Sang Pengiring Pengantin

Sang Pengiring Pengantin
Tujuh Puluh Lima


__ADS_3

Like, vote dan komennya jangan lupa.


jangan lupa juga baca ceritaku yang lain, dijamin nggak kalah seru dan romantisnya dari kisah ini😊


Ningsih saat ini tengah menatap bayangnya di depan kaca. Hari ini ia tak ada jadwal kuliah, kebetulan Tania mengajaknya menemani wanita itu memeriksa kandungan, dan tentu saja Ningsih langsung setuju.


Ningsih mengunci rumahnya, setelahnya ia menuju ke depan gerbang memasuki Taksi pesanannya yang memang sudah datang. Taksi tersebut kemudian melaju menuju rumah Tania. Wanita itu memang belum kembali ke rumah orang tuanya, rencananya ia baru pindahan besok.


Sesampainya di rumah Tania, Ningsih melihat wanita itu telah menunggu di depan rumah. Tania yang melihat Taksi yang berhenti di depan rumahnya langsung yakin kalau itu Ningsih. Ia mendekat, memastikan.


"kamu udah izin sama Juna?" tanya Tania, sambil memasuki taksi tersebut.


"iya! udah kok" jawab Ningsih.


"Kakak besok jadi pindahan?"


Tania mengangguk. "Kenapa?"


Ningsih menggeleng. "Aku nggak bisa bantuin Kakak dong besok! aku kan masuk kuliah" ujar Ningsih. Tania tersenyum "nggak apa-apa kok. Selesai kuliah kan kamu bisa ke rumah Mama. Bantuin Kakak beres-beres barang di sana"


"iya juga sih!" sepanjang jalan, mereka isi dengan berbagai macam obrolan, baik yang penting maupun yang tidak. sesekali mereka tertawa, membuat si supit Taksi menatap kagum keakraban dua orang wanita berbeda usia itu.


Sesampainya di Rumah Sakit, Ningsih dan Tania langsung menuju ruangan Dokter Kandungan.


"Permisi, selamat siang Dokter Anggita!" salam Tania saat sampai.


"siang Tania! Ayo, silahkan masuk!" Jawab si Dokter ramah.


"hari ini kamu datang sama siapa?" tanya dr. Anggita.

__ADS_1


"sama sepupu saya, Dok!" jawab Tania. Rupanya pasian dan Dokter itu sangatlah akrab.


Tania dan Ningsih duduk berhadapan dengan dr. Anggita. Dokter tersebut memperhatikan wajah Ningsih, sepertinya ia pernah melihat wajah sepupu Tania ini.


"sepertinya saya pernah lihat kamu, tapi di mana yah? apa kita pernah ketemu?" Tanya dr. Anggita.


Ningsih menggeleng pelan. Seingatnya ia tak pernah bertemu Dokter ini. Anggita kemudian menjentikkan jarinya saat ia ingat gadis cantik di depannya ini "iya! aku ingat. waktu itu kamu masuk Rumah Sakit sini, kamu yang kepeleset itukan, yang keguguran?" ujar dr. Anggita bersemangat. Dokter itu memang terkenal sangat ramah, dan juga asik, jadi maklum jika ia bertanya seolah akrab seperti itu.


Tania dan Ningsih saling menatap penuh tanya. keguguran? Apa maksudnya?


"Maksud Dokter? saya memang pernah masuk Rumah Sakit ini, dan sebabnya juga karema terpeleset di kamar mandi. Tapi keguguran yang Dokter katakan saya tidak mengerti" jelas Ningsih, seketika membuat raut wajah Anggita memucat.


'jadi dia belum tahu?' batin Anggita.


"Dokter?!" seru Ningsih saat melihat perubaham di wajah Anggita.


"Aa..ah, iya! Mungkin...itu bb..bukan kamu! ya, saya pasti salah mengenali. Maklum, pasien saya banyak dan pasti ada beberapa orang yang memiliki wajah mirip" ujar Anggita gugup.


