Sang Pengiring Pengantin

Sang Pengiring Pengantin
Lima Puluh Tujuh


__ADS_3

Ningsih dan Juna memutuskan pulang dengan diantar Tino, karena kondisi Juna tak memungkinkan untuk menyetir. Tak terasa, malam semakin larut. Juna sudah tidur sedari tadi. Panasnya juga sudah turun, meski kepalanya masih terasa sakit. Ningsih sama sekali tak bisa memejamkan matanya, karena khawatir Juna terbangun dan membutuhkan sesuatu.


Ningsih membaringkan tubuhnya menghadap Juna yang juga tertidur menghadapnya. Ningsih memperhatikan wajah itu dengan senyum mengembang. Ia tak pernah menyangka menikah dengan Juna sebahagia ini. Mengingat pernikahan mereka terjadi karena terpaksa.


"Jangan sakit lagi! Sisi khawatir. Sisi sayang banget sama Kakak" ujarnya berbisik lalu merapatkan tubuhnya dan melingkarkan tangannya pada Juna. Kantuk Ningsih mulai datang, membuatnya perlahan memejamkan mata. Namun suara deringan ponsel membuatnya terbangun. Ningsih menggapai ponselnya yang berada di atas nakas, alisnya mengernyit bingung melihat nama si penelpon.


"Kak Noval? ngapain dia nelfon tengah malam gini?" gumamnya.


Ningsih memilih mengabaikan panggilan tersebut. Namun panggilan dari nomor yang sama berkali-kali membuatnya berdecak kesal. Akhirnya ia memilih mengangkat.


"Halo, ada apa Kak?" tanya Ningsih tak dapat menghilangkan nada kesalnya.


"syukurlah akhirnya diangkat juga!" Ningsih menatap layar ponselnya sekedar memastikan nama yang tertera di sana. Ini nomor Noval, kenapa suara di seberang sana berbeda? pikirnya.


"ini siapa yah?" tanya Ningsih.

__ADS_1


"Ini, saya Leon. Bartender di Klub malam XX. Saya hanya mau ngabarin, pemilik ponsel ini mabuk berat sambil manggil-manggil nama Sisi. Terus saya khawatir dia akan berbuat kekacauan nanti. Jadi saya memilih mencari orang yang bisa dihubungi, syukurnya saya nemuin kontak dengan tulisan 'My Sisi'. Saya yakin Sisi yang dipanggil-panggil pria itu adalah Mbak. Mbak bisa nggak datang ke sini? jemput teman mbak ini?" Ningsih terkejut mendengar penjelasan panjang lebar si bartender. Noval mabuk? Astaga!


"Iy....ya Mas, saya akan ke sana"


Sambungan telepon kemudian terputus. Ningsih bermaksud mengambil jaket di lemari sebelum  pergi ke Klub itu, namun langkahnya terhenti saat matanya tertuju ke arah Juna yang tertidur.


"Astaga! Kalau aku ke sana, gimana dengan Kak Juna? Terus...mobil milik Kak Juna kan dibawa Tino tadi siang, motor aku juga kan di rumah Papa karena Kak Juna nggak ngasih aku bawa motor lagi. Gimana dong, AARRRGGH" Ningsih mondar-mandir di dekat ranjang, bingung ingin berbuat seperti apa. Kalau memesan taksi malam-malam begini, itu sangat bahaya untuk ukuran seorang gadis sepertinya. Wita! Iya, Wita! Gadis itu kan punya sopir pribadi, meskipun jasanya jarang Wita gunakan. Jadi, dia bisa minta tolong pada Wita menjemput Noval ditemani Sopirnya.


Buru-buru Ningsih menghubungi nomor Wita, panggilannya tak diangkat. Pasti gadis itu sudah tertidur. Sekali lagi Ningsih menghubunginya, akhirnya diangkat di deringan ke tiga.


"Sorry, Wit! Sorry....banget!! Aku boleh minta tolong enggak?" Tanya Ningsih.


"Hah? Tengah malam gini kamu minta tolong? Enggak salah?"


"Ya mau gimana lagi Wit. Ini benar-benar urgent"

__ADS_1


"Emang ada apaan?" Wita bertanya penasaran.


"Kak Noval mabuk berat, tadi bartender Klub XX nelpon aku. Dia sendirian ke sana, aku takut dia berbuat kekacauan. Mau aku samperin tapi Kak Juna lagi sakit, jadi......enggak ada orang yang bisa aku mintai tolong selain kamu" jelas Ningsih.


Wita menghela nafasnya kesal, bukan pada Ningsih melainkan pada Noval. Kenapa tuh cowok ngerepotin orang banget sih tingkahnya.


"Ya udah, di Klub mana tadi?" Ningsih akhirnya legah karena Wita mau membantunya.


"Klub XX" beritahu Ningsih.


"Huh, untung aja tuh Klub nggak jauh dari sini. Ya udah, aku ke sana sekarang" Ningsih bermaksud mematikan sambungan, namun Wita mencegahnya.


"Tunggu, tunggu! Terus tuh anak mau dianterin ke mana?" Tanya Wita.


"Ke kosannya aja. Kos Hijau Putra di dekat kampus itu loh!" Ningsih memberitahu tempat tinggal Noval. Wita memang selama ini hanya tahu Noval tinggal di kosan, tapi di mana kosannya Wita tak tahu-menahu.

__ADS_1


"Oke" sambungan kemudian terputus. Ningsih yakin, besok atau kapanpun Wita bertemu dengan Noval nanti setelah ini, pasti pria itu tak akan luput dari omelan panjang Wita.


__ADS_2