Sang Pengiring Pengantin

Sang Pengiring Pengantin
Ardiana Part 1


__ADS_3

Semalam aku up, tapi karena ngantuk aku malah up-nya di sang pengiring pengantin 2. Dan pagi ini baru nyadar. Untuk yang udah baca di sana, mohon maaf. Itu kesalahan teknis.


Seorang pria terlihat sedang duduk sendirian di kursi Taman sambil menundukkan kepalanya. Beberapa hari ini, ia mempunyai hobi merenung sendirian di sana, tak ada yang tahu entah apa yang dipikirkan oleh pria tampan dengan tampilan terkesan acak-acakan itu.


Ia mengacak rambutnya frustasi. "Ehm" suara deheman seseorang membuatnya terkejut. Ardi mengangkat kepalanya, memastikan siapa yang mengganggu masa berenungnya. Tampaklah di hadapannya seorang gadis, mungkin berumur beberapa tahun di bawahnya.


"Hy!" sapa gadis itu namun tak dihiraukan Ardi.


"Aku perhatikan sudah beberapa hari ini Kakak mengisi tempat ini" ujarnya sambil mendudukkan diri di samping Ardi.


Ardi tak menjawab, menimbulkan decakan kecil dari gadis di sampingnya itu. "Kamu nggak bisa bicara? Oohh....aku tahu sekarang. Kamu berada di sini karena kamu mengalami hal berat akhir-akhir ini. Apa tebakanku benar?"


Ardi memandang tajam gadis cerewet itu "Bukan urusan kamu" ujarnya dengan ketus.

__ADS_1


"Iya juga sih. Tapi.......kamu menempati tempat favorit aku, jadi itu akan jadi urusan aku. Kamu tahu? sebelum kamu datang akulah penguasa bangku ini. Tapi setelah kamu datang ke sini dengan tampilan jelekmu beberapa hari lalu, aku terpaksa duduk di sisi lain taman ini. Dan hari ini, kesabaranku sudah habis. Aku mau kamu mengembalikan tempatku!" gadis itu balik menatap Ardi dengan pandangan tajam pula.


ckk! jadi gara-gara tempat ini ia harus berurusan dengan cewek aneh ini? Astaga! dasar kekanak-kanakan!


"Memangnya taman ini milik kamu? enggak kan?" Skak! gadis itu terdiam. Ia menggaruk tengkuknya yang tak gatal "Tapikan aku selalu menempati bangku ini sejak lama. Jadi aku punya hak dong, untuk ngusir kamu"


"Dasar kekanak-kanakan!" cibir Ardi langsung. "Aku nggak kekanak-kanakan yah! Emang sih, muka aku itu baby face. Jadi aku makl...."


"Sembarangan yah kalau ngomong! Jangan bawa-bawa tua, aku jadi keingat sama tuntutan menikah dari orang tua aku karena faktor umurku! Huaaaa!!" Ardi melotot kaget saat gadis itu malah curhat dan menangis kencang. Tak membutuhkan waktu lama mereka sudah menjadi pusat perhatian di tengah ramainya taman. Buru-buru Ardi menarik gadis itu ke dalam pelukannya, sambil menepuk-nepuk bahunya seolah menenangkan.


"Mas, itu istrinya kenapa nangis gitu?" Tanya seorang Ibu-ibu. Ardi gelagapan mencari jawaban. "Ehmm...itu. Anu Bu. Ah itu, saya nggak menuhin ngidamnya dia, jadi dia nangis deh. Maklum Bu, Bumil sensitif"


Gadis yang berada di pelukannya itu seketika tersadar saat mendengar perkataan Ardi. Apa katanya? Bumil? Astagfirullah! Sejak kapan Dia hamil? buatnya aja di belum pernah?

__ADS_1


"Oh, gitu yah Mas. Kalau menurut saya yah Mas, mending ngidam istrinya dipenuhi. Takutnya nanti anaknya ileran Mas!" nasehat si ibu.


"Iya Bu. Makasih yah Bu, sarannya"


"sama-sama"


Diana atau Dia--nama gadis di pelukan Ardi itu tersenyum senang memikirkan sesuatu untuk mengerjai Ardi.


"Ya udah Kak, penuhin ngidam aku sekarang. Aku mau Make Up-in Kakak di taman ini. Terus Kakak harus lari ngelilingi taman!"


Orang-orang yang dari tadi memandangi Ardi dan Diana saling memandang penuh rasa penasaran, Mereka membayangkan bagaimana cowok tampan itu berkeliling dengan menggunakan Make up.


Vote, likedan komentarnya .

__ADS_1


__ADS_2