Sang Pengiring Pengantin

Sang Pengiring Pengantin
Empat Puluh Satu


__ADS_3

Ningsih dan Wita memutuskan untuk memasak bersama di rumah Wita setelah menyelesaikan sesi curhat tadi. Kebetulan orang tua Wita lagi tak berada di rumah, kata Wita mereka sedang berkunjung ke acara nikahan anak dari teman sejawat papanya. Memdengar kata Nikahan entah mengapa Ningsih langsung teringat dengan pernikahannya beberapa Minggu lalu.


Saat tengah asik mengaduk sayur, ponsel Ningsih bergetar menandakan ada panggilan masuk. Ia menyuruh Wita menggantikan kegiatannya dan mengangkat panggilan masuk yang ternyata berasal dari Ibunya.


"Assalaamu'alaikum Ma. Ada apa?" tanya Ningsih. Pasalnya, ini pertama kali Mamanya menghubunginya setelah pernikahan itu.


"Wa'alaikumsalaam, Sayang. Kamu di mana?" Ningsih mengerutkan alis bingung mendengar nada gelisah di pertanyaan Mamanya.


"di rumah Wita, Ma. Ada apa?"


"Juna, Si! Juna kecelakaan! Tadi Mama dikabari sekertarisnya, sekalian nanyain kamu apa ada di sini atau enggak. Katanya kamu dihubungi malah nggak ngangkat panggilannya" Ningsih terkejut mendengar perkataan Mamanya. Badannya seketika gemetar, otaknya dipenuhi ketakutan-ketakutan yang akan mungkin terjadi. Juna kecelakaan! Pasti gara-gara pria itu banyak pikiran. Dan semua yang dipikirkan Juna, jelas saja Ningsih adalah penyebabnya. Dia......menyebabkan Suaminya kecelakaan!


Rasa bersalahnya semakin bertambah karena sedari tadi ia mengabaikan panggilan masuk karena asik bercerita dengan Wita.

__ADS_1


Wita yang melihat perubahan di raut wajah Ningsih, ditambah tubuhnya yang terlihat gemetar seolah sedang ketakutan, akhirnya memilih mematikan kompor dan mendekati sahabatnya itu.


"Si? ada apa?" tanya Wita penasaran.


"Kak Juna, Wi! Ka Juna!" racau Ningsih tak jelas, membuat Wita menariknya ke dalam pelukan.


"Tenangin diri kamu dulu Si! cerita pelan-pelan, Kak Juna kenapa?" Ningsih malah semakin menangis. Melihat Ningsih yang tak kunjung menjawab pertanyaannya, Wita mengambil ponsel yang masih digenggam sahabatnya itu. Ternyata telepon masih tersambung, membuat Wita memilih bertanya pada si penelpon.


"Halo, Tante! Kak Juna emang kenapa?" Tanya Wita.


Wita terkejut, pantas saja Ningsih langsung histeris seperti ini. Wita mengambil kesimpulan kalau sahabatnya itu sudah memiliki rasa pada Juna. Namun sayang, saat akan berusaha mencoba memperbaiki hubungan mereka, malah kabar Juna kecelakaan yang ia dapat duluan.


Wita masih mengobrol dengan Ana--Mama Ningsih, namun semua pembicaraan mereka tak lagi ditangkap oleh pendengaran Ningsih. Ia masih setia memeluk Wita, namun tatapan matanya saat ini terasa kosong.

__ADS_1


"Iya Tante, Wita sedang nenangin Ningsih sekarang! iya, mungkin kaget aja tadi" ujar Wita.


"Ya sudah, tolong temanin Ningsih ke Rumah Sakit yah. Assalaamu'alaikum"


"Wa'alaikumsalaam" jawab Wita sambil memutuskan sambungan telepon.


Ia mengelus punggung Ningsih yang masih berada di dalam pelukannya itu. "Udah, oke!? Sekarang kita ke rumah sakit" katanya menenangkan.


Ningsih tak menjawab, namun mengangguki perkataan Wita. Wita buru-buru memgambil kunci motor miliknya, lalu keduanya melaju menuju Rumah Sakit yang alamatnya sudah Wita dapatkan dari Ana tadi.


Di jalan, berkali-kali Wita mengingatkan Ningsih untuk berpegangan. Karena sedari tadi gadis itu hanya melamun dengan pandangan kosong. Wita tidak tahu hal apa yang membuat Ningsih seperti ini, namun ia sedikit mengerti kalau gadis itu merasa bersalah.


"Si, Pegangan napa sih? jangan melamun terus, entar kalau kamu jatuh gimana? Tenangin diri kamu, oke? Aku yakin Kak Juna nggak bakal kenapa-napa" Ningsih hanya menghela nafasnya kasar, lalu memeluk pinggang Wita. Wita menggelengkan kepalanya atas tingkah Ningsih. Wita yakin, saking terkejutnya Ningsih tak mendengar sampai selesai apa yang diucapkan Mamanya tadi.

__ADS_1


Maaf yah, lama! Pekerjaan memang menyita waktu banyak akhir-akhir ini! Kadi mohon maklum yah, kalau aku lama up-nya.


__ADS_2