
"Terima kasih yah, udah nganterin Ilham ke sini!"ucap Nenek Ija. Saat ini ia tengah duduk bersama Ilham dan Ishak di ruang tamu mereka. Wulan sedang berada di dapur membuatkan minuman untuk tamunya.
Wulan datang dari arah dapur sambil membawa nampan berisi teh di tangannya. Ia meletakkan minuman tersebut di atas meja dan kembali masuk ke dalam untuk mengambil cemilan. Wulan meletakkan camilan tersebut di atas meja, lalu gadis itu pergi memasuki kamarnya.
"Maaf yah Nak Ishak, kalau Wulan terkesan nggak ramah" ujar Nenek Ija merasa tak enak.
Ishak menggeleng "nggak apa-apa kok Nek. Ilham tadi udah ngasih tahu alasannya"
Nenek Ija menatap Ilham bertanya. "Ilham cuma bilang Kak Wulan sedikit trauma sama orang kaya" jelas Ilham.
Nenek Ija menghela nafas pelan. Bukannya tak percaya pada Ishak, hanya saja Ishak adalah orang baru dan belum mereka kenal betul-betul. Nenek Ija tak ingin Ilham sembarang menceritakan masalah pribadi mereka pada sembarang orang.
"Ya sudah Nak Ishak, diminum dulu teh-nya" ujar Nenek Ija mempersilahkan.
"Iya Nek!" Ishak mengambil segelas teh tersebut, kemudian menghirup aromanya terlebih dahulu sebelum menyeruputnya.
Aroma teh tersebut tanpa sadar membuat Ishak tersenyum. Entah memang karena aromanya yang nikmat, atau karena ia teringat akan siapa yang membuatnya.
__ADS_1
"Tehnya enak Nek!" ujarnya jujur.
"Oh yah?"
Ishak mengangguk. "Iya Nek. Lebih enak dari semua teh yang pernah saya minum. Rasanya kayak beda gitu"
Nenek Ija dan Ilham saling memandang, kemudian terkekeh pelan. "Padahal tehnya cuma yang biasa di jual di kios-kios loh Nak" ucap Wanita paruh bayah itu.
"Apa karena yang buat Kak Wulan, makanya Kakak bilang gitu?" tanya Ilham. Wajah anak itu menyiratkan kebingungan, tanpa maksud mengejek. Sayangnya wajah Ishak langsung memerah mendengar perkataannya.
"Jangan dengarin Ilham Nak Ishak" ujarnya pada Ishak.
"nggak apa-apa kok Nek. Lagian Ilham wajar nanya kayak gitu, perkataan aku aja yang tadi aneh sampai Ilham nanya seperti itu"
Setelah merasa cukup waktunya untuk bertamu, Ishak berpamitan untuk pulang.
Di dalam mobil, beberapa kali bibir pria yang baru saja selesai wisuda itu melengkung. Ia teringat bahagia di balik kesederhanaan dan kerja keras keluarga yang baru saja ia temui tadi. Ia juga teringat wajah Wulan yang ayu namun terkesan judes padanya. Ia penasaran apa yang membuat gadis itu seperti itu, namun ia rasa jika bertanya pada Ilham, bukankah hal itu terlalu cepat?
__ADS_1
Ishak menggeleng, berusaha memfokuskan dirinya untuk menyetir. Jangan sampai gara-gara memikirkan Wulan ia memgalami kecelakaan. Bisa-bisa rencananya mencari tahu Wulan lebih dalam hanya menjadi angan-angan saja kalau ia celaka.
Ishak memarkirkan mobilnya di Garasi. Ia melirik ke arah mobil yang ada di Garasi tersebut. Mama dan Papanya sudah datang, Ishak yakin ia akan kena marah karena pergi tanpa memberi tahu ke mana.
"Assalaamu'alaikum!" ucapnya saat memasuki rumah.
"Wa'alaikumussalaam. Bagus yah, ninggalin Mama sama Papa di lokasi wisuda, perginya nggak bilang ke mana, Pulangnya malah Mama sama Papa duluan di rumah!" Omelan itu seketika membuat Ishak mencari sumber suara. Ia menatap ke samping, menemukan sang Bunda Ratu yang tengah berkacak pinggang.
"A...anu, Ma. Ishak tadi....ada kendala sedikit di jalan. Jadi pulangnya telat!" ujarnya beralasan.
"Alasan aja kamu! Sekarang mandi, dan setelah itu kembali ke sini. Jelaskan ke Mama tadi kamu ke mana saja!" titah wanita paruh bayah itu tak terbantahkan.
"I..iya Ma!"
Maaf yah, kalau up-nya lama.
like, vote dan komentarnya tatap ditunggu😊
__ADS_1