
TOK..TOK...TOK!!
Suara ketukan pintu membuat Ningsih yang tengah memasak makan malam menghentikan sejenak kegiatannya. Ingin memanggil Juna namun ia urungkan, pasti Juna tak akan mendengarnya karena pria itu tadi pamit ke kamar.
Ningsih mematikan terlebih dahuku kompornya sebelum membuka pintu. Saat membuka pintu, matanya membelalak. Tubuhnya menegang melihat siapa yang bertamu ke rumahnya itu.
"Kkkaak...Nn..noval?!" gumamnya. Perlahan Ningsih mundur, melihat Noval entah kenapa ia teringat ekspresi Noval saat di Taman kampus tempo hari. Terlebih dengan Noval yang mabuk-mabukan di Klub Malam. Ningsih takut Noval berbuat macam-macam.
Menyadari ketakutan Ningsih, Noval menghela nagasnya kasar. Benar apa yang Wita katakan, gadis itu takut padanya. Hatinya terasa diremas melihat wajah ketakutan Ningsih, ingin rasanya Noval berteriak bahwa hatinya sakit melihat tatapan Ningsih padanya.
"Mas Juna ada?" tanya Noval, berusaha mengabaikan wajah pias Ningsih.
"Dd...di dalam!" jawab Ningsih pelan.
__ADS_1
"Apa aku boleh masuk? ada yang ingin aku bicarakan dengan kalian" pinta Noval. Ningsih mengangguk kaku. Ia membuka pintu dengan lebar, mempersilahkan Noval masuk sebelum meninggalkan Noval sendirian di ruang tengah untuk memanggil Juna.
Ningsih dan Juna menuruni anak tangga bersama. Noval yang melihat pemandangan tersebut mengalihkan tatapannya ke arah lain, berusaha menguatkan hatinya. Jangan sampai Ningsih semakin takut padanya.
"Kalian bicara saja. Aku...mau pamit ke dapur dulu. mau lanjut masak, sekalian ngambilin minum" Ujar Ningsih. Ia sengaja ingin meninggalkan keduanya, karena Ningsih benar-benar merasa canggung berada di antara mereka. Lagipula, ia masih takut berhadapan dengan Noval.
"Tunggu! Aku perlu dengan kalian berdua. Jadi duduklah, Si!" cegah Noval.
Ningsih melirik Juna sebentar, melihat anggukan dari Juna akhirnya ia menurut.
"Aku minta maaf!" ucapan Noval akhirnya memecahkan keheningan yang terjadi.
Juna dan Ningsih menatap Noval terkejut. "Aku minta maaf pada kalian, terlebih pada Si...maksud aku Ningsih! Mungkin selama ini terlalu banyak kesakitan yang aku berikan ke kamu. Bahkan saat kamu membutuhkan aku.....aku malah nggak ada di samping kamu. Dan...saat tau semua kenyataannya, aku malah ngehina kamu. Aku....minta maaf!" jelas Noval panjang lebar.
__ADS_1
"Aku juga minta maaf, jika beberapa hari lalu aku berkata kasar ke kamu. Aku janji, nggak akan mengganggu hubungan kalian. Walau aku nggak bisa janji untuk......" Noval menjeda kalimatnya sejenak. Pria itu terlihat menarik nafasnya dalam, lalu menghembuskannya perlahan. "menghapus cintaku pada Ningsih dengan cepat" sambungnya kali ini lebih pelan.
Ningsih dan Juna masih diam mendengarkan. Mereka tahu masih ada yang Noval ingin sampaikan, jadi mereka memilih menunggu Noval selesai dulu baru mereka memberi tanggapan.
"Aku nggak akan memaksa hati aku untuk melupakan Ningsih. Aku akan biarkan semuanya mengalir mengikuti takdir. Apapun ke belakangnya nanti akan aku terima. Entah aku yang akan semakin sakit atau.....aku akan menemukan cinta lain" Noval menangis mengatakan semuanya. Ningsih dan Juna pun ikut menangis. Semuanya....terlalu berat untuk mereka.
"Walau begitu, aku akan tetap meminta izin pada kalian. Izinkan aku untuk tetap mencintai kamu Si, sampai takdir mempertemukan aku dengan cinta yang baru. Sebenarnya aku tak perlu mengatakan ini pada kalian, tapi....... aku rasa kalian perlu tahu" ujarnya.
Ningsih dan Juna hanya mampu menangis dalam diam.
"Mas minta maaf juga sama kamu. Kamu jangan menyalahkan Ningsih, atau diri kamu sendiri. Di sini, Maslah yang salah. Maafkan Mas" Juna akhirnya ikut membuka suara.
Noval mendongak menatap Juna dan Ningsih yang berada di hadapannya. Ia tersenyum walau air matanya masih mengalir. "Hmmm. Noval maafin Mas. Meski Noval merasa sakit, tapi.... Noval sama sekali nggak bisa membenci Mas. Karena selama ini, Mas adalah kebanggan Noval" Keduanya lalu mendekat dan saling memeluk.
__ADS_1
Dalam tangis Ningsih bernafas legah, akhirnya permasalahannya selesai juga.