
Sejak percakapannya dengan Agung waktu itu, Juna mulai memusatkan perhatiannya pada pelajaran. Ia hanya sesekali mengunjungi SD Cempaka, hanya sekedar membeli kue dan langsung berpamitan. Juna berusaha menghilangkan bayangan sosok gadis kecil nan cantik itu dari matanya, meskipun sekuat apapun ia berusaha namun tak bisa juga.
"Kenapa wajah kamu kusut banget Jun? kalau lelah belajarnya ya berhenti dulu, lagian kan kamu juara kelas jadi udah dijamin lulus di SMA Gemintang" ujar Agung saat melihat wajah lelah Juna. tahu bukan hanya hal itu yang membuat Juna sekusut ini, ia yakin pasti sedikitnya menyangkut bocah SD itu. saat ini mereka jam kosong, gurunya lagi izin karena istrinya lagi melahirkan.
Juna menatap Agung tak bersemangat. Hampir saja Agung menyemburkan tawanya melihat wajah merana Juna, namun sekuat tenaga ia tahan. Jangan sampai Juna menonjoknya hanya karena tertawa pada saat mood cowok itu lagi jelek.
"Kenapa rindu bisa seberat ini sih Gung?" tanya Juna tiba-tiba. Tawa yang sedari tadi ditahan oleh Agung seketika menguar kuat. Sejak kapan Juna melow gini?
"Jun, Jun! Ada-ada aja sih! kalau rindu yah samperin" jawab Agung di sela tawanya.
"Gimana mau nyamperin Gung, kamu tahukan aku lagi mati-matian belajar biar bisa masuk SMA Gemintang. Kata Orang tua aku yah Gung, SMA Gemintang itu benar-benar SMA favorit, mereka benar-benar dukung aku masuk sana. Aku sih iya-iya aja, biar masa depan aku sama Sisi cerah juga" lagi-lagi Agung terbahak mendengar perkataan Juna. Agung yakin, Si sisi, sisi itu nggak kenal sama sekali dengan Juna.
__ADS_1
"Eh Jun, udah ngomongin masa depan aja! emang Sisi kenal sama kamu? kamukan seringnya cuma mandangin dari jauh, atau paling yah cuma ngobrol sama nenek penjual kue itu" ejek Agung.
Juna tersadar, benar juga yah! Sisi kan nggak kenal dia, walau Juna sudah jadi pencinta Sisi garis keras. Ia meletakkan kepalanya ke atas meja dengan lesu.
"Tuh kan, galau lagi!"
Juna tak menghiraukan perkataan Agung. Ia harus mencari cara bagaimana agar ia bisa saling mengenal dengan Sisi. Bel tanda istirahat membuat Juna menegakkan tibuhnya kembali. ia mengajak Agung ke kantin, namun saat menoleh ia mendengus karena Agung sudah tak berada di tempatnya. Pasti cowok itu sudah ngacir duluan ke kantin dan meninggalkan Juna.
"Dasar nggak setia kawan!" gerutu Juna, cowok itu kemudian melangkah ke kantin sendirian. beberapa sapaan yang ditunjukkan kepadanya hanya ia balas dengan senyum seadanya, sekadar menghargai. Juna memang tak suka mereka yang mencari perhatian padanya, namun setidaknya ia membalas sapaan mereka dengan senyum agar mereka tak tersinggung. Ini bukan munafik, namun ini adalah cara Juna menghargai orang-orang yang mengenalnya.
"Sialan kamu Jun! kalau aku mati tersedak gimana?" ucap Agung kesal.
__ADS_1
Juna mengangkat bahunya acuh. "siapa suruh ninggalin, nggak setia kawan amat!" balasnya.
Agung mendengus dengan wajah masam. " malas aku Jun, ngajak orang galau yang tiba-tiba jadi puitis kayak kamu".
Juna terkekeh pelan, tunggu aja kalau Agung jatuh cinta. Juna yakin dia pasti bakal merasakan berada di posisi Juna saat ini. Bahkan mungkin Agung akan lebih gila, cowok itu kan memang lebay. Juna aja yang kalem bisa jadi lebay, gimana dengan Agung nanti?
"Ckkk, suatu saat kamu bakal ngerasain Gung apa yang aku rasa" ujar Juna.
''nyumpahin yah?" tanya Agung, namun tatapannya mengejek. "nggak akan pernah Jun, kamunya aja yang lebay sampe galau-gakau kayak gitu" sambungnya.
Juna membalas senyuman Agung. "kita liat aja nanti!"
__ADS_1
**Untuk beberapa part ke depan masih flashback yah!! Dan tokoh-tokohnya aku masukin seorang demi seorang. jadi nggak langsung semua. Ini kan mulai dari awal mereka ketemu, jadi jangan bosan yah😊
Like, Vote dan komentarnya jangan lupa! kalian penyemangatku💕💕**