Sang Pengiring Pengantin

Sang Pengiring Pengantin
Empat Puluh


__ADS_3

"Aku udah nikah" Kata itu yang pertama kali keluar dari mulut Ningsih yang ia tujukan pada Wita. Tadi, Ningsih mati-matian berfikir, mempertimbangkan apa ia akan jujur pada sahabatnya atau tidak dan inilah pilihannya. Mereka saat ini tengah berada di kamar Wita, sebagai tempat paling aman menurut Ningsih untuk bercerita.


"Jangan bercanda Si!" ujar Wita sambil menatap tak percaya. Ningsih mendengus "aku jujur" jawabnya.


"sama siapa? Kak Noval? jangan bilang kamu...." tanya Wita. Ningsih menggeleng "nggak! Bukan sama Kak Noval, dan jangan berpikir yang macam-macam" potong Ningsih.


"terus sama siapa? gimana aku nggak mikir yang macam-macam coba, orang kamu nikah nggak ada yang tahu"


"Kak Juna"


"APA!?" Wita reflek berteriak mendengar nama yang Ningsih sebutkan. Ningsih menggerutu sambil menutup kedua telinganya yang terasa berdengung akibat teriakan Wita.


"Aku...terpaksa menggantikan posisi Kak Tania yang kabur entah ke mana pas hari pernikahan. Dan....yah, pokoknya intinya gitulah" jelasnya sangat singkat. Ningsih tidak ingin menceritakan secaa detail, baginya yang terpenting ia sudah jujur masalah pernikahannya dan sudah memberitahu garis besar penyebabnya.

__ADS_1


"Astaga! rasanya pasti berat banget yah, ngadapin masalah ini. Maaf yah, Si. Apalagi aku udah ngedesak kamu untuk cerita" ujar Wita merasa bersalah.


"Aku emang nggak bisa bantu apapun, aku cuma bisa dukung kamu dan nyemangatin kamu aja" tambahnya.


Ningsih menggeleng "nggak! harusnya dari awal aku terbuka sama kamu. Buktinya, aku sekarang sedikit legah pas udah cerita ke kamu" elaknya.


"Terus...emmm Kak Noval udah tahu?" tanya Wita hati-hati.


Ningsih menggeleng dengan lesuh. "belum. Aku bingung gimana mau memberi tahu dia"


Namun raut wajah Ningsih yang murung bukannya berubah, malah makin murung. "Aku...nggak tahu" jawabnya pelan.


"kenapa?" tanya Wita penasaran.

__ADS_1


"penyebab pernikahan ini terlalu sulit untuk aku terima Wi. Makanya aku menjaga jarak dengan suami aku sendiri" mendengar perkataan Ningsih, Wita menepuk pundak sahabatnya itu pelan.


"Si, aku bukannya mau nasehatin kamu, aku juga nggak tahu gimana rasanya berada di posisi kamu. Tapi...menurut aku Si, harusnya kamu nggak bertingkah seperti itu. Walau bagaimanapun, atau apapun penyebabnya, kamu sama Kak Juna tetaplah pasangan suami-istri. Kalian mungkin menikah bukan karena keinginan kalian sendiri. Tapi nggak seharusnya kalian saling membangun jarak, seharusnya kalian saling mendekat untuk lebih mengenal karakter masing-masing. Si, hubungan yang kalian jalani sekarang itu adalah hubungan yang sakral, bukan cuma sekedar pacaran yang bisa bilang putus kapan aja. Kalian itu terikat sumpah di hadapan Tuhan, harusnya kamu mengerti itu" nasehat Wita panjang lebar.


Ningsih terdiam. Walau dilirik dari sudut manapun, semua yang dikatakan Wita itu benar. Terlebih Ningsih tahu kalau Juna mencintainya, bahkan sejak dulu. Pasti suaminya itu sering merasa sakit saat semua perhatiannya ia abaikan. Tapi kalau Ningsih menerima Juna, rasa bersalahnya pada Tania jelas saja selalu membayangi. Andai saja Tania ada, Ningsih akan meminta penjelasan dari sudut pandang gadis itu, agar ia bisa mengambil pilihan yang tepat.


"Terus....aku harus gimana Wi?" tanya Ningsih. Matanya sudah berembun, walau siapapun ada di posisinya pasti akan sama dilemahnya dengan Ningsih saat ini.


"Renungi baik-baik. Tanya pada hati kecil kamu, dan ikuti apa kata hati kecil kamu. Jangan cuma mengikuti ego" jawab Wita.


"Tapi.... aku merasa bersalah pada Kak Tania Wi" ujarnya frustasi.


Wita tersenyum menenangkan. "Pergi di hari pernikahan itu adalah pilihan Kak Tania, sehingga secara nggak langsung kamu yang kena dampak perbuatannya. Jadi di saat kamu memilih berjuang bersama Kak Juna, itu bukan salah kamu". Akhirnya, Ningsih bisa menemukan jalan keluar melalui ucapan Wita.

__ADS_1


Gimana? penasaran nggak jalan keluar apa yang Ningsih maksud? kalau gitu jangan lupa Like, Vote, dan komentarnya. Kalau perlu spam komen nggak apa-apa😊 karena aku suka baca komen-komenan kalian semua.


__ADS_2