
"ceritain semuanya ke Kakak, dari awal" ujar Noval setelah lama mereka berdiam. Saat ini mereka berada di taman fakultas yang kebetulan sedang sunyi. Setidaknya, tempat ini menurut keduanya tempat paling aman membahas masalah ini. Ningsihlah yang sebenarnya memilih tempat ini, karena menghindari kejadian seperti kemarin terulang kembali.
"aku menggantikan posisi Kak Tania yang kabur entah ke mana di hari pernikahan itu"
"kenapa kamu nggak menolak?" tanya Noval berusaha setenang mungkin.
"gimana mau nolak, bahkan aku tersadar kalau hari itu menjadi pernikahan aku setelah mendengar namaku yang disebut saat Ijab Qabul" ucapnya jujur. Ningsih menoleh pada Noval yang berada di sampingnya, penasaran dengan ekspresi pria itu setelah mendengar perkataannya.
Ningsih merasa was-was saat melihat wajah Noval yang hanya menampilkan ekspresi datar. Ia takut, Noval akan kembali marah seperti kemarin.
"jadi kamu menikah dengan Mas Juna karena terpaksa? tanpa kamu tahu?" tanya Noval, Ningsih mengangguk.
Noval tersenyum membuat Ningsih menatap pria itu bingung. "kalau begitu, aku minta maaf sama kamu karena tuduhan aku kemarin. Jujur setelah mendengar semua perkataan Wita kemarin, aku sadar selama ini aku tak pernah peka dengan keadaan kamu. Bahkan aku yakin pernikahan itu membuat kamu tertekan, tapi aku malah menambah buruk dengan menuduhmu yang tidak-tidak" Ningsih dengan setia mendengarkan ucapan Noval.
"aku juga minta maaf selama ini selalu nyakitin kamu, bahkan aku baru tahu kalau kamu sering menangis karena perbuatan aku melalui Wita kemarin" Ningsih terkejut dengan perkataan Noval. Jadi, kemarin Wita menceritakan semuanya pada Noval?
Noval meraih tangan Ningsih, lalu menggenggamnya. Ningsih ingin melepas karena merasa tak nyaman, namun Noval tetap menahannya.
__ADS_1
"Kakak benar-benar minta maaf Si! Kasih Kakak kesempatan untuk memperbaiki semuanya, menebus semua kesalahan Kakak ke kamu selama ini" Ningsih bergerak semakin tak nyaman. entahlah! Ningsih merasa kalimat Noval akan berakhir tak baik. Ia berdoa dalam hati, semoga saja ini hanya perasaannya.
"maksud Kakak apa?" ia bertanya pelan dan terdengar ragu.
Noval tersenyum "Kasih Kakak kesempatan. Kali ini, aku janji nggak akan menyia-nyiakan semuanya. Aku akan memperjuangkan kamu, kamu cukup diam di tempat menunggu hasil perjuangan Kakak" Ningsih tersentak. Sekuat tenaga ia menarik tangannya dari genggaman Noval, dan berhasil!
Ia menatap Noval dengan pandangan tak percaya. Baru saja ia ingin membuka suara, Noval memotongnya "kamu mau Kakak setia ke kamu kan? Kamu bisa lihat akhir-akhir ini Kakak nggak dekat dengan perempuan manapun selain kamu?"
"Kak..." Noval kembali memotong ucaoan Ningsih. "kamu ingin Kakak ngeyakinin Papa kamu kan? ayo mulai sekarang kita berjuang buat ngeyakinin Om Ata"
"Apa? kamu mau Kakak ngebuktiin dengan cara apa, hmm? bilang sama Kakak, biar Kakak..."
"KAK!" bentak Ningsih membuat Noval menghentikan kalimatnya.
"kenapa?" ia bertanya sambil tersenyum lembut.
"Kakak harusnya sadar, kalau Kakak udah terlambat. bahkan sangat terlambat! Aku udah menikah Kak, semuanya udah berbeda" Ningsih memandang Noval bingung karena cowok itu tetap menpertahankan senyumannya.
__ADS_1
"terus kenapa? pernikahan itu karena terpaksa kan? kamu nggak mencintai Juna kan?"
Ningsih terdiam mendengar pertanyaan itu. melihat keterdiaman Ningsih, Noval semakin yakin kalau Ningsih tak mencintai Juna.
"Kakak akan buat orang tua kamu yakin untuk melepas kamu pada Kakak, dan setelahnya kamu bisa meminta cerai pada..."
"CUKUP!" potong Ningsih. Ia menatap Noval tak percaya, apa ia pikir pernikahan itu hanya sebuah permainan?
"Aku emang awalnya menjalani pernikahan itu karena terpaksa, tapi semakin lama aku semakin terbiasa dengan semuanya. Aku bahkan sudah mencintai Kak Juna"
Noval tersenyum sinis. "kamu pikir aku percaya? kamu pasti cuma bohongkan?" Ningsih menggeleng sebagai jawaban.
"Ckkk. Meski sekalipun perkataan kamu benar, aku nggak akan menyerah. Aku yakin nama aku sudah sangat lama menempati hati kamu, jadi bukan hal yang sulit untuk membuat nama Juna kembali tergantikan dengan namaku di sana" ujarnya sambil tertawa sinis.
Ningsih memandangi sosok di depannya dengan pandangan tak percaya. Ia sama sekali tak mengenali sosok Noval saat ini. Baginya Noval yang saat ini terlihat menakutkan dengan senyum sinisnya.
"Kak!!" Ningsih memanggil Noval dengan pelan. Perlahan ia mundur karena ketakutan. Noval.... sudah berubah! itu yang di pikirannya. Saat ini cowok itu terlihat seperti penjahat di matanya. Akhirnya ia memutuskan berlari meninggalkan Noval, pria yang pernah dicintainya.
__ADS_1