
Jangan lupa baca sang pengiring pengantin 2😊
Di kediaman keluarga Wita, keluarga gadis itu tengah disibukkan membuat makanan yang akan mereka sajikan pada tamu mereka malam nanti.
Sampai akhirnya waktu menunjukkan pukul setengah enam, keluarga tersebut bersiap-siap untuk mandi dan shalat berjamaah.
Selesai Shalat, semuanya nampak duduk di Ruang keluarga. Ada sekitar tujuh orang berkumpul di sana. Ada Fero dan Istrinya Lisa, ada Fira dan Suaminya Gerald, serta ada Wita dan dua sepupunya Tia dan Aldo.
Terdengar ketukan pintu, Fero beranjak untuk membuka pintu dan menyambut tamu mereka. Ternyata benar, keluarga Tinolah yang datang seperti yang dikatakan Ningsih.
"Mari, mari! Kita duduk dan mengobrol di sini saja Pak, Buk!" ujar Fero mengarahkan tamunya. Setelah saling berjabat tangan, Fero mempersilahkan para tamunya untuk duduk. Barus saja ingin memulai pembicaraan, suara ketukan kembali terdengar membuat mereka saling melirik heran.
"Mohon maaf, sebelumnya. Saya pamit buka pintu dulu. Siapa tahu ada yang penting" ujar Fero tak enak.
Namun, saat melihat siapa orang yang mengetuk pintu tadi, Fero terdiam mematung. Di hadapannya, ada seorang pria --yang ia tahu pernah mengobrol dengannya sekali--teman putrinya, Noval. Yang membuat Fero terkejut, Noval datang bersama ke dua orang tuanya.
"Selamat malam Om!" sapa Noval sambil mencium punggung tangan Fero.
Fero tersadar, setelah saling menjabat tangan dengan orang tua Noval, ia menyuruh tiga orang tersebut mengikutinya masuk ke dalam.
Semua mata yang berada di ruang tamu itu memandang penasaran keluarga yang berada di belakang Fero tersebut. Terlebih Wita, ia bingung mau apa Noval datang ke sini, apalagi bersama orang tuanya?
__ADS_1
Setelah berdiam cukup lama, akhirnya Fero selaku tuan rumah membuka pembicaraan.
"Ehmm. Begini, untuk keluarga Tino kan sudah saya tau tujuannya ke sini untuk melamar putri keluarga kami karena sebelum ini pernah kita bicarakan. Tapi kalau untuk keluarga Noval, bisa jelaskan maksud kedatangan kalian?" tanya Fero sesopan mungkin.
"Begini Pak...."
"biar aku saja Pa, yang jelasin!" potong Noval.
"Begini Om, saya datang ke sini untuk melamar Putri Om. walau kami hanya berteman, tapi Saya sadar kalau saya benar-benar takut kehilangan dia dan saya yakin, saya akan sangat hancur tanpa dia. Mungkin saya terkesan terlambat, tapi bukankah ini baru acara lamaran? jadi, Om bisa pertimbangkan antara saya dan Bang Tino untuk diterima lamarannya!" jelas Noval lugas.
Tiga keluarga yang berada di situ mengernyit heran. "Kamu mau melamar Kak Tia, Val?" tanya Wita membuat Noval memandangnya heran.
"Maksud kamu?" Noval bertanya balik.
"Hah?!" seketika itu juga otak Noval seolah kosong.
"HAHAHAHAHAHA!" tawa Fero pecah dan diikuti yang lain. Sedangkan orang tua Noval yang baru bisa mencerna apa yang terjadi seketika ikut tertawa juga.
"Jadi kamu pikir yang dilamar itu Wita?" tanya Lisa. Noval mengangguk kaku. Astaga! Betapa malunya dia.
"Emang siapa yang ngasih tahu kamu Kak?" tanya Wita yang sedari tadi diam. Ia berusaha menenangkan debaran di dadanya.
__ADS_1
"Sisi" jawab Noval sambil menggaruk tengkuknya yang sama sekali tak gatal.
"Ehmm..., ya sudah kalau begitu. Kita langsung ke pembicaaan inti saja" ucap Fero berusaha meredakan tawanya.
"Jadi, kamu ke sini ingin melamar anak saya?" tanya Fero serius. Noval yang ditanya meremas tangannya gugup.
"Iya Om!"
"Apa yang kamu punya sampai berani melamar anak saya?" tanya Fero lagi.
"Mungkin saya hanyalah seorang lelaki biasa menurut Om. Yah, saya hanya seorang Mahasiswa tingkat akhir yang masih menerima uang untuk jajan dari orang tua. Mungkin juga untuk melamar anak Om, saya juga masih meminta bantuan dari orang tua. Tapi setelah menikah, saya memutuskan untuk membantu ayah saya mengurus perusahaan nanti. Masalah Rumah, saya rasa tabungan saya cukup untuk membeli sebuah rumah sederhana untuk tempat tinggal keluarga kecil saya" jelasnya lugas penuh keyakinan.
"Kamu yakin itu anak saya mau sama kamu?" Fero malah bertanya menantang. Noval terdiam. Ia masih belum yakin Wita mencintainya, tapi....ia bisa membuat Wita jatuh cinta bukan?
"Saya.....saya tidak tahu apa Wita mencintai saya. Tapi saya akan berusaha, agar Wita mau belajar menerima dan mencintai saya"
Fero tersenyum. Dalam hati ia memuji jawaban Noval yang apa adanya. Masalah harta atau apapun, Fero tak membutuhkan hak itu untuk anaknya. Yang ia mau, anaknya bisa bahagia bersama orang yang mau menerimanya apa adanya dan bertanggung jawab terhadap putrinya.
Ia melirik Wita, "Saya tergantung anak saya. Meskipun kalian masih muda, tapi saya tahu kamu orang yang bertanggung jawab Noval. Jadi, saya serahkan semuanya pada putri saya" jelasnya.
"Bagaimana menurut kamu Sayang?" tanya Fero pada sang putri.
__ADS_1
"Aku...."
Noval itu benar-benar konyol ternyata😆