
Semenjak kejadian di Mall, Ningsih berangkat ke Kampus dengan menggunakan Taksi. Tak peduli sekeras apapun Juna melarangnya, serta memaksanya untuk ikut semobil dengan suaminya itu. Ningsih mencibir dirinya sendiri, kalau seperti ini ia keliatan kayak Istri yang cemburu.
Hubungannya dengan Wita sudah kembali seperti semula, ia sudah tidak menghindari gadis itu dengan syarat Wita tidak banyak bertanya dulu. Noval? entahlah! ke manapun Ningsih pergi Noval selalu terlihat di sana. Entah karena kebetulan, atau memang cowok itu selalu mengikutinya. Untung saja saat ketemu, Noval tak banyak bertanya karena Ningsih sudah memasang wajah 'tak ingin diganggu' duluan.
"Si, kita ke kantin yah habis ini? masuknya kan nanti jam dua, jadi kita masih bisa santai-santai setelah ini" ucap Wita. Ningsih mengangguk, Mata kuliah mereka pagi ini memang sudah selesai, dan yang selanjutnya nanti jam dua siang.
"Tunggu, Wit! HP aku bunyi!" Cehah Ningsih saat Wita sudah mulai melangkah keluar dari Kelas. Wita berhenti sekedar menunggu Ningsih mengangkat panggilan yang entah dari siapa, yang ia lihat wajah Ningsih sekarang terlihat sedikit aneh setelah memutuskan sambungan teleponnya.
"Siapa Si?" Tanya Wita.
"Wit, kayaknya kamu makan sendiri aja dulu di Kantin. Aku ada urusan sebentar, aku pamit ya!" Ningsih malah berpamitan tanpa menjawab pertanyaan Wita. Gadis itu mendengus, entah kenapa akhir-akhir ini Wita merasa Ningsih sedang merahasiakan sesuatu yang besar.
Ningsih mendudukkan dirinya di Kursi Kafe yang letaknya tak terlalu jauh dari Kampusnya. Di depannya sudah ada seseorang yang katanya ingin mengajaknya berbicara. Ningsi menatap seseorang itu datar.
__ADS_1
"Pesan makanan dulu, aku tahu kamu lapar. Setelah makan baru kita ngobrol!" ujar Widya.
Ningsih menatapnya tajam, "nggak usah basa-basi. Anda mau bicara tentang apa? Apa tentang kebusukan anda sama Kak Juna?" tanya Ningsih tajam.
Bukannya tersinggung, Widya malah terbahak. Astaga! gadis ini ternyata benar-benar pencemburu, batinnya.
"nggak apa-apa, nggak apa-apa! Saya paham kalau cemburu bisa membuat seseorang sulit percaya pada kenyataan".
"cemburu? kenyataan? Hahahah! Anda ini benar-benar lucu yah? kenyataan seperti apa? seperti kalian berdua yang bergandengan mesra di depan umum sementara si pria sudah mempunyai Istri?" sindir Ningsih. Widya kembali tertawa mendengar semua tuduhan Ningsih.
"Sebenarnya aku malas bilang ini, apalagi waktu itu kamu ngatain aku permen karet di depan banyak orang. Tapi, aku masih punya hati untuk bantu sahabatku itu yang rela ngemis-ngemis selama tiga hari ini agar aku mau membantunya menjelaskan ke kamu" Widya menatap Ningsih guna melihat ekspresi gadis itu, namun yang ia temukan hanya wajah datarnya saja. Ya ampun, gimana bisa sahabatnya itu jatuh cinta sama gadis datar ini? Ya...Widya tahu kalau dulu gadis ini benar-benar manis, tapi kenapa sekarang tumbuh menjadi gadis datar kayak gini?
Widya memilih melanjutkan karena Ningsih hanya diam. "lagian yah, asal kamu tahu aja. Aku itu sudah bersuami, dia juga sahabatnya Juna. Namanya Agung, siapa tau aja kamu kenal" Ningsih menatap Widya terkejut, membuat Widya lagi-lagi tertawa.
__ADS_1
"Kak Agung?" gumamnya namun masih bisa ditangkap pendengaran Widya.
"Iya, kamu kenal?"
Ningsih diam tak menjawab. Ia memang beberapa kali ketemu Agung, saat dia menemani Juna dan Tania kencan. Dan yah, dia tahu Agung sudah menikah tapi....ia tak menyangka kalau Wanita yang ia lihat menggandeng mesra Juna itu adalah istrinya.
"Jadi, kamu sekarang sadar kan kalau kamu salah paham?" lagi-lagi Ningsih hanya diam.
"kalian selingkuh di belakang Kak Agung?" tudingnya, membuat mata Widya membulat.
"eh bocah, sembarangan aja! Mana mau aku selingkuh sama modelan Bucin kayak Juna? Asal kamu tahu aja, terlalu sayang ninggalin Agung yang jelas-jelas mencintai aku hanya untuk Juna yang cintanya udah mentok sama seseorang yang bahkan masih kelas Enam SD waktu itu" Ningsih mengerutkan alis bingung. "Jadi Kak Juna sudah suka sama Kak Tania sejak kelas enam SD?" tanya Ningsih membuat Widya mengutuk mulutnya sendiri.
"Hah? eh anu....itu....emm aku buru-buru nih Si. Kalau masalah itu tanya aja sama Juna yah? entar lagi aku ada meeting soalnya" Widya buru-buru berpamitan karena tak tahu menjawab pertanyaan Ningsih dengan kalimat apa.
__ADS_1
"kenapa sih, aneh banget? emangnya aku bakalan marah apa hanya karena Kak Juna suka sama Kak Tania sejak SD? tapi....kalau cinta mereka bahkan dari umur segitu, kenapa Kak Tania bisa kabur di hari pernikahan?" Ningsih menghela nafas kasar, kenapa banyak teka-teki sih di balik pernikahannya dan Juna?