
vote, like dan Komennya jangan lupa😊
Juna dan Ningsih melangkah mendekati sebuah rumah kecil minimalis yang terlihat teduh karena banyaknya tanaman bunga di halamannya. Ningsih meremas tangan Juna karena takut. Takut jika ia tak dapat mengendalikan dirinya saat nanti mendapat penjelasan dari orang yang memiliki rumah tersebut.
Juna mengetuk pintu itu beberapa kali. Langkah kaki terdengar mendekat dari dalam sana. tak berapa lama, pintu terbuka menampakkan sosok wanita hamil besar dengan wajah terkejutnya.
Tania hendak kembali menutup Pintu rumahnya, namun gelengan Juna membuat ia mengurungkan niatnya.
"Kami ingin menemuimu! Ada yang ingin kami bicarakan" ucap Juna meyakinkan. Tania akhirnya mempersilahkan pasangan tersebut untuk masuk.
"Ada apa?" Tanya Tania tanpa basa-basi.
"Sisi butuh penjelasan. Aku rasa ini waktu yang tepat. Lagipula, ini sudah terlalu lama kamu bersembunyi dari dia" jawab Juna. Ia kemudian berpamitan menunggu di luar. Ia sama sekali tak ingin mengganggu pasangan sepupu tersebut berbicara.
"Kamu butuh penjelasan yang mana? Aku berpacaran dengan Juna? Pernikahan kami yang batal karena aku kabur dan akhirnya kamu yang terjebak? Atau....tentang kehamilanku?" Tanya Tania dengan datar.
Ningsih menatap Tania sendu. Sebenarnya, ia sangat merindukan perempuan di depannya ini. Mereka sejak dulu selalu bersama, tak pernah ada jarak seolah mereka saudara kandung, tapi kini Tania yang di depannya terlihat seperti orang lain.
__ADS_1
"Semuanya!" Jawab Ningsih berusaha menepis semua pemikirannya tadi.
"Hhhufft" Tania terlihat menghela nafasnya. Sebelum tatapan datarnya tadi berubah menjadi sendu. Ningsih yang menangkap hal tersebut seolah mengerti, kalau banyak hal berat yang dilalui Tania tanpa sepengetahuannya. Dan tentu saja, ia merasa bersalah akan hal itu.
"Aku akan menjelaskan semuanya" ujar Tania akhirnya setelah berdiam beberapa detik. Ningsih hanya diam, bersiap mendengarkan.
"Sejak awal mengusulkan untuk berpura-pura pacaran itu memang murni sebagai rasa ingin membantu Juna. Karena aku tahu, bagaimana sikap protektiv Om Ata ke kamu" Tania diam sejenak, lalu kembali menghela nafasnya kasar.
"Namun, lama kelamaan perasaan itu berubah. Melihat Juna memperlakukanmu dengan manis, aku merasa sangat iri. Aku teringat bagaimana dulu Bimo memperlakukan aku sebelum kepergiannya. Aku jadi menginginkan berada di posisi kamu. Dan rasa cinta aku ke Bimo juga perlahan hilang, berganti dengan rasa mencintai Juna, sesuatu yang seharusnya tak aku rasakan" Ningsih masih mendengarkan dengan baik semua kalimat yang keluar dari mulut Tania.
"Tapi walau begitu, aku tetap egois ingin menggantikan posisi kamu. Sehingga aku sering mengatakan ke kamu, kalau aku sangat mencintai Juna, dan takut kehilangan dia. Kamu yang terlalu polos, hanya mengangguk-angguk mengerti. Tanpa kamu tahu, kalau sebenarnya aku ingin menegaskan posisiku di hidup Juna, walau sebenarnya tak seperti itu. Aku ingin kamu mengerti dan menjauh dari Juna. Tapi kamu sama sekali tak mengerti. Aku ingin marah, tapi lagi-lagi aku nggak bisa. Aku terlalu menyangimu" Tania mulai terisak. Mengingat bagaimana kebodohannya karena iri terhadap Ningsih, dan diam-diam ingin mengusir Ningsih dari hidup Juna, padahal gadis itu sama sekali tak tahu apa-apa.
