
"Kita istirahat dulu, rapiin pakainnya nanti aja!" ujar Juna saat melihat Ningsih bermaksud membuka koper yang berisi pakaiannya.
Ningsih tak mempedulikan perkataan Juna, gadis itu malah meneruskan apa yang sedang ia kerjakan.
"Dek, kamu nggak cape apa? sedari tadikan kamu udah ngemas barang kamu, terus barang aku juga kamu bantuin, masa mau langsung rapihin di lemari sekarang juga?" Juna masih saja mengoceh membuat Ningsih menoleh dengan tatapan kesalnya.
"lebih baik Kakak bantuin aku deh, daripada ngoceh kayak gitu. yang ada aku makin cape dengar ocehan Kakak!" kesal Ningsih. Juna menghela nafasnya kasar, Istrinya ini benar-benar keras kepala. Akhirnya, mau tak mau ia membantu Ningsih membereskan pakaian mereka untuk di rapikan ke dalam lemari.
"Udah, sekarang kamu istirahat dulu. Semuanya biar Kakak yang ngurus" suruh Juna.
Ningsih menatap Juna aneh, tapi ia tetap melakukan apa yang diperintahkan Juna. "Awas aja kalau sampai nggak rapi, aku akan tidur di kamar sebelah kalau sampai tatanannya nggak sesuai dengan selera rapi menurut aku" ancamnya. Juna hanya mengangguk sambil tersenyum, lagian dia sudah terbiasa kok hidup rapi. jadi masalah merapikan pakaian atau barang-barang sejenisnya, Juna masih bisa diandalkan.
"iya! udah sana, istirahat!" Ningsih menurut. Ia mendekat ke arah ranjang dan menjatuhkan tubuhnya di sana. perlahan, matanya terasa berat dan akhirnya ia tertidur.
Ningsih membuka matanya perlahan, hidungnya mencium bau harum masakan. apa Juna pesan makanan dari Restoran? ia bangun dari posisi tidurnya, alisnya berkerut heran. perasaan tadi ia langsung membaringkan tubuhnya asal, bahkan tanpa memakai bantal. Tapi kenapa sekarang saat ia bangun, ia sudah memakai bantal? Apa Juna yang merapikan tidurnya?
Ningsih menggelengkan kepalanya, kalau Juna yang melakukannya emangnya kenapa? Juna kan suaminya. Tapi.......ah, sudahlah! lagian, aroma masakan yang tercium itu lebih menggoda dibanding memikirkan posisi tidurnya tadi.
__ADS_1
Ningsih menoleh ke seluruh penjuru kamar, namun tak menemukan sosok Juna. Apa dia mandi? mungkin saja! batinnya.
Ningsih menuruni anak tangga dengan rambut acak-acak. Rumah ini terbilang besar, dengan dua Kamar di lantai dua, dan tiga kamar di lantai satu. Kamar Ningsih dan Juna berada di lantai dua, jadi Ningsih harus menuruni anak tangga ini terlebih dahulu sebelum menuju dapur yang letaknya di lantai satu.
Matanya membulat sempurna, saat menemukan sosok Juna yang dengan telaten mengaduk nasi goreng, sambil sesekali tersenyum sendiri. Ningsih takjub sekaligus bergidik. takjub karena Juna ternyata bisa masak, dan bergidik karena Juna senyum-senyum sendiri seperti orang gila.
"eh, udah bangun dek?" Juna akhirnya menyadari kalau ada mata yang sedari tadi sedang memperhatikannya.
"belum!" ketus Ningsih. udah tau malah nanya, batinnya kesal.
"nggak nyangka aku, kalau Kakak bisa masak" komentar Ningsih, memilih mengabaikan candaan Juna tadi.
"ckkkk, suami kamu ini serba bisa dek" ujar Juna bangga. Ningsih terlihat mengangguk-angguk mendengar kepercayaan diri Juna. Ia mendekat ke arah kompor, lalu melirik nasi goreng yang berada di wajan itu. "ini bisa dimakan nggak?" tanyanya dengan santai, membuat Juna yang tadinya percaya diri langsung merasa ditimpa batu seberat lima ton.
"jahat banget sih, sama suami sendiri. gini-gini masakan aku menang waktu lomba memasak di kampus dulu" elaknya.
Ningsih berdecak, "itukan dulu. Zaman Kakak kuliah, artinya sekarang udah nggak berlaku lagi karena udah lama".
__ADS_1
"dulu? lama? maksud kamu Kakak udah tua, gitu?" Juna menatap Ningsih yang hanya menampilkan wajah datarnya.
"nggak sadar, yah?" Ningsih menatap Juna dengan tatapan seolah mengejek kalau Juna memang sudah tua.
"pleas yah, dek! umur Kakak baru dua empat, dan kamu bilang Kakak tua?"
"hinggap di jendela
nenek sudah tua
giginya tinggal dua"
Bukannya menjawab pertanyaan Juna, Ningsih malah menyambung kalimat Juna dengan lagu anak-anak itu. malah nyanyinya dengan ekspresi datar.
"Adeekkk, kamu mau buat Kakak kesal yah? sini kamu, sini!" Juna menatap Ningsih seperti ingin memakan gadis itu hidup-hidup. Akhirnya, melihat wajah memerah Juna karena kesal, Ningsih tertawa lalu berlari kembali ke kamar sebelum Juna melemparkan spatula yang berada di tangannya.
"Udah ya Kak, masak yang enak untuk aku. kan udah tua, jadi malu kalau masakannya nggak enak!" ejek Ningsih sambil berlari menaiki anak tangga. Juna menggeleng, bermaksud mengejar istrinya yang labil itu. Namun langkahnya terhenti karena mengingat saat ini ia sedang memasak nasi goreng. akhirnya, Juna kembali melanjutkan kegiatannya sambil sesekali tersenyum karena mengingat tingkah Ningsih.
__ADS_1