
Baca karyaku yang lain, salah satunya sang pengiring pengantin 2. dan satu lagi, jangan lupa Like, Vote serta komennya juga😊
Tania membuka pintu rumahnya saat seseorang mengetuknya dari luar. Di hadapannya berdiri seorang pri dewasa yang tak lain adalah Ayah kandung dari anaknya. Awalnya, Tania sempat ragu mempercayai itu. Ia takut semuanya hanya akal-akalan Ardi. Sayangnya, Pria itu menyerahkan sebuah rekaman CCTV yang memperlihatkan keduanya yang sedang memasuki kamar Hotel tersebut.
"Masuk!" ujar Tania. Hubungan keduanya jelas saja tak sedekat dulu. Banyak kejadian yang membuat mereka merasakan canggung akan kehadiran satu sama lain, meski begitu Tania tetap mengizinkan Bimo bertemu dengan sang Anak.
"Bita udah tidur?" tanya Bimo sambil mengikuti langkah Tania.
"Belum. Dia ada di ruang tengah"
Bita, Nama panggilan si Baby tampan itu. Lebih tepatnya, Bintang Saputra Arsena nama dari bayi itu. Bita, kalian tentu tahu apa maksud dari panggilan singkat itu. Ningsilah yang mencetuskan nama tersebut sebagai panggilan, ia berharap kedua orang tua Bayi itu akan segera bersatu.
"Waaaah!!! Anak Papa baru habis mandi yah? wangi banget sih!" Sebagaimana layaknya ikatan akan seorang Ayah, Bimo tak memerlukan waktu yang lama mengakrabkan diri berada di posisi tersebut. Tania yang melihat hal tersebut hanya mempu menyembunyikan senyumnya. Ia bingung, harus menyikapi seperti apa keadaan yang mereka jalani saat ini.
__ADS_1
Tania tak berharap Bimo akan menikahinya, yang terpenting baginya adalah Bimo bisa mengakrabkan diri dengan Bita, anaknya. Tania tahu semua berawal dari kesalahannya, maka dari itu Tania berhenti untuk mengharapkan sesuatu yang mungkin akan membuatnya kecewa di kemudian hari.
"Eh, Bimo? Baru datang Nak?" Tanya Adelia. Bimo menoleh pada perempuan paruh bayah yang baru datang dari arah dapur tersebut.
"Iya Tante" jawabnya sambil beranjak mencium tangan Ibu dari Tania.
"Tania, kok Papanya Bita nggak dibuatin minum?" tegur Adelia. Tania kemudian meringis pelan dan langsung berlalu memasuki dapur untuk membuat minum.
Sepeninggal Tania, Adelia menghela nafas kasar. "Apa kamu sudah memikirkan jalan yang akan kalian ambil nanti?" Tanya Adelia tiba-tiba membuat kegiatan Bimo yang sedang menggoda Bita yang berada di gendongannya terhenti.
"Mungkin saya salah hanya membicarakan ini pada salah satu pihak saja. Hhhaah!" Adelia kembali membuang nafas dengan kasar. Perkataannya terhenti sejenak. Wanita itu menghapus air matanya yang telah mengembun di sudut matanya yang tak menampakkan keriput walau sudah resmi menjadi seorang Nenek.
"Tania, Walau Sisi memaafkannya, tetap saja dia merasa tertekan dan kehilangan kepercayaan terhadap dirinya sendiri. Dia tak lagi berani berharap, ia takut akan melakukan kesalahan untuk kedua kalinya. Sebenarnya dia.....sangat rapuh!" air mata Adelia mengalir begitu saja dari matanya mengingat sang putri.
__ADS_1
"Kamu tahu? semenjak ia kembali ke rumah ini. Ia sangat jarang keluar rumah karena gunjingan tetangga. Itu hal yang wajar. karena bagaimanapun, Tania kabur dari pernikahannya dan saat pulang ia tengah hamil. Yang saya takutkan.....Bita akan mengalami hal yang sama dengan Ibunya. Walau kamu sering menghabiskan waktu dengan dia, saya tahu tak semua orang akan memahami hal itu. Maksud saya.....kalian memiliki anak tapi tanpa ikatan. Itu pasti akan sangat berat"
Bimo merasa hatinya sesak mendengar perkataan Ibunya Tania. Ini juga kesalahannya. Andai ia berusaha lebih keras lagi mencari gadis yang ditidurinya itu, pasti semuanya tak akan seperti ini. Andai ia berpikiran untuk melihat CCTV, pasti akan dengan mudah ia menemukannya. Bodohnya dia! Dia hanya tahu di kamar tersebut tak memiliki CCTV, memang benar. Tapi di depan pintunya ada, dan ia tak berpikir sampai ke sana.
Tania yang kini tengah membawa minuman, berdiri mematung di pintu masuk menuju ruang tengah. Ia mendengar semua perkataan sang Ibu pada Bimo. Tania sakit hati. Ia tak ingin dikasihani. Tania tahu, tak ada lagi binar cinta di mata itu. Makanya selama ini Tania takut berharap. Dengan langkah tergesa, ia mendekati Bimo dan Sang Mama.
"Apa maksud Mama bicara kayak gitu? Ma! Tania sudah bilang, Tania nggak apa-apa. Mama cerita seperti itu ke Bimo apa gunanya? Mama mau Tania hidup dalam tatapan kasihan orang lain? Ma! Tania sudah bilang berkali-kali, Seperti ini sudah cukup membuat Tania bahagia"
Adelia dan Bimo terkejut akan kedatangan Tania. Mereka tak menyangka Tania mendengar semuanya.
"Sayang, Mama nggak ber...."
"Cukup Ma! Tania nggak butuh di kasihani. Tania kecewa sama Mama!" ujarnya sebelum pergi meninggalkan dua orang tersebut yang tengah termenung dalam, juga seorang Bayi yang sudah tertidur di pangkuan sang Ayah.
__ADS_1
Bagaimana? Sedihnya udah dapat belum? Jangan lupa tinggalkan Jejaknya yah😊