Sang Pengiring Pengantin

Sang Pengiring Pengantin
Noval dan Wita Part 4


__ADS_3

Sebulan berlalu semenjak pertengkaran Noval dan Wita. Keduanya benar-benar menjauh seperti keinginan Wita. Sebenarnya Noval tak ingin seperti ini, tapi mau bagaimana lagi? Toh ini yang diinginkan Wita.


Noval jelas saja merasa bosan, hari-harinya ia lalui sendirian. Tak ada lagi gadis berisik dan galak itu di sampingnya. Ingin rasanya Noval kembali ke sikapnya dulu, mengalihkan perasaan kacaunya dengan bergonta-ganti pasangan. Namun, ketakutan Noval akan merasakan kembali sakitnya ditinggal pas lagi sayangnya, lebih besar ketimbang keinginan itu. Noval kapok karena pernah merasakan karma itu.


Noval melihat Ningsih tengah berjalan sendirian melewati kelasnya. Mungkin gadis itu mau ke kantin. Tapi, di mana Wita?


Noval mengejar langkah Ningsih. Hatinya sudah tak seberdebar dulu, namun rasa canggung jelas masih tersisa.


"Ningsih! Tunggu!" Panggilnya. Ningsih berhenti kemudian menoleh ke arahnya. Ningsih menghela nafas pelan saat melihat Noval. Wita sudah menceritakan semuanya padanya. Dan tentu saja Ningsih dengan senang hati mengomeli sahabatnya itu. Masa dia menyerah sebelum berjuang? Iya kalau itu yang terbaik. Lah ini, malah mereka merasakan sakit kedua-duanya.


"Kenapa Kak?" Tanya Ningsih.


"Kamu sendirian?" Ningsih mengangguk. "Wita malas ke kantin" jelasnya tanpa ditanya.


"Oh gitu. Kalau aku ajak kamu ngobrol sebentar nggak apa-apa?" Tanya Noval. Ningsih mengangguk "nggak apa-apa kok. Gimana kalau kita ngobrolnya di kantin aja? Soalnya aku laper nih Kak!" Usul Ningsih. Noval mengangguk  menyetujui. Keduanya kemudian berjalan beriringan ke kantin dengan suasana sedikit canggung.

__ADS_1


"Kakak mau ngomong apa?" Tanya Ningsih.


"Emm, aku tahu seharusnya aku nggak nanya ini ke kamu. Tapi, aku bingung mau nanya ke siapa lagi" ujarnya memulai. "Emm....Wita ada cerita sesuatu gitu ke kamu?"


Ningsih yang sudah menduga kalau Noval akan menanyakan hal itu berpikir sebentar. Ia tahu ini bukan haknya, tapi setidaknya Ningsih ingin sedikit membantu ke dua-duanya.


"Hmm. Kakak tahu kami sahabatan, jadi Wita jelas selalu menceritakan apapun itu ke aku"


"Termasuk kalau kami bertengkar?" Tanya Noval. Ningsih mengiyakan.


"Apa dia cerita alasannya?" Tanya Noval lagi.


"Menurut Kakak, kenapa Wita menyerah berada di samping Kakak?"  Tanya Ningsih seolah menjadi teka-teki yang harus dijawab Noval.


"Dia bilang karena aku...maaf! Karena waktu itu aku belum melupakan kamu" jawab Noval tak enak hati.

__ADS_1


"Terus, menurut Kakak alasan dia kayak gitu kenapa? Maksud aku alasan dia nggak suka Kakak masih stuck di masa lalu?" Lagi, Ningsih mengajukan ertanyaan.


"Karena ia nggak mau aku ngerusak hubungan kamu sama Bang Juna?" Jawab Noval sedikit ragu.


"Ya ya ya! Itu mungkin salah satunya. Tapi....sebenarnya bukan itu yang membuat Wita takut. Dia pasti yakin Kakak nggak akan berani melakukan hal itu  yah......meskipun tak menutup kemungkinan sih!"


"Terus? Kenapa kalau bukan itu alasannya?" Tanya Noval semakin penasaran.


Ningsih tersenyum geli 'maafkan aku Wita' batinnya. "apa Kakak nggak berpikir kalau Wita cemburu?"


"Hah?!" Beo Noval dengan wajah bodohnya.


"Kenapa? Emang aneh kalau Wita cemburu?"


Noval menggeleng pelan. Ia masih kebingungan. Wita? Cemburu? Yang benar saja! Orang gadis itu kalau bicara padanya selalu memakai urat.

__ADS_1


"Aku sih, cuma mau bilang itu aja. Selanjutnya itu, terserah kakak" ujar Ningsih sambil mengangkat bahu. Ia kemudian memakan pesanannya dengan santai tanpa menghiraukan Noval yang tengah syok di depannya.


Vote dan Komennya jangan lupa😊


__ADS_2