
jangan lupa mampir ke ceritaku yang lain😊
Ningsih mengambil ponselnya yang sedari tadi bergetar pertanda ada panggilan masuk. Di lihatnya nama Juna tertera di sana.
"Assalaamu'alaikum, Kak!" ujarnya dengan suara serak khas orang habis menangis.
'Wa'alaikumsalaam! Sayang, suara kamu kenapa? kamu nangis?' terdengar suara khawatir Juna di seberang sana.
"Aku....ke kantor Kakak bisa?" Ningsih memilih tak menjawab perkataan Juna. Biarlah ia akan menjelaskannya secara langsung nanti.
'oke! tapi Kakak jemput yah. Sekarang kamu di mana, biar Kakak samperin kamu ke sana'
Ningsih menggeleng pelan. "nggak usah Kak. Biar Sisi naik taksi aja, udah ya. Assalaamu'alaikum" Ningsih langsung mematikan sambungan telepon tanpa membiarkan Juna mendebat kalomatnya lagi. Ia lalu memilih beranjak keluar dari Kafe itu untuk mencari Taksi.
Ningsih melangkah dengan pelan memasuki perusahaan milik Juna. Ada beberapa Karyawan Juna yang menyapanya yang hanya dibalasnya dengan senyum dipaksakan.
Sebenarnya Ningsih sudah sering ke sini sebelumnya, tentu saja dengan status sebagai sepupu dari pacar Juna. Tapi kali ini berbeda, statusnya saat ini adalah seorang istri Arjuna Putra Wibowo, sehingga para karyawan menyapanya dengan cara menundukkan sedikit kepala mereka sebagai rasa hormat dan Ningsih merasa tak nyaman akan hal itu.
Ningsih dengan langkah dipercepat menuju ruangan Juna. Bersyukurlah Ningsih karena ia sudah hafal akan seluk beluk perusahaan yang tergolong luas itu.
Dengan pelan, diketuknya pintu berwarna kecoklatan itu. Pintu terbuka dari dalam menampakkan sosok Tino, sekertaris Juna.
__ADS_1
"Eh, ada Bu Ningsih! Silahkan masuk Bu, Pak Juna udah nunggu sedari tadi" ucap Tino sambil cengengesan. Ningsih mendengus, ia tahu Tino sedang mengejeknya dengan menekankan setiap kata Ibu. Kalau tidak ingat Tino lebih tua darinya, sudah dia pastikan pria itu akan mendapatkan jitakan maut darinya.
"Udah, ah! Makasih infonya Bapak Tino sekertaris suami saya" balas Ningsih sebelum mendorong tubuh Tino yang masih berdiri di ambang pintu.
Tino tertawa pelan, pantas saja bosnya itu tergila-gila pada ningsih, ternyata gadis itu sangat lucu di balik sikapnya yang terlihat anggun.
"Jangan lupa kunci pintunya yah, suaranya juga jangan dikerasin, dipelanin aja!" ujarnya berteriak sebelum menutup pintu.
Ningsih menatap pintu yang sudah tertutup dengan pandangan tak mengerti, lalu beralih pada Juna yang sudah berdiri di dekat mejanya dengan wajah memerah. Ningsih memilih tak menghiraukan, toh si Tino memang nggak jelas.
Juna berusaha menghilangkan rasa panas di wajahnya, lalu mendekati Ningsih yang baru saja datang.
Ia menarik Ningsih ke pelukannya, ia meneliti wajah gadis itu yang terlihat sedikit sembab. Juna yakin pasti Ningsih berdandan terlebih dahulu untuk menyamarkan wajahnya yang kacau.
"Ada apa?" tanya Juna lembut. Dan saat itulah tangis Ningsih pecah. Juna memilih diam, menunggu sang istri tenang terlebih dahulu. Setelah tangisan Ningsih tak terdengar lagi, ia kembali berkata "cerita sama Kakak. Kakak akan selalu jadi pendengar yang baik untuk kamu" ujarnya pelan.
Ningsih mendongak, masih dalam pelukan Juna. "Kakak janji dulu tapi, kalau Kakak nggak akan marah" Juna mengerutkan alisnya bingung. Namun ia memilih mengangguk "ke siapapun?" sekali lagi Juna mengangguki.
"Aku.....udah jujur sama Kak Noval" Ningsih mulai bercerita, tentunya masih dalam pelukan Juna.
Juna tersenyum mendengarnya. Ternyata gadis itu memilih menceritakan semuanya lebih cepat pada Noval. Juna semakin yakin kalau Ningsih benar-benar ingin memulai semuanya dari awal dan akan bekajar membalas cintanya.
__ADS_1
"terus gimana reaksi dia?" tanya Jjna hati-hati.
"Dia.....dia marah, dan nggak terima. dia...nud..uh Sisi hianatain dia. Dddiaa...bilang... sisi murahan" Juna memejamkan matanya sejenak mendengar kalimat Ningsih. Terlebih gadis itu mengatakannya dengan sesegukan.
Juna memang menduga Noval akan marah, tapi mengatakan Ningsih penghianat dan murahan tanpa tahu yang sebenarnya adalah salah.
"Sisi.... Sisi nggak tahu gimana cara jelasinnya ke Kak Noval yang sebenarnya. Dia udah terlanjur kecewa pas aku bilang....aku bilang...kita udah nikah" Juna mengelus kepala Ningsih dengan lembut.
"udah, yah.... Nanti Kakak bantuin kamu ngejelasinnya. Kakak minta maaf, gara-gara Kakak hubungan kamu sama Noval....." Ningsih langsung melepas pelukan Juna sehingga membuat kalimat Juna terputus.
Ningsih memandang Juna tajam. "Kenapa jadi kakak yang merasa bersalah? Di sini nggak ada yang patut disalahkan, bukankah ini sudah jalan takdir? itukan kalimat yang Kakak ucapin sejal awal?" ujar Ningsih dengan kesal, sedangjan Juna hanya diam.
Ia menyentuh kedua pipi Juna dengan lembut "Kak, aku sudah berjanji menerima semuanya dan itu benar-benar tulus dari hati aku. Aku nggak mau Kakak tiba-tiba mundur disaat aku sudah memilih untuk maju" ujarnya meyakinkan.
Juna segera tersadar dari kesalahannya, ia langsung memeluk Ningsih karena merasa terharu dengan semua perkataan gadis itu.
"Iya. Maafin Kakak sayang. Mulai sekarang kita hadapi semuanya sama-sama yah" Ningsih mengangguk dengan senyum di pelukan Juna. Ningsih bahagia, melupakan sejenak kesedihannya tentang masalah Noval tadi.
"Love you!" ucao Juna yang hanya dibalas pelukan semakin erat oleh Ningsih.
Manis? baper? atau perasaan lain?
__ADS_1
like, komen dan votenya jangan lupa yah!