
Ningsih baru saja merapikan alat tulisnya untuk diisi ke dalam Tas karena Mata Kuliahnya baru saja selesai. Senggolan di lengannya yang berasal dari Wita membuatnya menoleh bingung pada sahabatnya itu.
"Kenapa?" Wita hanya mengedikkan bahunya ke arah pintu kelas, Ningsih mengikuti arah yang dimaksud Wita dan menemukan Noval yang berdiri dengan santai sambil memandang penuh senyum ke arahnya.
"Cieee, janjian pulang bareng sama Kak Noval yah?" goda Wita membuat Ningsih menatapnya malas.
Tanpa menghiraukan Wita yang masih belum berhenti menggodanya, Ningsih melangkah menghampiri Noval dan meninggalkan Wita yang berdecak kesal karena sikapnya.
"Kenapa Kakak di sini?" tanya Ningsih bingung.
"Kamu nggak bawa Motor kan?" Ningsih terkejut dengan pertanyaan Noval. "darimana Kakak tahu?"
"Aku duluan Si!" pamitan dari Wita memotong percakapan keduanya.
Noval tersenyum lembut, "Apasih yang aku nggak tahu tentang kamu!" Ningsih langsung tertohok mendengar ucapan Noval. Dalam hati ia berkata 'banyak hal yang kamu nggak tahu Kak. terutama tentang pernikahanku'.
Noval menjentikkan jarinya di depan wajah Ningsih, membuat gadis itu terkejut tiba-tiba. padahalkan ia sedang menggombali Ningsih dengan gombalan recehnya, tapi bukannya merona atau malu-malu Ningsih malah melamun. Gagal deh gombalannya.
__ADS_1
"Kok melamun? nggak baik loh melamun kalau di depannya ada cowok ganteng" Ningsih tertawa pelan mendengar candaan Noval.
"Pede banget sih, Kak?!" cibirnya. Noval tertawa "lagian kamu melamun di depan pintu. Kesambet baru tahu rasa! ngelamunin apa emang, hmm?"
Ningsih gelagapan karena pertanyaan Noval. Nggak mungkin kan dia jawab 'lamunin pernikahan aku yang aku sembunyikan dari Kakak', nggak mungkin kan? Bisa-bisa ia dan Noval bertengkar. Lagipula, Ningsih tak bisa membohongi hatinya kalau sampai saat ini ia masih mencintai Noval, bahkan tak berkurang sedikitpun. Walaupun ia merasa sedikit berdebar di dekat Juna, juga ia merasa sakit saat Juna menyuekinya, Ningsih yakin semua itu hanya karena ia tidak terbiasa dengan perlakuan juga kemarahan Juna.
Selama ini Juna memang selalu perhatian dengannya, tapi itu hanya sebatas karena Ningsih sepupu Tania, nggak lebih. Bukan seperti sekarang, memperlakukan Ningsih sebagaimana seorang suami bersikap pada istrinya. Dan masalah Juna yang bersikap dingin padanya, Ningsih yakin ia merasa sakit bukan karena mencintai Juna, tapi lebih kepada Ningsih tidak pernah dicueki pria itu selama ini. Selama pacaran dengan Tania, Juna selalu baik kepadanya meskipun kadang membuatnya kesal karena kejahilannya.
"Si, Si! Kok melamun lagi?" Noval menepuk pundak gadis itu pelan karena kedapatan melamun untuk yang kesekian kalinya hari ini.
"Hah? Iya? Emmm, Kakak ngomong apa tadi?" Noval memandangnya aneh, ia yakin ada sesuatu yang Ningsih berusaha sembunyikan darinya.
"Oke, tapi bukan ke rumah aku yang dulu yah?" Noval terlihat ingin bertanya, namun buru-buru Ningsih memotongnya. "Udah, nanti kapan-kapan aku ceritain. sekarang Kakak jangan banyak tanya dulu yah? Kecuali kalau Kakak mau aku menolak sih" ancamnya.
Noval mendengus mendengar ancaman Ningsih. "ya udah ayo. Tapi cerita yah, nanti?" tanyanya memastikan. Keduanya lalu beriringan berjalan meninggalkan kelas Ningsih yang sudah kosong karena semua mahasiswanya sudah pulang.
"Iya, kalau nggak lupa tapi!" jawabnya sambil tertawa karena ekspresi Noval yang terlihat lucu karena cemberut mendengar jawabannya.
__ADS_1
"ckkk, masih muda kok udah pelupa!" decaknya.
Ningsih menatap Noval yang berjalan di sampingnya dengan tatapan menggoda. "pelupa-pelupa gini Kakak tetap sayang kan?"
Noval berpura-pura membuang muka "siapa bilang?" elaknya.
"Oh ya? Kalau nggak sayang, ya udah! aku pulang naik taksi aja, atau nggak minta tolong Riko aja. Dia kan suka sama aku, pasti dia senang banget ngantar aku pulang!" ujarnya bercanda membuat Noval langsung memberikan tatapan tajamnya. sedikit pemberitahuan aja, Riko itu teman seangkatan Noval yang menyukai Ningsih. Namun karena Noval selau menempel pada gadis itu, membuatnya lebih memilih mundur. Katanya ia masih ingin melihat matahari terbit dan tenggelam setiap hari. Noval memang sedikit menakutkan.
"coba aja, paling besok Riko udah nambah gelar di depan" ucapnya sambil mengepalkan tangannya. Ningsih tahu kalau Noval sedang cemburu dan menganggap perkataannya serius.
"gelar apaan?" tanya Ningsih bingung.
"Almarhum" ujarnya ringan, membuat Ningsih reflek menabok lengannya. "Sembarangan!"
"makanya, jangan dekat dengan laki-laki lain. Kamu tahukan, kalau aku cemburu?" peringatnya.
Ningsih menelan salivanya kasar, bagaimana reaksi Noval nanti jika tahu Ningsih bukan sekedar dekat dengan cowok lain, tapi sudah menikah? Dan yang membuat Ningsih makin takut adalah, Juna itu sepupu Noval. Keduanya juga sangat dekat, bahkan kata Noval ia belajar bela diri melalui Juna. Apa jadinya jika mereka saling menghajar?
__ADS_1
Terima kasih banyak bagi yang sudah menyukai tulisan ini. Aku harap kalian nggak bosan dengan cerita ini. Jangan lupa juga Like, vote dan kalau ada yang berkenan Share aku bakalan sangat berterima kasih. Komentarnya juga kalau kalian menemukan kesalahan penulisan atau Typo. Sekali lagi aku ucapkan terima kasih pada para pembaca SPP💕