
"Maksud Kakak? Kakak udah.....?"
"Mungkin dulu aku paham kalau kamu selalu ada di antara Mas Juna dan Mbak Tania karena mungkin keduanya menjaga diri hingga tidak ingin pergi cuma berduaan. Aku juga dulu mungkin paham ketika Mas Juna memanjakan kamu, karena aku pikir dia menyayangi kamu dan menganggap kamu seperti adiknya sendiri" ujarnya memotong kalimat Ningsih. Namun, apa yang keluar dari mulut Noval membuat Ningsih menganga tak percaya.
"Tapi, Si! Harusnya kamu sadar, sekarang mereka telah menikah. Nggak seharusnya kamu terus-terusan ada di antara keduanya. Sudah lebih sebulan aku lihat kamu diantar jemput sama Mas Juna, aku nggak mau orang-orang berpikir yang enggak-enggak tentang kamu" tambahnya.
"Si, Mas Juna sama Mbak Tania udah nikah. Kamu nggak seharusnya terus bergantung ke mereka, mulai sekarang bergantunglah ke aku. Aku janji, akan selalu ada untuk kamu" ujar Noval, kali ini lebih tenang. Ningsih masih terdiam karena syok dengan perkataan Noval ia pikir Noval tadi...
Noval mengambil kedua tangan Ningsih, kemudian digenggamnya. "Jadi, mulai sekarang jauhi Kak Juna" ujarnya memohon.
Entah kenapa, Ningsih tak suka mendengar perintah yang keluar dari mulut Noval. Kalau saja Juna memang menikah dengan Tania, jelas saja Ningsih tak keberatan menjauhi pria itu. Tapi, posisinya saat ini jelas berbeda. Ningsih adalah istri Juna, sehingga dengan reflek hatinya menolak permintaan Noval.
Ningsih menarik tangannya yang digenggam Noval dengan paksa.
__ADS_1
"Maaf, kak! Aku nggak bisa" ujarnya membuat Noval memandangnya tak percaya.
"Jangan gila, Si! Apa maksud kamu?" Tanya Noval dengan geram.
"Aku....aku nnggak bisa! Karena....karena aku... aku sama Kak Juna.... sudah menikah" air mata Ningsih meluruh saat kalimat itu ia ucapkan. Sangat berat mengungkapkan semuanya pada Noval, namun setidaknya ini lebih baik daripada menundanya terlalu lama.
"Jangan bercanda, Si! Aku nggak percaya" ujarnya sambil tertawa pelan. Air mata Ningsih semakin deras, ia menggeleng pada Noval sebagai tanda kalau ia sedang tidak bercanda.
"Aku nggak nyangka yah, kalau kamu setega itu ke sepupu kamu sendiri. Kamu murahan tau nggak!" Hinanya. Tangis Ningsih seketika pecah, ia menatap Noval dengan tajam.
"Jangan menghina kalau nggak tahu apapun! Aku nggak murahan, enggak sama sekali! Bahkan pernikahan itu terjadi karena terpaksa, jadi jangan sekali-kali menghina aku!" Teriaknya. Ningsih tak peduli jika mereka menjadi pusat perhatian. Hatinya sakit mendapat hinaan dari orang yang masih ada namanya di hatinya.
"Kakak nggak pernah tahu gimana penderitaan aku selama ini, dan Kakak dengan seenaknya menghina aku? Aku benci sama Kakak!" Sambungnya.
__ADS_1
"Harusnya aku yang bilang gitu! Aku nyesal suka sama kamu. Bertahun aku nunggu kamu siap jadi pacar aku Si, tapi kamu malahan nikah sama orang lain! Aku....nyesal ngasih hati aku ke kamu" balas Noval lalu pergi meninggalkan Ningsih yang terduduk lemah di kursi kafe itu.
"Aku....benci....Kak...Noval!" Ujarnya sesegukan.
Di lain tempat, Noval berkali-kali menendang motornya di parkiran seperti orang gila. Ia tak perduli saat banyak mata yang menatapnya penasaran. Bahkan motornya kini sudah tergeletak di atas tanah.
"KAMU TEGA, SI! KAMU TEGA HIANATIN AKU! AKU RELA NUNGGUIN KAMU, TAPI KAMU MALAH NIKAH SAMA ORANG LAIN! KAMU BENAR-BENAR TEGA SI!!" teriaknya, membuat dua orang Satpam datang menenangkannya.
**double up! hayooo semangat dong like sama komennya, biar aku semangat juga.
Ada yang kesal sama Noval?
like, komen dan votenya jangan lupa**!
__ADS_1