
"jelaskan dari mana saja kamu tadi! Bahkan Mama masih belum puas ngambil foto wisuda kamu tadi" ujar Endah, Ibu Ishak.
Ishak mendengus malas, siapa suruh tadi Mamanya hanya sibuk menggosip dengan Ibu-ibu di sana. Sekarang malah ia yang disalahkan, padahal tadi aja Ishak sama Papanya dicuekin.
"Jangan perlihatkan muka malas kamu itu. Mama tahu kamu lagi mencibir Mama dalam hati" Teguran Endah membuat Ishak seketika merubah mimik wajahnya. Ia berpikir sebentar, apa karena hubungan darah sampai Mamanya tahu apa yang tengah ia pikirkan?
"Mama cuma nyuruh kamu jelasin, kamu pergi ke mana tadi. Bukan melamun kayak gini"
Ishak akhirnya menghela nafas pasrah, Mamamya tak akan puas jika ia tak menjelaskan seperti perintahnya. Mamanya memang selalu seperti itu. Sebesar dan sedewasa apapun Ishak sekarang, tetap saja ia selalu penasaran saat Ishak tak terlihat dari jangkauan matanya. Ishak memang senang karena itu tandanya sang Mama sangat menyayanginya. Hanya saja terkadang ia merasa risih karena tak bisa menyimpan rahasia pribadinya. Ingin mengatakan kebohongan ia malah takut dosa.
"Ishak tadi hampir nabrak orang di jalan Ma!" jawabnya.
Endah terperangah kaget, matanya melotot menyoroti Ishak. "Terus gimana? Orangnya nggak kenapa-napa kan? Kamu bawa korbannya ke rumah sakit kan?" cerocosnya.
__ADS_1
Ishak menggeleng pelan melihat kekhawatiran Mamanya. "Ishak bilangnya hampir Ma, bukan udah!"
Endah menghela nafas legah, kemudian wanita itu menyengir pelan. "Mama kirain!"
"Terus, apa hubungannya sama kamu yang pulang terlambat?"
"Ishak nganterin dia pulang dulu Ma. Soalnya dia lagi buru-buru gitu" jelas Ishak.
"Dia nggak sabar ingin nunjukin gaji pertamanya ke keluarganya. Makanya Ishak anterin, biar cepat"
Wajah Endah seketika berubah saat Ishak mengatakan 'gaji pertama'. "Maksud kamu? Dia bekerja tapi nggak punya kendaraan gitu?"
Ishak menggeleng, kemudian mengangguk. "Iya. Dia masih sekolah Ma. Dia kerja paruh waktu gitu"
__ADS_1
Endah terdiam, entah apa yang dipikirkan wanita itu. Tak berapa lama ia beranjak, namun sebelum pergi ia mengucapkan kalimat yang memang sering ia ucapkan, namun kali ini rasanya Ishak tak bisa terima.
"Mama harap kamu hanya sekedar mengantarkan saja. Dan jangan sampai mengulang pertemuan kalian, baik disengaja maupun tidak!"
"Tunggu Ma!" cegah Ishak saat Endah kembali ingin melangkah. "Kenapa Mama selalu melarang Ishak bergaul dengan orang yang nggak mampu. Memangnya apa salahnya bergaul dengan mereka? Toh kita sama-sama manusia. Kita sama-sama mahluk Allah. Bahkan dengan melihat kehidupan mereka Ishak jadi banyak belajar dari mereka" setelah sekian lama, akhirnya semua pertanyaan itu keluar juga dari mulut Ishak. Ia penasaran akan alasan orang tuanya yang tak pernah mengizinkannya bergaul dengan kalangan orang yang tak mampu. Bahkan sejak ia sekolah pergaulannya selalu dibatasi.
"Ikuti saja kata-kata Mama. Dan jangan sampai Papamu tahu apa yang kamu lakuin hari ini. Karena dia bakalan lebih marah lagi dibandingkan Mama!"
Ishak terduduk lemas di atas sofa saat sang Mama kembali melanjutkan langkahnya. Ia mengusap wajahnya kasar. Orang tuanya memang sangat baik, namun berbeda saat mereka menghadapi orang tak beruang. Mereka seolah punya ketakutan sendiri yang sampai saat ini Ishak masih tak dapat mengetahuinya.
"kalau seperti ini, bagaimana dengan Wulan? Baru kali ini aku penasaran dengan seorang gadis, tapi kenapa harus dari kalangan orang yang sama sekali tak disukai orang tuaku? Apa aku salah kalau aku menyesal terlahir di keluarga Kaya?" Ishak menggeleng pelan saat pikirannya mulai memikirkan hal yang tidak-tidak.
Maaf jika aku terlalu lama nggak up. Inshaa Allah mulai besok aku akan coba meluangkan waktu untuk kembali melanjutkan karyaku. Meski mungkin akan up tiga hari atau dua hari sekali. Like, vote dan komentarnya jangan lupa.
__ADS_1