Sang Pengiring Pengantin

Sang Pengiring Pengantin
Empat Puluh Enam


__ADS_3

Tak terasa, waktu berlalu begitu cepat. Sebulan sudah jeda waktu sejak mereka memutuskan untuk saling menerima satu sama lain.


"KAAAAKKK, CEPATAN! SISI UDAH TERLAMBAT INI" teriak Ningsih dari bawah. Ningsih mendengus, kemarin ia lupa membawa tugas makalah yang diberikan Dosennya. Memang takendapat hukuman, namun gantinya ia harus mengantarkan tugasnya pada sang Dosen sepagi ini.


Juna keluar dari rumahnya dengan langkah cepat, kemudian mengunci rumahnya lalu menghampiri Ningsih yang sudah seperti cacing kepanasan di samping Mobilnya.


"Harusnya Kakak ngijinin aku bawa Motor hari ini!" gerutu Ningsih yang entah sudah keberapa kalinya. Ningsih memang sudah beberapa hari ini minta pada Juna untuk membawa kendaraa sendiri ke Kampus, namun tentu saja Juna take menyetujui. Juna bahkan rela pulang dari kantor hanya demi mengantarkan Ningsih ke Kampus. Memangnya siapa yang melarang? toh perusahaan itu miliknya. Yang pentingkan semua tugasnya tetap ia selesaikan dengan baik.


"Sekali enggak tetap enggak yah Dek!" katanya dengan nada tak mau dibantah.


Juna membukakan pintu untuk sang Istri yang saat ini tengah memberenggut itu, ia tersenyum kecil sambil mengelua puncak kepala Ningsih.


"lagian ada Kakak yang bakal nyupirin kamu ke manapun" ujarnya santai.

__ADS_1


"Kakak kan juga punya kesibukan lain, aku nggak mau repotin Kakak mulu. Sisi tau kalau Kakak pemilik perusahaan, tapi Kakak nggak boleh seenaknya gitu dong main bolos aja tak kenal waktu".


Juna menggeleng pelan. "Yang pentingkan pekerjaan Kakak tetap selesai. Mereka juga nggak berani protes tuh" ujarnya sambil mulai menjalankan mobilnya.


Ningsih mencibir "Gimana mau protes, orang mereka takut di pecat"


"tuh tau!" balas Juna. Ningsih akhirnya memilih menyenderkan kepalanya di sandaran kursi daripada berdebat dengan Juna yanh ujung-ujungnya tetap dimenangkan pria itu. Setelahnya, perjalanan keduanya hanya di isi dengan keheningan.


"Wa'alaikumsalaam" Jawab Juna. Ningsih mencium punggung tangan Juna dan di balas Juna dengan mencium keningnya sebelum ia turun dari mobil.


Ningsih berbalik untuk memasuki gerbang Kampusnya setelah Mobil Juna sudah melaju membelah jalanan.


"Kayaknya sebulan ini kamu sering dianterin Ipar, akrab banget yah keliatannya" Ningsih menegang mendengar suara berat itu. Ia menutup matanya sejenak, kenapa saking bahagianya dengan Juna ia sampai lupa kalau masih ada urusan dengan Noval yang harus ia selesaikan?

__ADS_1


Ningsih berbalik menghadap Noval yang memandangnya sinis. Entahlah, Ningsih tak terlalu tahu alasannya, Ningsih juga tak ingin menebak-nebak. Sebulanan ini mereka memang tak pernah bertemu, makanya Ningsih sampai melupakan keberadaan Noval sejenak.


"Kkak Noval!!?" gumamnya.


Noval hendak kembali membuka suara, namun Ningsih teringat kalau ia ada keperluan dengan Dosen pagi ini sehingga buru-buru dipotongnya kalimat Noval.


"Nanti kita bicara yah, Kak! Ningsih kali ini ada perlu dengan Dosen. Taruhannya nilai Ningsih, jadi maaf!" ujarnya cepat sambil meninggalkan Noval dengan berlari.


Noval memandang punggung gadis itu yang sudah menjauh. Wajahnya menyiratkan penuh kekecewaan, entah karena hal apa. Mungkin karena ada sesuatu yang baru saja ia ketahui, atau mungkin saja karena lagi-lagi ia tak bisa berbicara dengan Ningsih padahal mereka tak bertemu dalam waktu yang terbilang lama, terlebih terakhir kali mereka bertemu keduanya sempat berdebat. Dengan pelan, ia berbalik meninggalkan tempat itu membawa rasa kecewanya yang menggunung.


**Gimana? penasaran enggak sama apa yang ada di pikiran Noval? Ayo like, vote dan komennya.


Oh yah, aku bingung sebenarnya. Likenya makin kurang, jadinya aku sedih lihatnya. Banyak yang baca kok likenya kurang gitu? Apa kalian bosan sama ceritanya? atau ada hal lain? Aku kan jadi sedih😭😭**

__ADS_1


__ADS_2