
Ningsih memperhatikan Rumah yang saat ini ditinggalin Nenek Ija dan cucu-cucunya. Rumah tersebut sudah berubah walau masih ditemoat yang sama. Gubuk reotnya yang dulu sudah berganti dengan rumah layak tinggal. Pantas saja Wulan sangat berterima kasih pada Juna. Penghasilan dari kantin ternyata mampu menutupi kebutuhan mereka.
"Ayo masuk Mbak! Nenek pasti senang banget!" ajak Wulan. Gadis itu kemudian melangkah ceria ke arah pintu.
"Assalaamu'alaikum, Nek! Nenek di mana? Coba lihat, aku bawa siapa!" teriaknya. Ningsih dan Juna menggeleng pelan melihat tingkah gadis itu.
"Wa'alaikum salaam! Nenek udah bilang, kalau masuk rumah jangan teriak-teriak Wulan" Ujar seorang wanita berumur senja sambil mendekati Wulan.
Wulan terkekeh sebagai tanggapan. Ia menarik tangan Nenek Ija mendekat pada Ningsih dan Juna. "Lihat Nek, Wulan bawa siapa?"
Nenek Ija memandang dua orang itu bingung. "ini siapa?" tanyanya bingung.
"Hehehe! Kenalan dong Nek!" canda Wulan. Ningsih dan Juna terkekeh pelan, keduanya kemudian menyalami tangan Nenek Ija.
"Aku Ningsih Nek, masa Nenek lupa sih!" Ningsih berpura-pura cemberut. Nenek Ija membulatkan matanya, wanita tua itu kemudian langsung menghambur memeluk Ningsih dan menumpahkan tangisnya.
"Ini benaran Ningsih? Sisi-nya Nenek? Nenek pikir kamu udah lupa sama Nenek!"
__ADS_1
Ningsih pun ikut menangis. "Mana mungkin Sisi lupa sama Nenek! Nenek kan Neneknya Sisi"
"Oh yah Nek, Sisi juga mau ngenalin Nenek sama seseorang" Ningsih melepas pelukannya dan menghapus air mata Nenek Ija.
"siapa Nak? pacar kamu?" tanya Nenek Ija sambil memandang Juna.
Ningsih menggeleng "suami Sis, Nek!" bisiknya.
"Apa?! Suami?!" pekik Nenek Ija. "Sisi udah nikah?"
Ningsih mengangguk dan mengode Juna untuk memperkenalkan dirinya. yah....meskipun sebenarnya Nenek Ija sudah mengenal Juna sih.
"Masyaa Allah! Kamu Juna yang membantu Nenek itukan? Astaga! Nenek nggak nyangka kalian jodoh!" pekiknya sekali lagi.
Wulan tersenyum melihat keceriaan Nenek Ija saat Ningsih dan suaminya datang. Nenek Ija seolah kembali bugar saat bersama mereka. Mungkin efek rindunya yang sudah terobati. Pasalnya, selama ini Nenek Ija sering mengaku merindukan cucunya yang satu itu. Sayang mereka tak tahu di mana keberadaan Ningsih.
"Ya udah Nek, tamunya diajak masuk dulu dong! Msa ngobrolnya di depan pintu, sambil berdiri lagi" ujar Wulan. Nenek Ija menepuk jidatnya pelan "Ih iya lupa kalau masih di depan pintu! Aduuh! Maklumin yah, Nenek yang dulu udah tua sekarang semakin tua, jadi sering lupa" ucapnya membuat tiga orang itu terkekeh.
__ADS_1
"Adik-adik yang lain belum pulang?" tanya Ningsih.
"Sudah Nak! Hanya saja, Ilham dan Rehan pulang sekolahnya memilih untuk bekerja paruh waktu. Padahal Nenek sama Kakaknya udah larang, tapi mereka tetap keras kepala" ujarnya sendu, mengingat dua cucu angkatnya itu.
Ningsih mengelus tangan Nenek Ija pelan. "Hmmm. Mereka anak-anak yang kuat yah, Nek!" ujar Ningsih bangga.
"Minum dulu tehnya!" ujar Wulan mempersilahkan. Gadis itu datang dari arah daour dengan membawa dua gelas Teh dan setoples kue kering. Ningsih dan Juna mengangguk.
"Sisi bisa kan Nek, sering berkunjung ke sini?" tanya Ningsih.
"tentu sayang! Nenek bakal senang banget kalau seperti itu. Tapi ingat, harus dengan seizin Nak Juna loh!" peringat Nenek Ija. Juna terkekeh "tenang aja Nek! Juna akan selalu ngijinin Sisi kalau dia mau ke sini. Kalau perlu Juna temanin sekalian" semuanya akhirnya berbincang-bincang akrab sambil sesekali tertawa sampai pada saat Ningsih dan Juna berpamitan untuk pulang.
"senang?" tanya Juna saat mereka sudah berada di Mobil.
"banget! Makasih ya Kak!" pekik Ningsih girang. Ia menghadap ke arah Juna dan memeluk pria itu dari samping.
"buat?"
__ADS_1
"semuanya! Sisi beruntung memiliki Kakak! Love you" bisiknya yang dibalas kecupan hangat daru Juna di puncak kepalanya.
Vote, Like dan Komennya jangan lupa😊