
"Aku boleh gabung di sini kan?" Tanya Pria itu sambil mendudukkan dirinya di kursi tepat di samping Ningsih.
Tania hanya diam, sementara Ningsih menatap mereka penasaran. Sebenarnya, apa hubungan Tania sama pria ini?
"Gimana kabar kamu Tania? Aku dengar, pernikahan kamu batal yah waktu itu? Sayang banget aku nggak di sana! Padahal asik kayaknya, nyaksiin batalnya pernikahan itu!" Pria itu terus mengoceh. wajah Tania sudah memerah, mungkin ia sedih sekaligus menahan amarah.
"Terus, sahabat tercinta kamu itu di mana Tan? Kok nggak keliatan? Oh......aku tahu! Dia pasti lari dari tanggung jawab yah? Kasian banget sih kamu! udah hamil, batal nikah, eh yang ngehamilin nggak tanggung jawab" Ningsih memandang Pria itu marah karena perkataannya terdengar sangat kurang ajar.
"Apa maksud kamu, ngomong gitu ke kak Tania!?" Sentak Ningsih.
"Ngomong gimana? Ngomong kenyataan maksudnya?" Tanya Pria itu. Satu kata untuknya menurut Ningsih, menyebalkan!
"Kamu nggak tahu apapun tentang Kak Tania. Nggak seharusnya kamu ngomong gitu!" Ujar Ningsih penuh amarah.
"Siapa bilang aku nggak tahu?" Pria itu mengangkat alisnya sebelah, memberikan tatapan seolah mengejek ke arah Ningsih.
"Tania, gadis cantik yang memiliki seorang sepupu yang tak kalah cantik. Saat SMP bersahabat dengan Bimo, sayangnya persahabatan mereka juga di isi dengan rasa cinta. Saat SMA berpacaran dengan Arjuna, lebih tepatnya berpura-pura. Perlahan, rasa cinta mulai tumbuh, seorang Tania yang baik hati berubah menjadi sosok yang egois. Bertahun-tahun menjalani hubungan pura-pura, sampai tuntutan menikah mereka dapatkan dari para orang tua. Menjelang pernikahan, si cowok tak bisa melupakan cintanya pada seorang gadis yang tak lain adalah sepupu Tania, membuat Tania frustasi dan memilih memasuki club malam. Mabuk-mabukan di sana dan.......berakhir bercinta dengan sahabat sekaligus cinta monyetnya dulu!"
Ningsih melotot kaget, sedangkan Tania, badannya sudah gemetar karena menangis "Gimana? Apa masih ada yang kurang? Atau mau dilanjut sampai batalny..."
__ADS_1
"Cukup!" Teriak Ningsih. Bahkan, Pelayan yang bermaksud membawakan pesanan mereka tersentak kaget. Pelayan itu memilih diam, menyaksikan drama tiga orang tersebut.
"Kamu.....!" Ningsih menunjuk wajah pria itu penuh amarah.
"Aku? Aku kenapa?" Tanyanya mengejek.
"Kk..."
"Ss..si...udd..dah! Perut Kk..kakak ss..sakit!" Tania terjatuh dari kursinya. Wajah wanita itu terlihat pucat, keringat membanjiri di area wajahnya. Tania terlihat benar-benar kesakitan.
"TOLONG! TOLONGIN KAKAK SAYA! TOLONG PANGGILKAN AMBULANCE!" teriak Ningsih panik. Ia menyandarkan tubuh Tania padanya, bahkan Ningsih sudah menangis melihat kesakitan Tania.
"Kakak, Kakak dengarin Sisi oke? Sabar yah! Nggak lama lagi ambulance-nya pasti datang. Tahan yah Kak!" Ujarnya berusaha menenangkan Tania. Padahal, suaranya sendiri sudah bergetar saking ketakutannya.
Sampai di rumah sakit, Ningsih menghubungi pihak keluarganya satu-persatu.
Pikiran Ningsih tiba-tiba teringat pada ucapan pria yang tidak ia ketahui tadi. 'bercinta dengan Sahabat sekaligus cinta monyetnya' kata-kata itu seolah terulang di telinga Ningsih. Siapa? Siapa sebenarnya pria yang menghamili Tania? Siapa..... astaga! Buru-buru Ningsih menghubungi sebuah nomor yang belum lama ini ia dapatkan.
"Ha..."
__ADS_1
"Ke Rumah Sakit Bakti Nusa sekarang!" Ujarnya tanpa memberi kesempatan si lawan bicara mengeluarkan kata-kata. kemudian ia mematikan sambungan sepihak.
"Sayang, gimana keadaan Tania?" Tanya Adelia khawatir. Nafas wanita itu ngos-ngosan, ia berlari masuk ke rumah sakit dari arah parkiran.
"Kak Tania udah mau melahirkan Tante. Tante tenang dulu oke?" Ujar Ningsih. Kemudian terdengar beberapa derap langkah mendekat ke arah mereka, rupanya di sana bukan cuma ada Mamanya Tania. Tapi ada Orang Tua Sisi, Papanya Tania, juga Juna yang datang. Ningsih menjawab satu persatu pertanyaan dari mereka.
Pintu ruangan tempat Tania terbuka, menampakkan Dokter yang menangani Tania.
"Bu Tania akan melahirkan. Dan sudah pembukaan ke tiga, kita tunggu sebentar lagi sampai pembukaannya lengkap" ujarnya menjelaskan keadaan Tania.
"Oh yah, siapa di antara kalian yang mau menemani pasien di dalam, sekaligus menenangkan dia" tanya si Dokter.
Adelia bermaksud menjawab, namun lebih dulu dipotong Ningsih.
"Biar aku saja! Kalau tante yang ke dalam, takutnya Kak Tania akan semakin ketakutan karena raut tante yang khawatir banget gini" ujarnya. Semuanya mengangguk setuju.
Ningsih melangkah mendekat ke arah ranjang yang di tempati Tania. Ia melihat beberapa kali sepupunya itu mendesis kesakitan. Ningsih meringis pelan melihatnya, ia seolah merasakan apa yang sedang Tania rasakan. Mungkin seperti itulah naluri seorang perempuan.
"Kakak yang sabar yah! Sebentar lagi kita bakal ngeliat anak Kakak! Jadi Kakak harus kuat" ujar Ningsih menyemangati sambil mengelus rambut Tania.
__ADS_1
Selang beberapa menit, Ningsih mendengar keributan di luar sana. Ia pamit pada Tania, sekedar mengecek ada apa sebenarnya. Ia membuka pintu ruang rawat Tania, lalu tersenyum melihat siapa yang berada di depannya. Pria dengan wajah pucat dan penuh kekhawatiran itu sedang berdebat dengan Juna.
"Kak Bimo, ayo masuk ke dalam!" Ajaknya santai.