Sang Pengiring Pengantin

Sang Pengiring Pengantin
Delapan Puluh


__ADS_3

Semua anggota keluarga terlihat mondar-mandir di depan pintu ruangan Tania. Semua nampak cemas menanti kelahiran anak dari wanita itu. Sebenarnya mereka juga penasaran kenapa Ningsih sampai menyuruh Bimo ke sini, namun semuanya menurut saat Ningsih mengatakan akan menjelaskan setelah anak Tania nanti lahir.


Derap langkah kaki terdengar mendekat, semua mata tertuju pada siapa yang baru saja datang itu.


"Kebetulan kamu ke sini! Jadi aku nggak perlu nyari-nyari keberadaan kamu lagi setelah ini" ujar Ningsih saat melihat siapa yang datang.


Wajah pria itu terlihat pucat, juga sendu. Mungkin karena ia merasa bersalah pada Tania tadi.


"Dia siapa si?" Tanya Ana.


"Teman sekolahnya Kak Tania dulu!" Jawab Ningsih.


Juna mendekati pria itu. "Kamu...."


"Iya. Aku Ardi. Temannya Tania yang waktu itu!" Jelasnya pada Juna.


"Ngapain kamu di sini?" Tanya Juna.


"Sebelumnya saya mohon maaf! Tani jadi begini gara-gara saya!" Ujarnya pelan.


"Maksud kamu apa?" Kali ini Tomi, Papa Tania yang angkat suara.

__ADS_1


"Maksud saya, saya minta maaf karena saya Tania masuk Rumah Sakit" ralat Ardi. Jangan sampai mereka berpikir kalau ia yang menghamili Tania.


"Kak Tania masuk rumah sakit bukan karena kamu! Tapi karena sudah waktunya lahiran. Walaupun ya...." Ningsih tak melanjutkan ucapannya. Ia tak ingin memancing keributan di tempat dan saat ini juga.


"Jadi, Tania mau melahirkan?" Tanya Ardi bingung. Ningsih mengangguk "iya" kemudian semuanya kembali diam.


Tak berapa lama, terdengar suara tangisan bayi dari dalam membuay semuanya menghela nafas legah. Pasti Tania sudah berhasil melahirkan buah hatinya. Kemudian pintu terbuka, menampakkan seorang suster yang menggendong seorang bayi, mungkin untuk dimandikan.


"Bayinya laki-laki! Tampan!" Ujar Suster itu saat semua mata menatap penasaran ke arah si bayi.


"Ini mau dibawa ke mana Sus?" Tanya Ningsih penasaran. Pasalnya, ia baru kali ini menemani orang melahirkan di rumah sakit. Selama ini ia hanya kebanyakan melihat orang melahirkan melalui sinetron-sinetron saja, belum pernah secara langsung. Walau ia tidak secara langsung mendampingi Tania di dalam sana sih!


"Terus kondisi Ibunya gimana Sus?" Tanya Adelia.


"Ibunya juga baik-baik saja! Dia cuma kelelahan dan lagi ditangani Dokter"


"Alhamdulillah!" Desah semua anggota keluarga legah.


"Ya sudah, saya permisi dulu. Untuk lebih detail lagi tentang kondisi pasien silahkan tanyakan langsung pada Dokter nanti"


Suster tersebut melangkah meninggalkan semuanya yang nampak sangat bahagia.

__ADS_1


.............................................................


Semua anggota keluarga sudah berkumpul di ruangan Tania. Di sana juga terdapat Bimo dan Ardi.


"Ada yang bisa jelasin semuanya sekarang?" Ujar Tomi membuka suara. Ruangan tampak hening sedari tadi. Mereka bukannya tak bahagia atas kelahiran anak Tania. Tapi masih ada yang mengganjal yang harus segera mereka selesaikan.


Ardi tampak menunduk dalam. Pria itu menghela nafasnya kasar. Walau bagaimanapun, semua adalah ulahnya.


"Saya minta maaf! Semua ini gara-gara kebodohan saya. Akibat rasa benci saya, saya merusak masa depan banyak orang"


"Apa maksud kamu?" Tanya Tomi.


Semua terlihat tenang, berusaha mencermati semua kata yang keluar dari mulut pria itu agar tak ada yang terlewat.


"Saya yang menjebak Tania dan Bimo sehingga mereka bisa berakhir di sebuah hotel malam itu!" Ujarnya memulai penjelasan.


Emosi Tomi seketika terpancing, pria paruh bayah itu berdiri bermaksud menghajar Ardi namun ditahan oleh Adelia.


"Sabar Mas, kita dengarin dulu penjelasan dia. Semua pasti memiliki alasan! Kita jangan menyimpulkan begitu saja" kata Adelia.


Like, komen dan votenya jangan lupa dong, biar aku semangat up-nya.

__ADS_1


__ADS_2