Sang Pengiring Pengantin

Sang Pengiring Pengantin
Tiga Puluh Tiga


__ADS_3

Up hari ini๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜Š


kalau like, vote dan komennya banyak, aku usahain up tiap hari. Kalau enggak berarti kembali ke awal, up dua hari sekali.


"Kamu bawa motor atau dianterin tadi Wid?" tanya Juna. Saat ini keduanya sedang membereskan alat-alat tulis untuk di masukkan ke dalan tas karena Bel pulang sekolah sudah berbunyi.


"Dianterin tadi" jawab Widya. Juna mengangguk "ya udah. berarti pulangnya bareng aku aja, kan sekalian kita mampir ke rumah Agung" ajak Juna. Lagipula, arah rumah mereka kan sama. hanya saja, rumah Widya lebih jauh daripada rumah Juna dan Agung.


"Terus, pulang nanti kamu anterin aku sampai rumah kan?" tanya Widya. Matanya menatap Juna dengan penuh curiga, membuat Juna berdecak.


"enggak! Aku turunin nanti di perempatan, biar dikira cabe-cabean" jawabnya asal.


PLAKK!!


Juna memegang kepalanya yang terasa sakit karena mendapat geplakan tangan Widya. Ia memandang Widya sinis. "Sakit banget sih Wid. kamu kok jadi perempuan bar-bar amat!" ujarnya kesal.


"siapa suruh pake bilang mau nurunin aku di perempatan" jawab Widya.


Juna mendelik kesal "ya siapa suruh juga kamu nanya gitu. Emangnya aku setega itu sampai nggak mau nganterin kamu sampe rumah?" Widya mendengus.


"Ya udah, iya. Aku yang salah! udah ah, cepatan. Entar Kantin di SMP kamu keburu tutup" ujarnya mengalah.


"iya. ayok!"


Juna memarkirkan motornya di depan gerbang SMP Permata. Widya memilih menunggu sambil duduk di atas motor Juna, ketimbang mengikuti cowok itu masuk ke dalam Sekolah sana.


"Cepatan yah Jun!" peringat Widya.


"Iya! bawel banget sih" cibir Juna, sambil melangkah meningalkan Widya.


Juna melangkah dengan cepat, menuju Kantin. tentu saja ia sudah hapal betul di mana letak tempat tersebut.

__ADS_1


Di jalan, beberapa kali ia berpapasan dengan adik kelasnya dulu yang akan pulang karena bel sudah berbunyi sejak tadi, ia hanya melemparkan senyum sebagai balasan saat mereka menyapanya.


Baru saja kakinya memasuki area kantin, tiba-tiba seseorang menyerukan namanya, membuatnya berbalik.


"Loh, Arjuna? Kamu kok di sini?" Juna tersenyum melihat siapa yang meneriakinya tadi. ternyata Pak Kardi, Kepala Sekolahnya. Ia mendekat ke arah pria tersebut lalu menyalimi tangannya.


"Iya, pak! mau mampir beli makanan. Kangen sama makanan buatan bibi kantin sini" jawabnya. Pak Kardi tersenyum.


"yah, sering-seringlah mampir sini. Kalau perlu, jika ada waktu luang main-mainlah ke sini. Banyak tahu, adik-adik kelas kamu yang baru yang penasaran sama kamu" Juna mengerutkan alisnya bingung memdengar perkataan Pak Kardi.


"penasaran? kenapa?" tanyanya.


"Ckkk. Bapak itu sering cerita ke mereka tentang Siswa alumni SMP sini yang berhasil masuk tanpa tes di SMA Gemintang, dan mendapat beasiswa full. yaa...sekedar memotivasi mereka sih" Ia menepuk pundak Juna, sambil tersenyum bangga.


Juna tersenyum malu, "Bapak terlalu berlebihan memuji saya!" ujarnya. Pak Kardi hanya menanggapinya dengan tawa.


"Ya sudah, Bapak duluan yah. tadi sebenarnya Bapak udah mau balik, tapi nggak sengaja liat kamu. Bapak pikir salah lihat, jadi bapak ikutin aja. ternyata benaran kamu!" Juna mengangguk sopan. "iya pak!"


Tiba-tiba matanya tertuju pada seorang gadis yang memakai seragam SMP Permata yang sedang makan, dihadapannya duduk juga seorang gadis namun berseragam SMA sama seperti Juna. Juna berusaha memfokuskan matanya ke arah kedua gadis itu, "Sisi?!" gumamnya. Buru-buru ia mendekat ke arah dua orang tersebut, yang kini sedang asik tertawa.


Jantungnya sudah berdebar kencang. Semakin dekat jaraknya dengan meja yang di duduki dua gadis itu, semakin kencang pula debaran jantunganya. Juna berusaha menghilangkan kegugupan yang tiba-tiba melandanya di jarak yang sudah sangat dekat dengan meja itu.


"Sisi?!" sapanya saat sampai, menghentikan tawa kedua gadis tadi.


