Sang Pengiring Pengantin

Sang Pengiring Pengantin
Tujuh Puluh


__ADS_3

jangan lupa like, vote dan komennya😊


Juna dibuat bingung dengan sikap Ningsih sejak sore tadi, tepatnya sejak ia pulang dari Kantor dan mendapati Ningsih sedang melamun di ruang keluarga. Bahkan istrinya itu tak menghubunginya sama sekali setelah mengatakan ingin menghabiskan waktu bersama Wita.


Ningsih hanya menggeleng jika Juna bertanya apa ada sesuatu yang mengganggu pemikirannya, tentu saja hal itu mampu membuat Juna frustasi.


"Dek, sebenarnya kamu kenapa sih? Sejak tadi kerjaannya diamin Kakak mulu. Ditanya hanya mengangguk atau nggak menggeleng sebagai jawaban. Sebenarnya ada apa?" Ujar Juna tak sabaran.


"Apa ketika aku tanya Kakak akan jawab dengan jujur?" Bukannya menjawab pertanyaan panjang Juna, Ningsih malah balik bertanya membuat Juna heran.


"Kakak akan selalu menjawab jujur pertanyaan kamu. Jadi, silahkan tanyakan apapun itu" jawab Juna tegas dan yakin.

__ADS_1


Ningsih menghela nafasnya pelan, ia ragu Juna akan menepati ucapannya. Tapi, mencobanya Ningsih merasa tak mengapa.


"Aku ketemu Kak Tania, tepatnya sebelum insiden aku jatuh di kamar mandi tempo hari" ucapnya mengawali. Ia mengalihkan pandangannya yang sedang duduk di sampingnya, lebih tepatnya, mereka kini sedang duduk di atas ranjang.


Ningsih memperhatikan tubuh Juna yang menegang seketika saat kalimat tadi ia ucapkan. Apa Juna menyembunyikan sesuatu darinya? Ningsih semakin curiga, dan juga.......takut!


"Dia hamil besar. Yang aku tanyakan adalah....anak itu anak siapa?"


Juna semakin menegang. Ia sama sekali tak menyangka jika Ningsih akan bertemu Tania secepat ini. Dan lagi, pertanyaan Ningsih, Juna tak tahu ingin menjawab apa.


"Jangan berpikir macam-macam" ujar Juna berusaha menenangkan Ningsih yang sudah menangis. "Kakak berani bersumpah, kalau Kakak nggak pernah melakukan hal lebih bersama Tania. Bahkan saling berpegangan tangan pun jarang, kecuali dalam keadaan terpaksa. Kakak mohon jangan berpikir yang macam-macam tentang Kakak" sambungnya.

__ADS_1


"Kalau bukan Kakak, terus itu anak siapa? Selama ini cowok yang dekat dengan Kak Tania hanya Kakak kan? Maksud aku setelah Kak Bimo pergi. Dan Kak Tania bukanlah gadis murahan yang suka menyerahkan tubuhnya untuk para lelaki hidung belang" air matanya tak dapat ia tahan, membayangkan jika hal yang ia takutkan adalah kebenaran.


Juna bingung menjawab apa. Mana mungkin ia jujur tentang penyebab kehamilan Tania. Mana munkin Juna mengatakan kalai gadis itu nekat pergi ke klub Malam, lalu mabuk-mabukan, dan berakhir dengan menghabiskan malam bersama cowok yang tak ia kenal? Juna yakin Ningsih tak akan percaya hal itu. Atau kalaupun gadis itu percaya, maka pasti ia akan benar-benar terpukul.


Juna juga belum siap mengatakan penyebab Tania melakukan hal itu. Rasa bersalah Ningsih pasti akan kembali muncul, atau bahkan......gadis itu akan membenci Juna. Karena bagaimanapun, sumber masalahnya ada pada Juna.


"Kenapa Kakak diam? Hmmm? Kakak pasti tahu sesuatu kan? Apa itu penyebab pernikahan kalian yang gagal dan aku harus menggantikan posisi Kak Tania? Iya?" Tanya Ningsih lagi.


Juna menghela nafas kasar. Berusaha menenangkan Ningsih yang sudah mulai meninggikan suaranya. "Kakak memang tahu semuanya" perkataan Juna membuat tangis Ningsih terhenti. Gadis itu menatap Juna lekat.


"Kakak tahu semuanya. Tapi Kakak mohon, jangan paksa Kakak menceritakan semuanya ke kamu. Karena itu bukan hak Kakak untuk bercerita. Tanialah yang berhak, jadi Kakak mohon. Jangan menatap Kakak dengan pandangan seperti tadi. Kakak sakit saat kamu meragukan Kakak. Kakak sakit saat kamu mencurigai bahkan terkesan menuduh Kakak. Kakak mohon jangan seperti itu lagi" dan kalimat panjang lebar dari Juna membuat tangis Ningsih kembali pecah. Bukan, bukan karena rasa takut seperti tadi. Tapi saat ini, ia merasa bersalah karena telah meragukan suaminya. Bukankah waktu delapan tahun Juna tetap mencintainya sudah cukup membuktikan kesetiaan pria itu? Dengan masih menangis, Ningsih menghamburkan diri memeluk Juna. "Maafkan Sisi. Sisi hanya takut kehilangan Kakak, tanpa sadar kalau Sisi menyakiti Kakak" bisiknya dengan suara serak akibat menangis.

__ADS_1


Maaf telat up-nya.


Like, vote dan komennya jangan lupa, biar aku makin semangat😊


__ADS_2