Sang Pengiring Pengantin

Sang Pengiring Pengantin
Lima Belas


__ADS_3

"Duduk!" perintah Ningsih sambil menunjuk ke arah Sofa di kamar mereka. Juna menurut saja, karena ia benar-benar penasaran apa yang akan Ningsih tanyakan padanya. Ia merasa was-was, jangan-jangan Widya mengatakan hal yang tidak-tidak pada Ningsih.


"Mau nanya apa?" Tanya Juna penasaran.


"Janji akan jawab semuanya?" Ningsih malah bertanya memastikan, membuat Juna mau tak mau hanya mengangguk saja.


"Aku sudah dengar tentang siapa Wanita kemarin itu dari mulutnya sendiri. Sekarang aku mau dengar sendiri dari mulut Kakak dia siapa!" Juna menghela nafasnya pelan sebelum menjelaskan siapa Widya sebenarnya.


"Sahabat aku sejak kelas X SMA" Ningsih mengangguk anggukkan kepakanya, sama seperti yang Widya katakan, mereka bersahabat sejak SMA.


"pernah memilik perasaan ke Mbak Widya?" Ningsih kembali mengajukan pertanyaannya.


"Nggak. Mana mau aku sama nenek lampir bar-bar kayak dia" sangkal Juna sambil meringis ngeri membayangkan kebar-baran sahabatnya itu. Ningsih terkekeh pelan mendengar jawaban Juna, ia jadi semakin percaya kalau Juna, Widya dan Agung memang sedekat itu.


"Oke, pertanyaan terakhir" Ningsih menjeda kalimatnya sejenak. Ia yakin Juna pasti akan kesusahan menjawab pertanyaannya kali ini.

__ADS_1


"Kakak suka sama Kak Tania sejak SD?" Sambungnya.


Juna menggeleng "enggak!" jawabnya cepat. Ningsih memicingkan matanya curiga "nggak usah bohong, Mbak Widya sendiri kok yang bilang kalau Kakak suka sama anak kelas Enam SD" desak Ningsih.


Juna melongo, ternyata mulut sahabatnya itu benar-benar ember bocor. Main buka-buka rahasia Juna segala lagi. Ternyata firasatnya tadi benar kalau Widya sudah mengatakan hal aneh-aneh pada Ningsih yang nanti akan membuatnya kesusahan Dan ternyata, terbukti kan sekarang? Juna benar-benar kesulitan menjawab pertanyaan Ningsih.


"Kamu percaya sama si Permen Karet?" tanya Juna bermaksud membuat Ningsih menganggap perkataan Widya adalah kebohongan.


"Ya, bahkan aku lebih percaya dia daripada Kakak" jawab Ningsih tegas.


Juna merutuki Widya dalam hati, Sahabat kampret!


"Kenapa diam? oooh, atau...jangan-jangan Kak Tania kabur karena Kakak masih mencintai perempuan yang dimaksud Mbak Widya itu? Iya?" tuding Ningsih membuat Juna mati kutu.


"jadi benar?" Tanya Ningsih sekali lagi dan tertawa pelan dengan nada sumbang.

__ADS_1


"Aku nggak nyangka kalau Kakak sebrengsek ini! bisa-bisanya Kakak masih mencintai perempuan lain saat akan menikah, Dan sekarang...Kakak tahu kalau Kakak juga udah berantakin masa muda aku dengan jadiin aku pengganti mempelai wanita. Kakak sadar nggak sih, kalau Kakak nyakitin Kak Tania sekaligus aku juga? Asal Kakak tau, aku sakit saat aku harus jadi pengganti Kak Tania, dan sekarang aku semakin sakit karena ternyata aku sama Kak Tania itu dua-duanya hanya pengganti" Ujar Ningsih dengan tangisannya.


Juna bermaksud menenangkan. Ia berusaha menarik Ningsih ke dalam pelukannya, namun gadis itu menghempaskan tangannya kuat.


"Kenapa Kakak harus ngorbanin aku di kisah cinta Kakak yang menurut aku gila ini? Kenapa harus aku yang jadi korban Kak?" Ningsih menenggelemkan kepalanya di lipatan lututnya. Tangisnya kian terdengar membuat hati Juna ikut tersayat.


"Dek!?"


"Cukup Kak. Aku mohon Kak, bebasin aku sekarang. Jangan buat aku terlibat terlalu jauh!" perkataan Ningsih membuat amarah Juna naik seketika. "APA MAKSUD KAMU, HAH?!" bentak Juna.


Ningsih menatap Juna tak percaya, bagaimana bisa pria ini membentaknya sementara dia hanya memohon kebebasannya dari pernikahan gila yang penyebabnya sekarang sudah Ningsih ketahui.


"Kakak masih tanya maksud aku? aku rasa Kakak tak sebodoh itu untuk hanya sekedar mengartikan kata bebas yang aku maksud" Ningsih menatap Juna tajam. Ia sama sekali tak takut, baginya terlalu sayang jika hidupnya dihabiskan dengan pria sebrengsek Juna.


"Jaga ucapanmu Dek, Kamu hanya lelah. sekarang tidurlah!" ujar Juna sudah mulai melunak.

__ADS_1


Bukannya mengikuti, Ningsih malah berdecih lalu menatap sinis Juna. " Ingin lari dari pembicaraan?" tanya Ningsih menantang.


"udah terlalu malam, sekarang waktunya tidur. Masalah ini kita bicarakan nanti!" setelah selesai mengatakan hal itu, Juna beranjak dari sofa menghampiri ranjang dan langsung membaringkan badannya di sana, meninggalkan Ningsih yang menatapnya tak percaya. 'bisa-bisanya dia nyuruh tidur dengan suasana kayak gini' cibir Ningsih dalam hati.


__ADS_2