Saat pemilik nama yang ia panggil tadi menoleh sepenuhnya, membuat rasa bahagia mampir di hati Juna seketika. Ia tadi terlihat ragu, namun ternyata gadis itu benar-benar Sisi. Gadis kecil yang ia cintai.


"Kakak? Kakak baik yang waktu itu kan?" Juna mengangguk mengiyakan, saat gadis itu bertanya dengan antusias dan senyum cerah seperti biasanya. Senyum favorit Juna, terlebih dengan tampilan lesung pipit di kedua pipinya.


"Astaga! Kakak ke mana aja? padahal Sisi sering loh, nungguin Kakak di tempat jualan nenek Ija" tanyanya, ia bahkan sudah berdiri dan mendekat ke arah Juna. Sedangkan gadis yang satunya lagi hanya diam memperhatikan mereka. Mungkin ia bertanya-tanya, kenapa mereka bisa saling mengenal.


"Ayo Kak, jelasin sambil duduk aja! Kasihan kalau Kakak berdiri terus!" Ia menarik tangan Juna, melahirkan rasa seolah tersengat listrik di tubuh pria remaja itu.

__ADS_1


Juna hanya menurut, ia duduk di samping Sisi. "Aku nggak ke mana-mana kok. Cuma yah...Kakak itu memilih fokusin diri ke ujian aja waktu itu, jadi kakak nggak bisa deh ngunjungin Sekolah kamu lagi" jawab Juna.


Ningsih mengangguk paham. "Sisi pikir waktu itu Kakak belum kelas tiga. Jadi Kakak baru lulus yah?" Juna mengangguk. "hmmm. Dan Kakak juga Alumni sini" mata Sisi membulat. "Oh ya? Nama Kakak Juna kan? jangan-jangan Kak Juna ini yang..." Juna hanya tersenyum sebagai balasan. Ia tahu, Sisi pasti menanyakan apa benar ia Arjuna Putra Wibowo yang sering diceritakan Kepala Sekolahnya itu.


Ningsih yang melihat senyuman Juna menyimpulkan kalau benar Kakak baiknya itu adalah Siswa hebat lulusan SMP-nya ini, Siswa yang sering dibicarakan para guru walaupun ia sudah tak berada di sana.


"Astaga! ya ampun!" Juna tertawa kecil melihat respon Ningsih. Ternyata Sisi-nya sudah bisa bertingkah alay layaknya remaja seumurannya, pikir Juna.


"Oh ya, Kak! ngomong-ngomong Kakak ngapain di sini?" tanya Ningsih. Juna menepuk kepalanya, hampir saja ia lupa tujuannya ke sini gara-gara bertemu Ningsih. Apalagi ia meninggalkan Widya sendirian di depan Gerbang bersama motornya. Sepertinya Juna harus ikhlas setelah ini rambutnya pasti akan banyak yang rontok. Atau mungkin wajahnya akan lebam, bahkan kulitnya akan berwarna keunguan karena kena cubitan. Nggak apa-apa, Juna ikhlas yang pentingkan hari ini ia bisa bertemu dan mengobrol lama dengan Sisi.


"mau beli makanan" jawabnya.


Gadis yang sedari tadi diam mengamati interaksi Juna dan Sisi itu berdehem pelan, karena keduanya terlalu asik mengobrol seolah tak ada orang lain di antara mereka.


"Eh, astaga! aku hampir lupa. Kenalin Kak, ini Kakak sepupu Sisi. Namanya Kak Tania" gadis kecil itu meringis, menatap Tania merasa bersalah. Tania hanya tersenyum, karena ia paham sifat Sisi kalau ketemu dengan orang yang sudah lama tak berjumpa dengan dia yah seperti ini.


"Juna" ucap Juna mengenalkan diri. Tania mengangguk sebagai respon, lalu tersenyum kecil ke arah Juna. "Tania" ucapnya.


"Aku udah kenal kamu kok. kita satu sekolah dan Kelas kita juga sebelahan" katanya lagi. Juna terkejut, "oh ya?" tanyanya tak percaya.


"hmmm. Sisi juga sering ceritain tentang kamu. Tapi aku nggak tahu kalau Kak Junanya itu sama dengan Juna siswa baru yang langsung populer di kalangan anak-anak Gemintang" jawabnya sambil tertawa.


Juna menggeleng. "ckkk, populer apaan?!"


"loh, kamu nggak tahu yah?" Juna hanya mengangkat bahunya acuh.


"Kak, katanya mau beli makanan. Kok belum mesan? Bibi kantinnya bentar lagi udah mau nutup loh Kak" perkataan Sisi membuat Juna menepuk jidatnya untuk kedua kalinya.


mati kamu Jun. pasti hari ini kamu harus dengarin ocehan Agung sebanyak tiga puluh juz, dan juga dimutilasi Widya pastinya. kutuknya pada diri sendiri.


Nah, nah, nah! panjang kan?! jadi, like, koment, dan tipnya jangan lupa๐Ÿ˜Š

__ADS_1


__ADS_2