
"Sepertinya anak Mama lagi senang!" Tegur Endah saat melihat Ishak yang memasuki rumah sambil senyum-senyum sendiri.
Ishak mendekati sang Mama, mencium punggung tangan wanita itu.
"Oh yah, gimana keadaan Gio?" Tanya Endah. Gio adalah adik sepupu Ishak. Semalam cowok itu masuk rumah sakit karena demam, dan Ishak ikut menemani Tantenya di rumah sakit karena Gio sudah tak memiliki Ayah.
"Udah baikan Ma. Mungkin sore udah bisa pulang" jawabnya.
"Oh, begitu. Terus kenapa kamu senyum-senyum sendiri tadi? Apa ada sesuatu?" Tanya Endah kepo.
Ishak berusaha memasang wajah seperti biasa agar Endah tak semakin bertanya. Mana mungkin ia mengatakan ketemu Kakaknya Ilham, anak yang ia antarkan pulang waktu itu. Bisa-bisa Mamanya akan bersikap dingin padanya seharian ini.
"Enggak kok Ma. Tadi aku cuma nggak sengaja mergokin kucing yang lagi pacaran di pinggir jalan . Padahal masih pagi!"
Endah mendengus mendengar jawaban tak masuk akal anaknya tersebut. "Kamu itu ada-ada aja! Sana cepatan mandi, terus turun sarapan. Mama udah nyiapin makanan di atas meja!" Perintah Endah.
"Enggak bisa sarapan dulu Ma, baru mandi?" Tanya Ishak dengan wajah memohon. Karena perutnya sudah keroncongan.
__ADS_1
Endah memelototkan matanya, membuat nyali cowok itu ciut dan buru-buru meninggalkan sang Mama yang masih menatapnya dengan galak.
.............................................................
"Ishak, setelah ini rencana kamu apa?" Tanya Beni pada sang anak.
Ishak yang tengah menyuapkan makanan ke dalam mulutnya menoleh pada sang Ayah. "Belum tau Pa. Ishak mau mengistirahatkan diri dulu sebulanan ini, sekalian berpikir langkah yang akan Ishak ambil selanjutnya" jelas Ishak setelah selesai mengunyah dan menelan makanan yang ada di mulutnya.
"Oke. Papa berharap kamu mau meneruskan perusahaan keluarga kita. Papa merasa sudah terlalu tua untuk hal-hal seperti itu" ucap Beni.
"Siapa yang bilang Papa udah tua? Bilang aja Papa cuma alasan agar Ishak segera menggantikan posisi Papa" Beni terkekeh pelan karena anak semata wayangnya itu mampu menebak jalan pikirannya.
"Itu loh, teman sekelas kamu saat kelas Tiga SMA dulu. Kamu ingatkan?" Endah ikut membantu Ishak mengingatnya.
"Oh, iya. Aku ingat. Kenapa dengan dia?" Tanya Ishak bingung.
"Papa dan Om Jeki sudah lama menjalin kerja sama, dan hubungan kami begitu baik. Kami berencana untuk mengubah hubungan kami dari persahabatan karena pekerjaan menjadi hubungan keluarga. Menurut kamu bagaimana?"
__ADS_1
"Maksudnya? Aku nggak ngerti"
"Papa sama Om Jeki berencana untuk menjodohkan kamu dan Nani" ujar Beni santai.
"Astaga Pa! Kenapa kalian bisa berpikiran ke sana sih?" Tanya Ishak tak percaya. Ia menghentikan suapannya dan mendorong pelan piring tersebut dari hadapannya. Selera makannya seketika hilang saat mendengar perkataan sang Ayah.
"Kamu jangan terburu-buru dulu menanggapi rencana kami Nak! Kalian masih muda, masih ada waktu untuk memikirkannya. Lagipula, Nani bulan depan baru wisuda. Jadi kamu masih punya waktu banyak untuk memikirkannya!" Nasehat Beni.
"Maaf Pa! Aku rasa sebanyak apapun waktu yang Papa kasih untuk aku berpikir, aku merasa akan tetap menolaknya" tolak Ishak langsung.
"Ishak!" Tegur Endah halus. Ia tidak ingin Ayah dan Anak itu ribut di Meja makan. Bahkan makanan keduanya sama-sama mereka tak habiskan.
"Ishak ke kamar dulu" pamit Ishak berusaha mengontrol emosinya yang mulai naik. Menurutnya itu hal gila. Memang perjodohan bukanlah hal yang aneh lagi, baik zaman dulu maupun zaman sekarang. Tapi ia sama sekali tak berpikir menjalaninya. Apalagi saat ini hatinya dan otaknya sering memikirkan nama Wulan sejak pertemuan pertama mereka.
"Pa, Papa kenapa ngomongin masalah ini saat kita lagi sarapan sih?" Keluh Endah sepeninggal Ishak.
Beni mengangkat bahunya "Papa pikir Ishak akan menerimanya dengan mudah karena selama ini anak itu selalu menurut. Tapi udah terlanjur juga, mau bagaimana lagi?!"
__ADS_1
Like, vote dan komentarnya jangan lupa. aku akan berusaha menamatkan novel ini, bulan ini juga. Dalam artian tamat benaran yah. Jadi ekstra partnya hanya akan berakhit di kisah Wulan dan Ishak saja. Kalau kangen Ningsih sama Juna bisa mampir di Sang Pengiring Pengantin 2π