Sisi dari jauh. Ia masih seringengunjungi tempat itu saat jam istirahat, tapi tentu saja ia sudah tak mendapati Sisi karena jam istirahat mereka berbeda. Bahkan Nenek penjual kue itu berkali-kali menyayangkan tak bisa mengenalkan Juna yang baik hati kepada Sisi.
"Kenap tuh muka kusut gitu? gara-gara nggak bisa bolos lagi yah? emang selama kamu bolos ke mana aja sih?" Agung--sahabat Juna sejak Tk-- bertanya.
Juna mengangguk. lalu menjawab pertanyaan Agung. "SDN Cempaka" jawabnya. Agung terlihat bingung "ngapaian?"
"Beli dagangan nenek di depan gerbang SD itu, skalian ngecengin satu muridnya" jawabnya jujur. Agung menatap Juna horor. ngecengin anak SD? nggak salah?
__ADS_1
"Jun, gila aja yah! Di sini banyak loh Jun cewek-cewek yang naksir kamu, masa kamu harus suka sama anak SD? kamu pedofil yah?" ujar Agung tak habis pikir dengan kelakuan Juna.
"Enak aja, emangnya aku ngapain anak itu sampai kamu bilang pedofil? lagian, aku benaran jatuh cinta kayaknya sama tuh anak! cantik sih, mana baik banget lagi" Juna tersenyum membayangkan Sisi saat menjelaskan tentang gadis kecil itu.
"Tapi tetap aja Jun, orang bakal ngira kamu pedofil. lagian yah Jun, masih banyak kali cewek yang ngantri untuk buat kamu jatuh cinta, kenapa harus anak SD?"
"Aku malas aja sama cewek-cewek alay kayak mereka. Suka nyari perhatian lagi, bukannya jatuh cinta aku malah ilfil" jawab Juna dengan nada kesal karena mengingat para gadis yang sering mencari perhatiannya.
"ya nggak apa-apa. lagian umur kita nggak jauh beda, orang dia udah kelas enam SD. Pasti beda umurnya paling cuma tiga sampai empat tahunan gitu" tanggap Juna dengan santai. Ia menyandarkan badannya di sandaran kursi, lalu memejamkan matanya sejenak. Entahlah, Juna selalu merasa rindu dengan senyum ceria gadis itu ketika bersama Nenek penjual kue tersebut. Dan Juna hanya mampu mengobatinya dengan cara memejamkan matanya dan membayangkan wajah ceria Sisi seperti yang ia lakukan saat ini.
__ADS_1
"terserah deh Jun! Hati memang nggak bisa di paksa. Apalagi hati orang keras kepala kayak kamu" Juna hanya tersenyum kecil mendengar perkataan Agung.
"Oh ya, Jun! SMA nanti kamu mau ke mana?" tanya Agung tiba-tiba.
Juna membuka matanya, lalu menoleh pada Agung yang sedang menatapnya.
"nggak ke mana-mana. Maksud aku yah...di SMA terdekat sini aja. kalau kamu ke mana?"
"Sama sih! Ya udah, kita daftar di SMA yang sama aja. gimana kalau SMA Gemintang aja? katanya di sana cewek-ceweknya pada cantik Jun!" Juna mendengus. "kalau sekolah tu yang dicari tempat yang bagus menuntut ilmunya, bukan yang cantik penghuninya" cibirnya pada Agung.
__ADS_1
Agung tertawa. "maksud aku itu di situ terkenal pintar-pintar muridnya, pendidikannya juga bagus untuk siswanya. kalau para mahluk cantik itu hanya bonusnya" ujarnya membela diri.
"terserah deh Gung! kita coba aja. masuk sana kan nggak gampang juga, perlu berusaha dan nilai ujian kita harus memenuhi standar mereka" kata Juna. Agung mengangguk "iya juga sih. Makanya mulai sekarang kita belajar, dan kamu juga untuk sementara lupakan dulu cinta kamu ke tuh bocah SD" Juna lagi-lagi mendengus, namun dalam hati ia membenarkan perkataan sahabat sintingnya itu.