
Wita tengah menyusul Ningsih ke kafe yang berada di dekat Kampusnya itu. Tadi Ningsih mengatakan ingin menyelesaikan masalahnya dengan Noval di sana, namun sampai saat ini sahabatnya itu belum kembali padahal kelas sebentar lagi akan dimulai. Wita tak peduli jika dia akan terlambat masuk kelas nanti, hatinya saat ini menghawatirkan Ningsih. Ia yakin sahabatnya itu tidak sedang baik-baik saja saat ini.
Sampai di Parkiran depan kafe, Wita melihat Noval yang sepertinya baru saja ingin pulang. Pria itu sedang meghidupkan motornya, buru-buru Wita mendekat.
"Kak, Tunggu!" cegahnya saat Noval sudah berniat menggas motor miliknya.
Noval menoleh, dan saat melihat siapa yang memanggilnya ia menatap gadis itu tajam. Saat ini, ia sama sekali tak ingin berpapasan dengan siapapun yang ada sangkut pautnya dengan Ningsih, tapi kenapa ia harus bertemu dengan sahabat gadis itu sih?
Noval menghela nafas kasar saat melihat Wita semakin mendekat. Ia berniat pergi tanpa menghiraukan gadis itu namun terlambat, Wita sudah menahan lengan kemeja yang ia pakai.
__ADS_1
"Di mana Ningsih?" tanya Wita. Masa bodoh jika Noval marah padanya dan menganggapnya tak sopan. Ia terlalu menghawatirkan Ningsih, dan Novallah orang yang ia tahu bersama gadis itu. Jadi jangan salahkan dia jika bertanya pada pria yang sempat di HTS-in sahabatnya itu.
"Lepas! Dan jangan pernah nanya cewek murahan dan penghianat itu ke aku" ujar Noval dingin. Wita terkejut karena perkataan Noval, tanpa takut ia tersenyum sinis memandang ke arah pria itu. Dia menyimpulkan Noval marah akan semuanya.
"Mohon maaf, kata Kakak Ningsih apa? murahan? Ckk! Kakak bahkan nggak tahu kenapa Ningsih bisa menikah sama Kak Juna. terus apa? penghianat? Bukannya Kakak juga sama yah? bahkan berkali-kali" Noval yang berniat kembali menjalankan motornya kembali terhenti.
"Kakak nggak pernah tahukan gimana selama ini jadi Ningsih? Dia cinta sama Kakak, selama ini dia nunggu Kakak ngeyakinin dia juga Om Ata agar hubungan kalian bisa lebih dari teman. Tapi apa? Kakak sama sekali nggak ngelakuin itu malah nyari pacar lain dan nebar gombalan sana-sini. Dengan alasan biar bisa diajak jalan-jalan karena Ningsih nggak pernah di izinin jalan-jalan kecuali dengan Kak Juna dan Kak Tania. Kakak pikir Ningsih diam itu nggak sedang menahan sakit hatinya sendiri?" Wita mengeluarkan semua kekesalannya pada Noval tentang ketidak pekaan pria itu terhadap Ningsih. Bahkan ia tak peduli di mana sekarang mereka berada. Ia tahu bagaimana perasaan Ningsih selama ini, karena hanya dialah yang menjadi tong sampah curhatan sahabatnya itu.
Wita memilih masuk ke dalam Kafe, sekedar mengecek apa Ningsih masih di sana atau tidak. Namun nihil, ia sama sekali tak menemukan keberadaan sahabatnya itu.
__ADS_1
"kamu ke mana Si?" gumamnya penuh kekhawatiran.
Wita merasa bersalah. Harusnya tadi dia tak membiarkan Ningsih pergi menemui Noval sendirian. Harusnya ia tahu kalau akan berakhir tak baik seperti ini permasalahan di antara mereka.
Sementara di lain tempat, Noval masih berdiam di parkiran tersebut. Semua perkataan Wita berputar di otaknya. Benar apa yang dikatakan gadis itu. Selama ini, dia tak pernah memikirkan perasaan Ningsih. Ia sadar, Ningsih ragu memiliki hubungan lebih dengannya karena Noval sering berpacaran dengan gadis lain meski ia mengatakan mencintai Ningsih. Harusnya ia paham, walau Ningsih mengatakan 'tak apa-apa' setiap dia memperkenalkan pacar-pacarnya, sebenarnya gadis itu memendam kesakitannya sendiri. Karena mungkin dia tak merasa punya hak untuk melarang Noval. Harusnya selama ini Noval berusaha memperjuangkan Ningsih, juga meyakinkan Om Ata kalau dia bisa menjaga gadis itu. Ia menyesal, kenapa dirinya terlalu bodoh memahami gadis yang ia cintai.
"Maafin aku Si! maafin aku. Aku janji, aku akan memperjuangkan kamu mulai sekarang"
Gimana menurut kalian part ini?
__ADS_1
like, vote dan komennya jangan lupa😊