Sang Pengiring Pengantin

Sang Pengiring Pengantin
Tujuh Puluh Dua


__ADS_3

Vote, like dan komennya jangan lupa😊


jangan lupa juga baca ceritaku yang lain😊


"Apa Kaka tahu siapa lelaki itu?" Tanya Ningsih, Tania hanya diam. Perempuan itu sudah sesegukan, karena mengingat kejadian itu, jelas saja kesedihan tetap melandanya seketika.


"Apa kepergian Kakak...." Ningsih tak melanjutkan kalimatnya.


Tania mengangguk "iya! Tiga hari sebelum pernikahan, kakak menemukan hal aneh pada tubuh Kakak. Ketakutan itu seketika melanda, dan Kakak segera memastikannya. Kakak membeli tes pack, dan hasilnya positif. Bahkan Kakak memastikan kembali dengan mendatangi Dokter kandungan, dan yah....Kakak memang hamil, empat Minggu" jelas Tania.


"Dan hari itu juga....Kakak sadar dengan semua perbuatan Kakak. Kakak terlalu serakah, bahkan ingin merebut apa yang seharusnya kamu miliki. Kakak juga membuat Juna terkurung dalam permainan Kakak, dan Kakak benar-benar menyesal. Akhirnya, hari itu juga Kakak mengatakan semuanya pada Juna" Ia menerawang. Tangisnya sudah mereda, ia tersenyum memandang ke arah Ningsih.

__ADS_1


"Dan kamu tahu Si? Juna pria baik. Dia merasa bersalah dan ingin bertanggung jawab walau itu bukan anaknya. Ia ingin menutupi aib Kakak, dan tidak akan membatalkan pernikahan kami, tapi Kakak menolak. Kakak tidak ingin egois untuk ke sekian kalinya. Akhirnya Kakak mengusulkan rencana Kakak" ujar Tania.


"Maksud Kakak?" Tanya Ningsih tak mengerti.


"Diam-diam, Kakak mengganti gaun pengantin Kakak dengan gaun pengantin yang sama persis, namun dengan ukuran badan kamu. Kakak dan Juna juga menemui pihak keluarga Kakak, pihak keluarga Juna, dan juga Kamu" Ningsih terperangah. Jadi, semuanya sudah direncanakan? Pantas saja tak ada raut kecemasan saat mereka mengatakan Tania kabur. Seolah-olah itu bukanlah masalah besar.


"Kami juga sepakat untuk mengganti semua berkas-berkas di Kantor KUA, menggantinya dengan yang baru. Bukan lagi nama Juna dan aku, tapi Juna dan kamu" Ningsih mendengus mendengarnya. Ia benar-benar merasa tertipu. Sebenarnya, apa yang ada di benak pihak keluarga mereka sehingga main setuju saja dengan rencana Tania dan Juna?


"Untuk semakin membuat kamu tidak curiga, Kakak tetap di sana bahkan pada saat sebentar lagi pernikahan itu akan berlangsung. Saat itu, mereka sengaja membuatmu berlama-lama di kamar, dan mereka berjaga di depan pintu Kakak. Kamu tahu alasannya kenapa?" Ningsih diam tak menjawab. Tapi ingatannya kembali pada saat ia keluar dari kamar, semua keluarganya mondar mandir di depan pintu kamar Tania.


Ningsih menganga tak percaya. Kenapa kenyataannya sesulit ini ia terima. Jadi semua orang membohonginya? Mereka membiarkan Ningsih terlarut dalam rasa bersalah pada Tania, padahal mereka tahu di mana keberadaan wanita itu? Ningsih merasa benar-benar sukses dibodohi.

__ADS_1


"Setelah mendengar penjelasan ini, jangan menyalahkan siapapun. Terlebih diri kamu sendiri. Kalaupun kamu ingin menyalahkan, salahkan Kakak saja. Semua ini ulah Kakak. Silahkan benci Kakak, tapi Kakak mohon, jangan membenci siapapun di antara mereka. Terlebih Juna" pungkasnya. Nada sendu tak dapat Tania sembunyikan dari semua kalimatnya.


Ia merasa rendah, jika berharap Ningsih masih menganggapnya Kakak seperti dulu. Ia merasa dirinya yabg egosi tak pantas akan hal itu. Makanya dia rela, jika Ningsih membencinya setelah ini.


"Aku berjanji tak akan menyalahkan dan membenci siapapun, termasuk Kakak. Aku menyayangi Kakak, dan selamanya akan seperti itu. Tapi ada syarat yang harus Kakak penuhi" ujar Ningsih membuat Tania terkejut luar biasa. Ia kembali menangis, karena nyatanya Ningsih pun tak bisa membencinya, padahal kesalahannya pada gadis itu benar-benar banyak. Tania berjanji akan melakukan hal apapun, demi adik kesayangannya itu.


Ningsih tahu menerima semuanya terasa berat baginya, tapi bukankah jika ia marah semua percuma juga?


"Terima kasih! Kakak menyayangimu, sangat. Kakak akan melakukan apapun, untuk kamu" kata Tania. Ia mendekat ke arah Ningsih, keduanya berpelukan melepas rindu. Saling menyalurkan kasih sayang seperti dulu.


"Berjanjilah untuk menepatinya, Kak"

__ADS_1


Tania mengangguk. "Kembalilah ke rumah Tante sama Om. Kembalilah ke rumah Kakak. Kembalilah ke kehidupan kami, Sisi kangen akan kehadiran Kakak" dan tangis Tania semakin pecah karena permintaan adik kecil tersayangnya itu.


"Kakak janji. Kakak akan kembali"


__ADS_2