Sang Pengiring Pengantin

Sang Pengiring Pengantin
Lima Puluh Satu


__ADS_3

"Kak" panggil Ningsih pada Juna yang tengah asik menonton TV. Juna menoleh, melihat Ningsih yang menatapnya seolah ingin menyampaikam sesuatu.


"Kenapa sayang?" Tanya Juna. Ia mendekat ke arah Ningsih, lalu menarik gadis itu ke dalam pelukannya.


"Kenapa selama ini Kakak bisa sesuka itu pada Sisi? Maksud aku.... selama ini kan Kak Tania selalu berada di samping Kakak, kenapa perasaan  Kakak nggak berpaling ke dia? Sisi kan sering dengar istilah cinta tumbuh karena terbiasa" Sebenarnya Ningsih sudah ingin menanyakan ini sejak lama. Pasalnya, selama ini Tania sering berada di samping Juna, bahkan selama delapan tahun. Ningsih merasa aneh jika perasaan Juna sedikit pun tak tertuju pada Tania.


Juna tersenyum sambil menatap Ningsih yang juga tengah menatapnya di dalam pelukan tangannya.


"Kamu salah sayang! Sebenarnya Kakak sama Tania nggak sedekat itu. Mungkin kamu berpikir selama delapan tahun ini Tania selalu bersama Kakak tapi kamu salah" Ningsih terlihat bingung.


"Maksud Kakak?"


"Kakak sama Tania, jarang berkomunikasi kecuali saat saling mengabarkan untuk jalan di hari minggu. Misalnya kita akan jalan ke mana, atau Kakak harus menjemput kalian di mana, hanya sebatas itu. Tania juga akan menghubungi Kakak jika ada sesuatu yang penting menyangkut kamu. Seperti saat kamu ingin pergi ke tokoh buku, atau saat kamu sakit dan juga.....saat kamu dekat dengan Noval, sepupu Kakak" Ningsih terkejut. Jadi selama ini...... Astaga, ternyata Juna dan Tania benar-benar sangat pintar berakting.

__ADS_1


Pantas saja selama ini Juna tak pernah tahu tentang apa saja kesukaan Tania, dan apa saja yang gadis itu tak sukai.


Pernah waktu itu mereka pergi ke sebuah Restoran untuk makan, Juna memesan udang untuk mereka bertiga padahal setahu NingsihTania alergi udang. Ningsih juga heran saat itu Tania hanya diam dan memilih memakannya, sampai-sampai saat di rumah badannya menjadi bentol-bentol dan berwarna kemerahan. Menurut Ningsih waktu itu, itu bukanlah hal yang wajar karena hubungan mereka sudah lama. Masa masalah alergi Tania saja Juna tak tahu. Dan sekarang, terjawablah rasa penasaran Ningsih.


Juna memperhatikan wajah Ningsih yang berubah sendu. Inilah yang tidak ia sukai jika membahas masa lalu mereka. Pasti gadis itu lagi-lagi merasa bersalah pada Tania.


"Si, Kakak mohon sama kamu. Jangan merasa bersalah dengan semuanya. Kalaupun ada yang patut disalahkan, itu adalah Kakak. Karena Kakak terlalu pengecut menjadi laki-laki" Ningsih tersadar. Ia memaksakan senyumnya, lalu menggeleng pelan.


"Kak!" Panggilnya pada Juna.


Juna menunduk melihat Ningsih yang wajahnya sudah memerah menatapnya.


"Kenapa?" Tanya Juna bingung.

__ADS_1


"Sisi.... Sisi..."


Juna semakin mengerutkan alis bingung. "Iya, Sisi kenapa, hemm?" Tanyanya lembut.


Wajah Ningsih malah semakin memerah membuat Juna ingin tertawa namun ditahannya.


"Sisi.... udah cc...cinta sama Kakak" ujarnya berbisik lalu menenggelamkan kepalanya di dada bidang Juna karena merasa malu.


Juna menegang mendengar pengakuan Ningsih. Ia menatap istrinya yang tengah menyembunyikan wajahnya, namun sesaat kemudian ia tersenyum senang.


"Makasih sayang! Makasih sudah membalas cinta Kakak. Kakak lebih cinta ke Sisi" ujarnya sambil meneteskan air matanya haru. Juna benar-benar tak menyangka, perasaan yang ia rasakan bertahun-tahun akhirnya terbalas juga.


akhirnya penantian Juna berhasil yah readers😊 Tapi..... bukan hidup namanya kalau nggak ada ujian. udah siap menemani Juna dan Sisi menghadapi ujian cinta mereka?

__ADS_1


__ADS_2