"Kamu tahu? Berkali-kali Juna mengatakan ingin mengakhiri sandiwara kami. Tapi aku melarangnya, dengan mengatakan kalau hubungan kami kandas, pasti kamu akan marah padanya karena menganggap dia menyakiti aku. Juna akhirnya luluh, dan alasan itulah yang selalu kupergunakan saat ia ingin mengakhiri hubungan pura-pura kami. Tanpa dia sadari, kalau itu hanyalah sebuah ancaman agar dia tetap bertahan dan selalu berada di sisiku"
"Aku berusaha bersabar dan tak terlalu memperlihatkan rasa cemburuku. Sampai saat kamu kuliah, dan bertemu Noval. Aku mencari tahu tentang Noval, aku ingin mengetahui semua tentang dia, tentu saja bukan cuma berdasarkan cerita-cerita kamu. Dan aku terkejut mengetahui fakta bahwa Noval adalah sepupu Juna. Dan saat kamu mengatakan menyukai Noval, aku senang. Setidaknya, aku punya kesempatan untuk membuat Juna berpaling ke aku karena kamu mencintai pria lain, apalagi itu adalah sepupu tersayangnya. Aku dengan liciknya menceritakan pada Juna kalau kamu menyukai seorang pria, dan tak lain pria itu adalah sepupunya sendiri" Ningsih menatap tak percaya pada Tania. Ia benar-benar tak habis fikir kenapa Tania sampai berbuat selicik itu.
"Juna terpukul, ia terpuruk, dan aku selalu berada di sisinya, berusaha menghiburnya. Ditambah lagi, orang tua kita sama-sama mulai mendesak agar kami segera menikah karena hubungan kami terbilang sudah cukup lama. Hingga suatu hari, entah kegilaan seperti apa yang muncul di otak Juna, ia mengatakan ke aku, kalau dia ingin hubungan kita benar-benar serius. Dia bilang, ia akan berusaha mencintaiku, dan juga berusaha membuatku jatuh cinta tanpa ia tahu kalau aku sudah sangat lama terjatuh padanya" Ningsih benar-benar tak menyangka kegilaan dua orang itu.
__ADS_1
"Dan Kakak menerimanya?" Tanya Ningsih pelan. Tania mengangguk "iya. Jelas saja aku menerimanya, karena hal itulah yang aku tunggu selama ini. Sampai......."
"Sampai?" Tanya Ningsih penasaran.
"Sampai waktu pernikahan kami semakin dekat, Juna tak pernah membuktikan keseriusan ucapannya. Nyatanya, ia sama sekali tak berniat mencintai aku, atau berusaha membuat aku jatuh cinta seperti perkataannya dulu. Aku stres, aku sedih, kecewa, dan malam itu......." Tania mulai terisak, membuat Ningsih khawatir. Karena bagaimanapun, Tania saat ini sedang hamil.
"Jangan diterusin, kalau itu membuat hati Kakak sakit!" Cegah Ningsih saat Tania kembali ingin membuka suara.
Tania menggeleng "enggak! Kamu harus tahu semuanya. Benar kata Juna, ini sudah terlalu lama untuk menyembunyikan semuanya dari kamu" Ningsih akhirnya hanya mampu menghela nafas pasrah mendengar kekeras kepalaan Tania.
"Hari itu....Kakak menginjak tempat yang seharusnya tak pernah Kakak kunjungi. Kakak ke Klub Malam, meminum banyak minuman memabukkan, dan paginya......." tanpa sadar, Tania kembali menyebut dirinya 'Kakak' selayaknya dulu.
Ningsih tahu kemana ujung pembicaraan ini. "Kakak terbangun dengan seorang pria di samping Kakak" akhirnya kata itu keluar dari mulut Tania. Ningsih tak tahu harus bereaksi seperti apa, entah ia harus kecewa, atau harus gembira karena anak itu bukanlah anak Juna.
Like, vote dan komennya jangan lupa😊
Jangan lupa juga mampir ke karya aku yang lain.
__ADS_1