Sang Pengiring Pengantin

Sang Pengiring Pengantin
Lima Puluh Empat


__ADS_3

Wita terbelalak kaget karena mendengar pernyataan Noval. Ia memang sengaja mengikuti Ningsih dan Noval ke Taman tadi. Bukan bermaksud ingin menguping atau apa, Wita hanya ingin memastikan kalau Ningsih baik-baik saja. Tapi yang ia lihat sekarang membuatnya berang. Bagaimana mungkin Noval bersikeras untuk memperjuangkan istri orang? Dia sudah gila apa? Terlebih mengatakan kalimat cerai, di mana sebenarnya otak cowok itu?


Wita tetap memantau pertengkaran Ningsih dan Noval dengan was-was. Ia takut Noval berbuat lebih jauh, namun ia akhirnya mampu menghela nafas legah karena ketakutannya tak terjadi bahkan sampai Ningsih pergi meninggalkan Noval.


Karena di dorong rasa kesal luar biasa, Wita keluar dari persembunyiannya dan mendekati Noval yang masih mematung semenjak kepergian Ningsih.


"Kamu menguping pembicaraan aku dan Ningsih?" Tanya Noval dengan dingin saat menyadari kehadiran Wita di dekatnya.


Wita berdecih pelan. "Bukan urusan kamu aku nguping atau enggak. Yang jelas, menurut aku Kakak itu benar-benar gila tau nggak!"


Noval memandang Wita tajam. Baginya, hadis itu terlalu mencampuri urusannya dan Ningsih.


"Maksud kamu apa? Jangan terlalu ikut campur deh, urusan aku sama Ningsih!" Peringat Noval.

__ADS_1


Wita memasang wajah sinisnya. "Ningsih sahabat aku. Selama ini, ketika dia disakitin sama cowok brengsek playboy kayak Kakak dia selalu curhat ke aku. Nangisnya lari ke aku. Jadi, saat dia bahagia dan Kakak malah akan mengusiknya lagi, aku nggak akan tinggal diam!" Ujarnya tegas.


"Bahagia? Kamu yakin? Toh pernikahan mereka terjadi karena terpaksa! Jadi mana mungkin dia bahagia"


Wita berdecak kesal melihat wajah songong seniornya itu.


"Ningsih bahagia, itu yang dia katakan ke aku. Dia menemukan seseorang yang mencintainya dengan penuh rasa tanggung jawab, bukan seorang yang mengakunya cinta tapi punya pacar sana-sini" sindir Wita.


"Mana mungkin dia bahagia. Aku yakin, Ningsih berbohong soal itu. Dia pasti sampai sekarang masih mencintai aku" ujarnya bangga. Mati-matian ia mengendalikan emosinya, jangan sampai ia menonjok seorang perempuan. Terlebih itu sahabat Ningsih, bisa-bisa Ningsih membencinya.


"PE-DE!" cibir Wita.


"Udahlah Kak. Apa salahnya sih, biarin Ningsih bahagia. Selama ini dia itu selalu menderita" Wita menjeda kalimatnya sejenak.

__ADS_1


"Dulu dia mencintai seseorang yang katanya juga mencintai dia namun selalu gonta-ganti pasangan. Setelah beberapa saat Kakak mulai menghentikan kebiasaan itu, ia bahagia. Namun ia harus kembali kecewa saat Kakak nggak bisa menemaninya menjadi pendamping pengiring pengantin saat pernikahan Kak Juna, dan Kakak tahu? Ningsih saat itu sedih karena Kakak lebih memilih mendaki dan menghabiskan waktu bersama teman-teman Kakak, dan juga.....mantan Kakak" Noval terkejut mendengarnya. Salah satu dari teman seangkatannya memang adalah mantan pacarnya saat SMA dulu, makanya Ningsih melarang Noval pergi karena takut Noval akan kembali menjalin hubungan dengan mantan kekasihnya itu.


"Lalu ditambah lagi, saat hari pernikahan ternyata malah ia yang menjadi pengantinya. Apa Kakak pikir Ningsih nggak sakit? Setelah pernikahan mereka, ia dilema memilih Kakak atau suaminya, Kakak pikir itu nggak membuat dia tertekan?" Noval terdiam mendengarnya.


"Dan sekarang, saat Ningsih memutuskan menerima pernikahannya, ia bahagia Kak. Namun sayangnya nggak lama, karena bagaimanapun dia harus menyelesaikan hubungannya dengan kakak secara baik-baik, taoi respon Kakak di luar dugaan. Apa Kakak nggak lihat kalau tadi Ningsih ketakutan dengan kelakuan Kakak?" sepertinya nyali Wita perlu diacungi jempol, karena ini kedua kalinya dia menceramahi Noval.


"Kak! Biarin Ningsih bahagia. Selama ini, terlalu banyak penderitaannya Kak! Kakak tega ngancurin kebahagiaannya dia untuk ke sekian kali?" Pertanyaan Wita mampu menohok hatinya.


Benar kata Wita. Selama ini Ningsih selalu merasakan sakit saat bersamanya. Ia selalu menyia-nyiakan gadis itu dulu. Lalu saat dia bahagia, apa ia sanggup merenggut kebahagiaan Ningsih lagi?


Tapi.... bagaimana dengan hatinya? Ia menyesal menyia-nyiakan kesempatannya bersama Ningsih dulu. Ia mencintai Ningsih, sangat! Hanya saja Noval terlalu bodoh memahami gadis itu selama ini. Tanpa berkata apapun, ia pergi meninggalkan Wita.


gimana? greget nggak sama sikap Noval?

__ADS_1


__ADS_2