"Ya sudah Tania, saya akan segera periksa kamu. Silahkan berbaring di sana" ujarnya sambil menunjuk brangkar yang tersedia di ruangannya.


Tania menurut, sementara Ningsih tak berniat bertanya lebih jauh lagi masalah tadi. Biarkan ia menanyakan langsung pada suaminya. Maskipun kata keguguran itu sangat mengganggu pemikirannya, tapi ia berusaha menahan rasa penasaran itu, setidaknya sampai ia kembali ke rumah.


Tania memperhatikan wajah Ningsih yang sedari tadi diam. Saat ini mereka sudah berada di dalam Taksi, menuju pulang. Sedari tadi gadis itu tak membuka suara sama sekali. Tania yakin, kalau itu berkaitan dengan ucapan dr. Anggita tadi.


"Sisi pamit yah, Kak" ujar Ningsih saat Tania sudah turun dari taksi. mendapat anggukan dari Tania, Ningsih langsung menyuruh Supir taksi itu melajukan Mobilnya.


Ningsih mondar-mandir di ruang tengah. Ia tak sabar menunggu kedatangan Juna, lebih tepatnya tak sabar mengajukan pertanyaan yang berada di otaknya itu pada sang suami.


Suara deruman Mobil milik Juna membuat Ningsih langsung bernafas legah. Ia berlari membuka pintu, menyambut kedatangan suaminya itu seperti biasa.

__ADS_1


Setelah menyiapkan air untuk Juna mandi, juga pakaian ganti, Ningsih turun ke bawah untuk menyiapkan makan malam mereka. Ia berniat, setelah makan malam barulah ia akan bertanya. Jujur, Ningsih sebenarnya juga kasihan melihat raut lelah di wajah suaminya itu.


"Kak, selesai makan ada yang mau aku omongin" ujarnya. Juna mengangguk pelan. Sebenarnya Juna penasaran dan merasa ada sesuatu yang terjadi. Pasalnya sedari tadi, walau Ningsih tetap melakukan kebiasaannya, yaitu menyambut Juna dan menyiapkan segala keperluan pria itu, tapi istrinya itu lebih banyak diam. Dan Juna sangat hapal, kalau Ningsih jadi pendiam berarti ada yang gadis itu pikirkan.


Setelah makan, keduanya duduk di ruang tengah. Dan lagi-lagi, tidak seperti biasanya, di mana Ningsih akan duduk sambil menyandarkan kepalanya di dada Juna, kali ini gadis itu memilih memberi jarak di antara mereka.


"katanya mau ngomong, ada apa?" tanya Juna penasaran.


"Sisi mau tanya, apa masih ada sesuatu yang Kakak rahasiain dari Sisi?"


Juna menelan ludahnya kasar, mendengar pertanyaan Ningsih. entah mengapa, ia yakin kalau pertanyaan itu akan berakhir tak baik.


"kenapa tiba-tiba kamu nanya gitu?"


Ningsih menghela nafas pelan. "tadi di rumah sakit aku ketemu seseorang" Ningsih memperhatikan wajah Juna.


"Dokter kandungan yang memeriksa Kak Tania" sambungnya lagi.


"terus?" tanya Juna tak mengerti.


"dia bilang aku pernah keguguran, apa itu benar?"


DUUAAR!!


seperti di sambar petir, Juna langsung memucat mendengar hal itu. Ia masih belum siap melihat Ningsih yang akan terpukul mendengar kenyataannya. Juna juga masih belum siap, melihat Ningsih yang akan menyalahkan dirinya sendiri. Kenapa harus secepat ini terungkapnya? Ningsih baru saja bahagia, karena terlepas dari rasa bersalahnya pada Tania. Mana mungkin Juna tega kembali menyaksikan raut bersalah Ningsih pada anak mereka yang tak bisa diselamatkam itu? Juna harus jawab apa?


Menurut readers, Juna harus jawab apa?


Bahas anak Tania masih tertunda yah, maaf🙏

__ADS_1


tapi akan segera terungkap kok, tenang aja😊


__ADS_2