Sang Pengiring Pengantin

Sang Pengiring Pengantin
Tiga Puluh Dua


__ADS_3

like, comment, and tip please!😊


"Halo, Gung! kenapa kamu nggak ke Sekolah hari ini?" Tanya Juna. Saat ini jam istirahat, jadi ia memanfaatkan waktunya untuk menelfon Agung karena sahabatnya itu tak datang ke Sekolah tanpa keterangan apapun.


'Aku sakit Jun. Nih, kamu dengarkan! suara aku aja udah serak' jawab Agung di seberang sana. Juna mengangguk, benar. suara Agung terdengar serak.


Juna menoleh ke samping saat merasakan ada seseorang yang mencolek bahunya. Ia menemukan Widya yang memasang wajah seolah bertanya siapa yang ia telepon. Ia hanya menggumamkan kata 'Agung' sebagai jawaban, membuat gadis itu mengangguk paham.


"Terus kenapa nggak hubungin aku tadi, biar aku izinin?"


'Baru bangun aku Jun. Semalam kan aku nggak bisa tidur gara-gara demam. Mana Mama sama Papa aku lagi di luar kota. Jadi cuma Bibi yang ngurusin aku' jawab Agung menjelaskan.


Sebenarnya Juna itu sangat prihatin dengan kehidupan Agung. Cowok itu anak tunggal, namun Ayah dan Ibunya selalu pergi ke luar kota sehingga membuatnya kesepian di rumah. Sebenarnya Agung tak bisa dikatakan kekurangan kasih sayang juga, karena orang tuanya tetap menyisakan waktu untuk menelfonnya setiap hari. Tapi selalu ditinggal sendirian di rumah itu jelas membuat kesepian sering sahabatnya itu rasakan.


"terus sekarang udah mendingan?"


'hmm'


"Om sama Tante kapan pulang?" Tanya Juna lagi.

__ADS_1


'siang nanti. Mungkin sampai sininya agak sorean, tapi kata mereka sebisa mungkin akan mereka percepat' Juna menghela nafas legah. Setidaknya, orang tua Agung akan segera pulang walau sampainya sore nanti.


"Ya udah. Entar pulang Sekolah aku mau mampir ke sana. Sekalian bawain kamu makanan. Udah yah, aku mau makan dulu sama Widya, perut aku udah lapar" Juna hendak mematikan sambungan teleponnya, namun ia urungkan karena suara Agung.


'Tunggu, tunggu Jun! Makanannya nanti beliin di Warung SMP Permata, yah!' ujar Agung.


Juna yang bingung kemudian bertanya "emang apa bedanya sih Gung, aku beliin dari sini aja yah. Malas aku mampir-mampir lagi ke sana" kata Juna dengan nada malas.


'Yah, aku kangen masakan bibi kantin SMP kita Jun. Kamu emangnya tega, teman kamu lagi sakit masa nggak diturutin' Suara Agung terdengar sedih dibuat-buat, Juna bedecak kesal. "iya, iya! entar deh, aku beliin yang dari sana" ujarnya mengalah.


'gitu dong Jun! Oh ya, salam yah sama Widya. Bilang jangan kangen sama aku' Juna tertawa kecil mendengar perkataan Agung. Juna tahu, sebenarnya Agung menyimpan rasa pada Widya yang sudah sebulan ini akrab dengan mereka. Namun karena Agung emang orangnya tengil dan suka bercanda, Widya tak pernah curiga kalau sebenarnya semua perhatian dan gombalan-gombalan Agung padanya sebenarnya tulus dari hati cowok itu.


'wa'alaikumsalaam'


Juna menoleh pada Widya, yang sedari tadi masih setia menunggunya untuk ke kantin bareng. Widya itu anaknya asik diajak berteman, namun Juna bingung kenapa Widya tak memiliki teman lain selain dirinya dan Agung. pernah mereka bertanya pada gadis itu, jawabannya adalah ia sedikit memiliki ketakutan dalam mencari teman. menurut Widya, ia berteman dengan Agung dan Juna saja itu karena mereka terlihat berbeda. Alasan tentang ketakutannya, atau di mana bedanya Agung dan Juna dengan yang lain itu tak gadis itu jelaskan secara gamblang. Jadi Agung dan Juna lebih memilih diam.


"Udah, selesai?" tanya Widya. Juna mengangguk. "ayok!" ajaknya. Keduanya kemudian beriringan ke kantin.


"Kenapa si Agung?" tanya Widya.

__ADS_1


"Demam. pulang nanti aku mau ke rumahnya, mau ikut nggak?"


"boleh!"


"Oh, ya. Agung juga nitip salam. Katanya jangan kangen" ujarnya sambil tertawa. Widya menggeplak bahunya membuat Juna meringis kesakitan. Juna heran, awalnya gadis itu keliatan pendiam. Tapi sebenarnya itu hanya kamuflase, karena nyatanya sebulan akrab dengan Widya, mereka jadi tahu kalau Widya itu bar-bar. Bukan cuma sekali dua kali gadis itu menjambak rambutnya dan Agung kalau mereka menjahilinya. Atau menggeplak, bahkan mencubit.


"Sakit Wid, ih! lagian benaran kok, tuh anak bilang gitu" Juna sedikit menjauh dari Widya, takut kena geplak untuk kedua kalinya.


"Tau, ah! Emang yah, ti si Kadal. Tunggu aja kalau dia udah sehat, bakal ku aniaya tuh anak!" Juna tertawa mendengar perkataan Widya. Ia tahu, kalau gadis itu benar-benar berniat menganiaya Agung.


"Tapi nanti pulangnya, mampir dulu beliin makanan untuk Agung di SMP aku dulu" Widya mengerutkan alis bingung.


"kenapa harus di sana?"


"nggak tahu. Ngidam kali dia. jangan-jangan kamu hamilin dia Wid?" setelah mengatakan itu ia langsung berlari menjauh. Jangan sampai tangan Widya melayang kedua kalinya di badannya yang mulus itu.


"JUNA GILAAAA!!!" teriak Widya, saat cowok itu seudah berlari menjauh.


Juna Up. Oh yah, kalau ada yang kangen sama Sisi, part selanjutnya dia baru muncul yah! Jadi bersabar aja😊

__ADS_1


kalau Like nya cepat banyak, dan ada votenya juga, aku bakal double up hari ini. Tapi kalau nggak, ya nggak apa-apa😊Aku akan tetap Up, tapi lusa berarti.


__ADS_2