
Jangan lupa baca ceritaku yang lain😊
Semenjak mendengar obrolan Mamanya dan Bimo, Tania selalu berusaha menghindar dari Bimo. Setiap Bimo datang menjenguk sang anak, ia hanya akan menjumpai Adelia dan Bita saja yang seperti memang sengaja menunggunya di ruang tengah. Bimo merasa bingung harus mengambil sikap apa. Ingin bertanya pada Adelia, tapi Bimo takut wanita tersebut salah sangka.
"Kamu.....pasti bingung yah, kenapa Tania selalu nggak muncul setiap kamu datang?" pertanyaan tiba-tiba dari Adelia membuat Bimo tersentak dari lamunannya.
"Hah? I...iyyya Tante. Kalau boleh tahu, apa ini gara-gara pembicaraan kita waktu itu?"
Adelia mengangguk. "iya. Bahkan, Tante juga ikut dia diamkan selama tiga hari" jawab Adelia.
"Tante, apa......jika aku mau menikahi Tania dia akan mau? Maksud aku....aku akan kembali belajar menerima dan mencintai dia seperti dulu"
Adelia menatap Bimo lekat. "Kamu serius dengan ucapan kamu?"
"Iya Tante. Aku berusaha merenungi masalah itu beberapa hari ini. Dan menurut aku....itu adalah jalan yang terbaik. Cinta bisa tumbuh jika kita saling ikhlas menerima dan juga saling membuka diri satu sama lain" ucapnya.
"Nak, jujur Tante sangat senang kalau kamu berpikiran seperti itu. cuma, kamu harus berusaha keras meyakinkan Tania. Karena tante tahu, dia seolah putus asa akan takdirnya. Dia terlalu tenggelam dalam rasa bersalahnya pada Sisi. Jadi Tante harap, kamu mau berjuang meyakinkan dia" Mata Adelia berkaca-kaca mengingat keadaan anaknya yang tak baik-baik saja itu.
__ADS_1
"Inshaa Allah, Tante! Dengan restu dari Tante, semoga Tania cepat luluh" ujar Bimo yakin. Adelia mengangguk, dalam hati ia berdoa semoga Putrinya segera mendapatkan kebahagiaannya.
"Kalau begitu, apa saya bisa menemui Tania tante?"
Adelia berpikir sebentar, kalau dia memanggil Tania turun menemui Bimo, ia yakin pasti wanita itu tak akan mau. "Gini aja Bim, kamu temui aja Tania di kamarnya. Kamu ketuk pintunya, dan jangan bersuara dulu sebelum dibuka. Kalau dia keluar, kamu manfaatin aja tuh buat nahan dia untuk ngomong" usul Adelia.
Bimo terlihat mempertimbangkan. "Nggak apa-apa emangnya Tante?" tanya Bimo ragu.
"Nggak apa-apa. Tante percaya kamu nggak bakal ngapa-ngapain Tania" jawab Adelia.
"Tapi kan sekarang buktinya ada Bita Tante gara-gara Bimo ngapa-ngapain anak Tante dulu" canda Bimo.
"Hahahaha. Mana berani saya Tante, bisa-bisa keluar dari sini kepala saya udah nggak terpasang di badan" keduanya kemudian tertawa kembali.
"Sudah sana, temuin Tania! Buat dia yakin kalau kamu benar-benar tulus ingin bahagiain dia" Adelia mengambil alih Bita yang berada di gendongan Bimo. Untung saja Bayi itu sedang tidur, jadi dia nggak dengar omongan ngaco Nenek dan Papanya itu.
Bimo berdiri di hadapan pintu kamar Tania. Ia menghela nafas terlebih dahulu sebelum mengetuk benda persegi panjang itu.
__ADS_1
"Tunggu Ma!" teriak Tania dari dalam.
Pintu terbuka beberapa detik setelah teriakan itu, menampakkan Tania yang syok karena melihat siapa yang mengetuk pintunya.
Tania bermaksud kembali menutup pintu tersebut, namun kalah cepat dengan tindakan Bimo yang menahan pintu dengan tangannya.
"Cukup menghindarnya Tan. Kita perlu bicara" ujar Bimo tegas.
"Nggak ada yang perlu dibicarain. Lagian, aku nggak menghindar kok" balas Tania berusaha menghilangkan suaranya yang gemetar.
"Kalau kamu nggak menghindar, kita harus bicara" Bimo menerobos masuk ke dalam kamar Tania. Dengan santainya ia mendudukkan diri di sofa. Tania mendengus, kenapa laki-laki ini berubah jadi seenaknya seperti ini?
"Mau bicara apa?" tanya tania malas.
"Oke. To the point aja, yang pertama aku kangen sama kamu. Yang ke dua, aku mau kita menikah segera. Dan yang ketiga, aku nggak menerima penolakan dalam bentuk apapun. Dan yang paling utama, aku ngelakuin ini bukan atas dasar kasihan, tapi benar-benar tulus dari hati aku "
Wkwkwkwk. Bimo ternyata langsung ngegas yah😆 Kira-kira Tania bakal nerima nggak yah?
__ADS_1
Vote, like dan komennya jangan lupa dan nggak pake penolakan dalam bentuk apapun!