
"Kamu yakin, hari ini udah mau berangkat ke Kampus?" tanya Juna memastikan. Ningsih memang berniat masuk kampus hari ini juga. Lagian ia izinnya hanya dua hari, untuk pesta pernikahan sepupunya itu--yang ternyata menjadi pesta pernikahannya.
"yakin, seratus persen. Emang kenapa sih?" jawab Ningsih sekaligus bertanya heran. Kenapa coba Juna harus menanyakan ia yakin atau nggak masuk Kampusnya?
"kamu....nggak mau minta libur beberapa hari dulu gitu?" Ningsih menatap Juna semakin heran.
"ngapain minta libur lagi?" tanyanya.
"ya....untuk kita bulan ma.."
"Ngarep!" cibirnya, memotong ucapan Juna.
Juna terkekeh. Sebenarnya ia hanya bercanda, sekedar mengusili gadis labil itu. Tapi kalau memang Ningsih setuju, Juna pasti bakal senang banget. Tapi yah....seperti kata Ningsih, Ngarep! Karena Ningsih nggak akan mungkin khilaf dan mengiyakan perkataan Juna untuk sekarang, nggak tau deh untuk ke depannya gimana.
__ADS_1
"Dek! Aduh, tungguin dong! Jangan ngambek" Juna mengejar Ningsih yang sudah keluar dari rumah meninggalkannya dengan wajah kesal.
"Kakak yang akan ngantar kamu!" Juna mencegah Ningsih yang bermaksud menghubungi Taksi Online.
Ningsih berdecak tapi tetap mengikuti, hitung-hitung hemat ongkos. Kalau ada yang siap menyupirinya ke manapun secara gratis, kenapa ia harus menolak dan memilih repot-repot mengeluarkan biaya? pikirnya.
"Oh ya, Dek! mulai sekarang, apapun kebutuhan kamu, bilang sama Kakak biar Kakak yang penuhi. karena sekarang kamu adalah tanggung jawab Kakak" Juna mengatakan hal tersebut sambil menyetir. Ningsih hanya mengangguk mengiyakan. Karena walau sebelumnya ia sama sekali berniat menikah sekarang, tapi ia tahu bagaiamana kewajiban pasangan suami istri. Di mana suami yang mencari nafkah dan memenuhi kebutuhan keluarga, dan seorang istri bertanggung jawab mengurusi dan melayani kebutuhan suaminya. Walaupun saat ini Ningsih belum mau memenuhi tanggung jawab seorang istri sepenuhnya sih..!
"aku pamit, Assalaamu'alaikum" pamitnya pada Juna saat mereka sudah sampai di depan gerbang kampus. Ia mencium punggung tangan Juna dan dibalas Juna dengan kecupan di keningnya. Ningsih membeku saat Juna menariknya dan mendaratkan bibirnya di kening gadis itu. sesaat, ia segera tersadar dan melayangkan tatapan tajamnya pada Juna.
Juna menatapnya dengan ekspresi polos seolah tak tahu apa-apa. "kenapa?" tanyanya.
"Kamu....." Ningsih menggeram marah sambil menunjuk Juna dengan telunjuknya.
__ADS_1
"kenapa sih? Bukannya itu kebiasaan suami istri yah? Kamu juga tadi salim sama aku kan? terus aku balas dengan nyium kening kamu apa salahnya?" Juna memotong perkataan Ningsih sebelum gadis itu mengeluarkan kemarahannya.
"Tapi Kakak sadar kan, hubungan kita bukan seperti suami istri pada umumnya?" ujar Ningsih tajam.
Juna tersenyum, tapi....kalau diperhatikan itu jenis senyum miris. Miris karena Ningsih terlihat menolak ketika Juna berniat mendekat. Jujur saja, walau gadis itu sudah mengatakan memberi kesempatan pada Juna, ia tetap memberi jarak ketika Juna mendekat.
" Oke! Kakak nggak akan lagi lakuin hal itu, kalau memang kamu nggak mau!" Juna akhirnya menyerah. Ia mengatakannya dengan nada tak bersemangat dan senyum yang berusaha ia pertahankan tetap di bibirnya.
Ningsih terdiam melihat reaksi Juna tadi. tanpa mengatakan apapun, ia menuruni mobil Juna dan melangkah memasuki gerbang Kampusnya. Namun, langkahnya terhenti karena sapaan dari seseorang yang berdiri di depan gerbang seolah sedang menunggunya.
"hei! diantar sepupu ipar yah?" Tanya suara itu.
"No...Nnoval?"
__ADS_1