Sang Pengiring Pengantin

Sang Pengiring Pengantin
Dua Puluh Delapan


__ADS_3

Hari ini sepertinya adalah hari keberuntungan bagi Juna. Di mana saat ini, Sekolahnya di pulangkan dengan cepat karena guru-guru akan mengadakan rapat mengenai Ujian akhir bagi Kelas IX dan juga ujian kenaikan kelas bagi kelas XII dan XIII.


Dengan wajah berseri, Juna melajukan motornya ke arah SDN Cempaka. Bahkan ia sama sekali tak menghiraukan Agung yang sedari tadi meneriaki namanya untuk sekedar menumpang pulang.


Juna menghentikan motornya di dekat tempat jualan Nenek Ija--Nenek penjual Kue itu. Sekitar lima menit lagi Bel istirahat untuk anak SD akan bergema, dan Juna sudah tak sabar akan hal itu. Ia sudah membayangkan bagaimana Nenek Ija nanti akan memperkenalkannya dengan Sisi.


Juna menuruni motornya, lalu mendekat ke arah Nenek Ija yang sedang menawarkan kue-kuenya pada beberapa pejalan kaki yang lewat.


"Assalaamu'alaikum, Nek!" Sapanya pada nenek Ija.


Wanita yang usianya sudah senja itu menoleh, ia tersenyum saat mendapati Juna yang ternyata menyapanya.


"Wa'alaikumsalaam, Nak!" jawabnya. Juna mengambil tangan Nenek Ija, lalu menciumnya sebagai tanda hormatnya pada orang tua.


"Udah lama Nak Juna? Maaf yah nenek sampai nggak sadar, keasikan nawarin ke orang-orang yang lewat!" ujarnya merasa bersalah.


Juna tersenyum. "nggak apa-apa kok Nek. Malahan Juna senang banget, liat interaksi Nenek sama pembeli tadi. Jadi Juna nunggu mereka pergi dulu, baru mendekat" Ya, Juna tadi memilih menunggu beberapa menit, memperhatikan bagaimana ramahnya nenek Ija saat menawarkan dagangannya.


"Ya udah, duduk sini dulu Nak!" seru nenek Ija sambil menunjuk ke arah bangku tempatnya biasa beristirahat. Bangku tersebut berada di bawah pohon yang lumayan rindang, letaknya juga tidak terlalu dekat dengan trotoar, jadi tidak akan sampai mengganggu para pejalan kaki.


"Iya, nek!" Juna mengikuti langkah nenek Ija, lalu duduk di samping nenek tersebut yang saat ini sedang mengelap keringatnya dengan handuk kecil yang sudah kelihatan lusuh.

__ADS_1


Sejujurnya, Juna benar-benar prihatin dengan kehidupan nenek Ija. Nenek Ija mempunyai tiga cucu yang dirawatnya. Sebenarnya, Nenek Ija adalah Janda tua yang tak memiliki anak. Tiga cucu yang saat ini bersamanya adalah anak jalanan yang ia tampung di gubuk tuanya. Setidaknya, itulah cerita yang Juna tahu sendiri dari mulut Nenek Ija di pertemuan mereka yang sudah beberapa kali itu.


"Nak Juna nggak Sekolah?" tanya Nenek Ija.


Juna menggeleng pelan "Dipulangin cepat Nek! Guru-guru lagi rapat" jawabnya.


"oooh, berarti Nenek hari ini bisa ngenalin Nak Juna sama Sisi, cucu nenek. Sisi selalu penaran tahu, kalau Nenek ceritain tentang kamu" ujar Nenek Ija sambil terkekeh pelan.


"Oh, ya?" tanya Juna sedikit tak percaya.


Nenek Ija mengangguk mantap. "Iya Nak, katanya gini 'iiih, Sisi penasaran tahu Nek! Kakak baik hatinya ganteng enggak Nek, kayak Papa Sisi? kata Papa kan kalau Papa jadi ganteng karena Papa suka berbuat baik?' gitu katanya" Kata Nenek Ija sambil meniru cara bicara Sisi.


Juna tertawa, ia benar-benar gemas membayangkan ekspresi gadis kecil itu saat berbicara. Coba aja kalau mereka sudah akrab, Juna pasti akan mencubit pipi imutnya itu sampai puas.


"NENEEEKKK!!" teriaknya sambil berlari. Gadis kecil itu langsung menghambur ke pelukan Nenek Ija saat sampai di tempat tersebut.


"Sisi kangen, Nek!" katanya masih memeluk si Nenek.


"Oh yah? kangennya sebesar apa emang?" tanya Nenek Ija menggoda.


"Nggak tahu, Sisi nggak bisa ngukur" jawabnya sambil cekikikan di pelukan nenek Ija.

__ADS_1


Juna tersenyum kecil, andaiiii aja ia akrab sama Sisi. Pasti dia akan langsung menarik gadis menggemaskan itu ke pelukannya. Juna menggelengkan kepalanya pelan, apa-apaan pemikirannya ini!


"Lepas dulu Nak, Nenek mau ngenalin kamu sama seseorang!" kata Nenek Ija pada Sisi. Sisi melepaskan pelukannya, lalu mendongak menatap bingung pada Nenek Ija.


"Siapa Nek?"


Nenek Ija menunjuk ke arah Juna dengan dagunya, "Tuh!" Sisi mengikuti arah tersebut, namun ia memandang Juna bingung.


"siapa Nek?" Tanyanya kembali sambil memandang ke arah Nenek Ija.


"Kakak baik hati yang Nenek ceritain" jawab si Nenek. Sisi tersenyum senang, dengan riang ia mendekat ke arah Juna.


"Kakak, Kakak yang sering borong kue Nenek aku yah?" ia bertanya saat sampai.


Juna berjongkok, menyamakan tingginya dengan Sisi. "Iya" jawabnya sambil tersenyum.


"Makasih yah Kak. Karena Kakak sering beli kue Nenek aku, adik-adik aku nggak kelaparan lagi. Biasanya kalau jualan nenek nggak habis, mereka nggak bisa beli nasi yang banyak untuk makan" ujarnya polos.


Hati Juna terenyuh. Walau masih kecil dan hidup enak, namun Sisi bisa memahami apa yang anak-anak jalanan rasakan hanya dengan mendengarkan cerita tentang mereka atau sekedar melihatnya langsung.


"Hmmm. Mulai sekarang kamu tenang aja, Kakak akan selalu memborong kue-kue Nenek Ija sampai habis. Biar bisa Kakak bagiin ke teman-teman Kakak di Sekolah. Kata mereka kan kue Nenek Ija enak" ucap Juna sambil membelai rambut halus gadis kecil itu.

__ADS_1


Juna tersentak kaget karena tanpa di duga Sisi menyentuh pipinya. Juna mati-matian berusaha mengontrol jantungnya yang berdetak kencang, berbeda dengan biasanya.


"Ternyata benar kata Papa. Kalau kita berbuat baik, kita akan memiliki wajah yang tampan kayak Papa atau cantik kayak Mama" katanya sambil tertawa polos. Juna terkekeh, Astaga! Bisa-bisanya ia naksir berat sama Sisi yang notabenenya masih anak polos. "Buktinya Kakak ganteng banget!" Dan Juna benar-benar merasa melayang.


__ADS_2