Sang Pengiring Pengantin

Sang Pengiring Pengantin
Tujuh Belas


__ADS_3

Ningsih menidurkan kepalanya di Gazebo yang terletak di halaman Fakultasnya. Wita saat ini sedang mengikuti program Mata Kuliahnya tahun lalu yang tidak lulus, jadinya ia mengulang di semester ini bersama adik-adik tingkat.


Ningsih mendongakkan kepalanya saat merasa seseorang mengelus rambutnya. Matanya membulat saat menemukan Noval yang menatapnya teduh.


"Tidur lagi aja. Biar Kakak jagain!" ujarnya dengan nada lembut. Ningsih menepis pelan tangan Noval "nggak usah Kak! Aku mau ke kantin aja" Ia bermaksud berdiri meninggalkan Noval, namun tangannya dicekal oleh cowok itu.


"Kenapa kamu selalu ngindarin aku beberapa hari ini? Apa aku ada salah sama kamu?" sorot mata Noval berubah sendu saat ia menanyakan hal itu.


"Nggak kok, Kakak nggak ada salah apa-apa. Lagian siapa yang menghindar sih?" elak Ningsih.


"Nggak usah bohong Si! Kalau aku ada salah bilang, jangan marah tiba-tiba kayak gini" Suara Noval mulai meninggi karena kesal beberapa hari ini Ningsih selalu menghindarinya. Bahkan pesan darinya pun tak lagi gadis itu balas.


"Siapa yang marah sih? lagian apa hak aku marah sama Kakak? Aku nggak punya hak kan?" Ningsih ikut meninggikan suaranya, untung saja di sini tidak terlalu ramai. Kalau nggak, bisa-bisa keduanya menjadi pusat perhatian dan santapan sedap para biang gosip.


"Apa maksud kamu? Sejak kapan kamu mulai mempertanyakan hak kamu untuk marah atau tidak? Apa kedekatan kita selama ini belum membuat kamu mengerti bagaimana perasaan aku ke kamu?" Ningsih mendengus. Kenapa bahasannya jadi melebar ke hubungan mereka sih?


"Ckkk, lepasin Kak! Aku benaran lapar, mau ke kantin!" Mau tidak mau Ningsih harus berusaha bersikap seperti biasa pada Noval, daripada cowok itu selalu merecokinya dengan pertanyaan. Lagian Tak mengapakan jika ia tetap berteman dengan Noval? Toh bukan pacaran.


Noval tersenyum mendengar permintaan Ningsih yang seperti terdengar sedikit merengek. "Jadi kamu udah nggak marah?" Ningsih menatap Noval malas. "Harus berapa kali sih aku bilang, aku nggak marah sama kamu" Noval hanya menyengir mendengarnya.

__ADS_1


"Ya udah, sekarang kamu mau ke Kantin kan? Bareng aja kalau gitu, kebetulan beberapa hari ini aku nggak nafsu makan!" Noval menggandeng tangan Ningsih, bermaksud mengajaknya pergi bersama-sama.


"Emangnya kenapa nggak nafsu makan?" Tanya Ningsih heran. setahunya, Noval itu tipe orang yang makan banyak dan apa saja, nggak pilih-pilih.


"Ckk, gara-gara kamu nyuekin aku!" Ningsih kembali mendengus mendengar jawaban Noval.


"mana ada kayak gitu? gombal kan pasti?" tuduh Ningsih.


Noval memasang wajah seriusnya saat mendengar ucapan Ningsih "kamu tahu kalau aku bukan tipe orang yang suka menggombal!" bukannya percaya, Ningsih malah tertawa. Bukannya apa, Noval itu terkenal Play Boy di Kampusnya. Bukan cuma sekali dua kali dia mengenalkan pacarnya pada Ningsih, dan pacar-pacarnya itu hampir tiap hari berganti. Hal itulah yang sering membuat Ningsih sakit hati dan ragu akan perasaan Noval padanya, meski sudah sekitar tiga bulan Noval sudah tak lagi mengenalkan pacarnya pada Ningsih.


Ningsih dan Noval memang dekat sejak lama. Di awali dari Ningsih yang menolong Noval saat Motor cowok itu kempes di tengah jalan. Keduanya akhirnya berkenalan dan tak menyangka kalau mereka Kuliah di kampus dan Jurusan yang sama. Di mana ada Ningsih, di situ ada Noval, begitu kira-kira pendapat anak-anak se-kampus. Bahkan, saat Noval punya pacar dan akan makan di kantin bersama pacarnya, ia terlebih dahulu akan nyamperin Ningsih untuk makan bertiga. Gila bukan?


