Sang Pengiring Pengantin

Sang Pengiring Pengantin
Tiga Puluh Delapan


__ADS_3

"Jadi.....jadi selama ini Kakak sama Kak Tania bersandiwara? kalian bohongin kita semua selama delapan tahun ini? wah.... harusnya kalian ikut Casting film aja, karena kalian benar-benar cocok jadi Aktor sama Aktris" ujar Ningsih dengan sinis setelah Juna mengakhiri cerita penyebabnya dan Tania sampai berpacaran.


Juna hanya diam, tak mengelak ataupun mengiyakan. Karena pada kenyataannya, Juna selama ini tak tahu apa Tania menganggap hubungan mereka sandiwara atau serius.


"Astaga.... Hahahaha, lucu banget yah kalian! Oh yah, menurut Kakak aku harus gimana saat mendengar cerita Kakak? Oooh, aku harus gembira yah karena Kakak ternyata mencintai aku bahkan sejak dulu. Atau aku harus bersedih, karena nyatanya Kakak sama Kak Tania, yang bisa dikatakan sebagai orang paling terdekatku, kalian ternyata tak lebih dari seorang penipu" sarkas Ningsih.


Juna berlutut di hadapan Ningsih, "Maafin Kakak Si, Kakak tahu cara Kakak salah! Maka dari itu selama ini Kakak selalu berusaha menyembunyikan kenyataan ini dari kamu, Kakak takut kamu akan pergi dari Kakak. Kakak takut, Si" Juna bahkan tak malu menangis sambil meletakkan kepalanya di lutut Ningsih yang tengah duduk di atas ranjang dengan kaki menjuntai ke bawah.

__ADS_1


Ningsih ikut menangis. Ia bingung harus apa. Semuanya di mulai dengan kebohongan sejak awal, dan Ningsih takut akan hal itu. Ningsih yakin kalau Tania mungkin mencintai Juna, karena selama ini Tania selalu mengatakan padanya kalau Juna adalah 'pria paling romantis dan ia takut kehilangan pria itu', kata-kata itulah yang sering Tania katakan padanya.


Ningsih terlalu takut dengan pernikahan ini. Semuanya ternyata lebih rumit dari yang ia bayangkan. Ia merasa bersalah pada Tania, karena tanpa ia sadari Tania pasti merasa sakit karena dirinya. Walaupun dari awal semua ini adalah usul Tania, tapi dengan semua curhatan Tania tentang Juna, Ningsih yakin secara nggak langsung Tania berusaha membuatnya sadar akan posisinya dan bodohnya Ningsih tak peka akan hal itu. Bahkan dengan tak tahu dirinya, Ningsih selalu mengiyakan setiap pasangan itu mengajaknya pergi bersama, juga Ningsih tak pernah melarang saat Juna memberikan perhatian yang berlebihan padanya dibanding Tania. Ningsih merutuki dirinya sendiri yang tak pernah curiga akan hal itu.


Ningsih mengengkat kepala Juna yang masih tetap pada posisinya tadi, membuat mereka saling bertatapan "Aku..... aku rasa aku terlalu egois kalau mengatakan kalau aku butuh waktu Kak. Tapi... aku akan tetap meminta itu pada Kakak. Kakak tahu, mungkin secara tak langsung Kakak menyakiti Kak Tania, dan penyebabnya adalah aku. Aku menyayangi Kak Tania, sangat! Bagiku dia bukan lagi aku anggap saudara sepupuku, tapi dia sudah ku anggap saudara kandungku sendiri. Aku sebenarnya tidak ingin menyalahkan siapapun, karena posisinya kita semuanya salah walau aku nggak tahu apapun soal itu" ia menjeda sejenak.


Ningsih tak dapat membayangkan bagaimana kuatnya Tania saat Juna lebih mengikuti kemauan Ningsih ke manapun saat mereka berkencan di hari libur, dibanding mengajak ke tempat yang Tania mau.

__ADS_1


"Maaf....maafin Kakak, sayang! maafin Kakak" racau Juna. Inilah yang Juna takutkan selama ini. membuka rahasia tersebut jelas akan menyakiti Ningsih, juga mungkin dampaknya akan benar-benar menyakiti Juna.


"Jangan berpikir untuk ninggalan Kakak, yah sayang! Kakak mohon, jangan tinggalin Kakak" Ningsih menatap mata Juna dalam. Ia dapat melihat betapa besar ketakutan pria itu jika ia tinggalkan. Tapi.... untuk saat ini Ningsih masih bingung harus berbuat apa.


"Aku.... aku....."


Gimana? tegang nggak bacanya? gantung yah? kalau gitu, silahkan like, dan koment sebanyak-banyaknya. Votenya juga jangan lupa, biar Sisi sama Juna bisa meraih peringkat dan bersanding dengan novel-novel lainnya, kan kasihan kalau mereka ketinggalan jauh sama yang lain.

__ADS_1


__ADS_2