Semua berjalan seperti semestinya, namun kejadian tiga bulan lalu membuat Noval berhenti memacari perempuan lain padahal ia mencintai Ningsih. Saat itu, ia memacari gadis yang bernama Nafla. Awalnya semua baik-baik saja, sampai Noval mengetahui kalau Nafla sering berniat mencelakai Ningsih. seperti menaruh Kalajengking di tas gadis itu, atau membuat blong rem motor Ningsih. Untung saja semuanya tak berjalan lancar karena Wita memergokinya.


Wita tak langsung mencegah, namun ia merekam semua aksi Nafla. gadis itu juga mencegah Ningsih membuka tasnya dan hanya memyuruh Ningsih mencurahkan semua isi tasnya di halaman kampus yang diikuti Ningsih walau ia merasa bingung. Waktu itu juga Wita mengajak Ningsih pulang bareng dan langsung menghubungi montir untuk memperbaiki motor Ningsih. Karena khawatir, Wita akhirnya memperlihatkan rekaman perbuatan Nafla pada Noval , yang jelas saja membuat lelaki itu seperti kebakaran jenggot.


Kalau saja Ningsih tak menahan Noval, mungkin Noval akan menghajar wajah Fake Nafla tanpa memperdulikan kalau Nafla adalah perempuan. Ningsih akhirnya lebih memilih melaporkan perbuatan Nafla pada Dekan, yang berakhir dengan Surat D.O untuk Nafla karena perbuatannya yang sudah seperti Psikopat gila. Kabarnya, orang tua Nafla mengirimkan anaknya itu untuk Kuliah di luar negeri, dan semenjak saat itu Noval tidak pernah lagi berpacaran dengan perempuan lain.


"Si, Kok kamu melamun?" tanya Noval saat Ningsih hanya melamun di mejanya, padahal Noval sedang bertanya menu apa yang akan ia pesan.

__ADS_1


"Hah?! oh...eh, apa?" Noval tertawa karena respon Ningsih yang terlihat Ling-lung. "itu pesanan!"


"oooh, terus Kakak mesan apa?" tanya Ningsih.


"Bakso sama Es Teh! kamu melamun, kenapa? ada masalah?" Ningsih menggeleng, lalu tersenyum. "Enggak, tiba-tiba keingat aja kejadian tiga bulan lalu". Rahang Noval langsung mengeras mendengar jawabannya, jelas saja! Bahkan sampai sekarang ia tak bisa memaafkan perbuatan mantannya itu. Noval bahkan waktu itu menangis, menyalahkan dirinya sendiri karena hampir membuat Ningsih celaka. Untung saja Ningsih sering menghiburnya dan mengatakan kalau itu bukan salahnya, lagian juga Ningsih nggak kenapa-napa kan? yah...meskipun nyaris sih!


Ningsih mengelus punggung tangan Noval, membuat cowok itu menghembuskan nafasnya kasar. Ia tahu, Ningsih pasti tidak suka karena ia masih menyimpan dendam dan masih belum memaafkan mantannya itu.


"Kak, nggak baik loh nyimpan dendam. lagian kan, Nafla udah minta maaf, orang tuanya juga bahkan meminta maaf. Bahkan, ia sudah merasakan akibat dari perbuatannya sendiri. Aku nggak mau Kakak nyimpan amarah lama-lama. Itu nggak baik Kak. Aku akan lebih senang kalau Kakak menjadi orang yang pemaaf!" Nasihat Ningsih panjang lebar.


"Iya sayang, Kakak akan mencobanya yah? jangan lupa juga ngingatin Kakak kalau Kakak khilaf!" Ningsih membeku mendengar kata sayang yang diucapkan Noval. Entahlah, hatinya tiba-toba merasa bersalah pada Juna. Walaupun ia dan Noval tak melakukan apa-apa dan juga tak mempunyai hubungan spesial. Padahal hanya kata sayang, kenapa otaknya langsung memikirkan Juna?


Ningsih reflek menarik tangannya yang sudah berpindah posisi dalam genggaman Noval. Noval memandang Ningsih heran, perasaan ia sering menggenggam tangan Ningsih dan gadis itu akan senang-senang saja. Tapi kenapa Ningsih langsung menarik tangannya kali ini?


"Kenapa?" tanya Noval.


Ningsih mati-matian memutar otak mencari alasan dengan cepat dan tepat. "Ah, enggak! Aku...aku kehausan Kak, aku mau beli air minum dulu Kak!"


"Loh, kan sebentar lagi pesanan kita datang. Ada minumannya juga, kenapa harus beli lagi?"

__ADS_1


Ningsih gelagapan. "Ah, itu....aku udah nggak tahan hausnya. Aku pergi dulu yah, nggak lama kok!" setelah menyelesaikan ucapannya, ia langsung berjalan mendekati Stand Minuman. "Kenapa sih? nggak biasanya?" gumam Noval.


__ADS_2